Friday, August 5, 2016

4 Cara Menarik Rezeki yang Berkah untuk Keluarga

Mungkin di antara anda ada yang bertanya-tanya kalau blog ini adalah blog tentang parenting, kenapa harus membahas soal rezeki?

Apa ada hubungannya?

Jelas, ada.


Ketika kita membahas tentang bagaimana membentuk anak yang berkepribadian baik, maka hal ini tidak akan lepas dari bagaimana karakter atau kepribadian orangtuanya.

Dan ketika kita membahas tentang kepribadian dan sifat seseorang, maka hal ini tidak bisa lepas dari bagaimana pola konsumsi atau makanan yang masuk ke dalam tubuh orang tersebut.

Dr. Alexis Carrrel, seorang ahli transplantasi organ tubuh manusia dalam sebuah studinya mengatakan,

“Pengaruh dari senyawa kimia yang ada di dalam makanan terhadap pikiran manusia belum diketahui secara tepat, karena belum pernah dilakukan penelitian secara memadai.

Namun tidak diragukan lagi bahwa perasaan manusia sangat dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas makanan yang dikonsumsinya.”

Jadi secara kronologis,

makanan akan membangun perasaan seseorang.

Perasaan ini kemudian membentuk cara berpikirnya.

Dan cara berpikir ini akan berpengaruh pada cara dia bertindak.

Dalam hal ini berarti cara dia mendidik anak-anak dan keluarganya.

Sementara dari sisi agama, Rasulullah sudah pernah mengingatkan,

“Dan makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram, dan diberi makan dengan makanan yang haram. Maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan doanya?”
(Diriwayatkan oleh Imam Muslim dengan sanad yang shahih)


Keharaman menghilangkan keberkahan

Secara sederhana, kata “berkah” bisa kita definisikan dengan “sesuatu yang mengandung kebaikan atau manfaat yang banyak”.

Jika dihubungkan dengan dunia parenting,

maka mustahil kita memperoleh anak-anak yang baik dan keluarga yang tenteram-harmonis jika apa yang dikonsumsi oleh keluarga kita tidak mengandung keberkahan,

karena bercampur dengan rezeki yang haram.

Maka sebagai seorang muslim - sekaligus orangtua - yang mendambakan anak-anak yang tumbuh sebagai pribadi yang baik,

hal yang harus dilakukan adalah mengupayakan rezeki yang berkah untuk anak dan keluarga kita.

Ini adalah sesuatu yang wajib diprioritaskan.

Hanya masalahnya,

rezeki yang berkah dan rezeki yang tidak berkah,

ia tidak bisa dilihat secara kasat mata. Ia hanya bisa dirasakan dengan rasa dan hati nurani.

Sehingga bisa saja sifat berkah itu terdapat pada jumlah rezeki yang sedikit. Bisa juga pendapatannya melimpah namun tidak ada nilai manfaat di dalamnya.

Akan tetapi, ini yang perlu dicermati,

meski rezeki yang tidak berkah itu tidak bisa dilihat secara langsung, namun ada beberapa tanda yang bisa kita digunakan untuk mendeteksinya.

Saya mendapatkan setidaknya ada 5 ciri-ciri harta yang tidak berkah.

Tanda rezeki tidak berkah itu di antaranya adalah:


1. Cepat habis


Keberkahan itu berbanding lurus dengan kecukupan.

Jadi ketika suatu harta jauh dari berkah, maka ia akan mudah sekali habis tanpa meninggalkan manfaat yang berarti.

Kita mungkin pernah mengalami situasi dimana gajian baru kemarin tapi tiba-tiba sekarang sudah habis, dan kita tidak sadar digunakan untuk apa saja uang tersebut.

Jika hal seperti sering terjadi, coba ingat-ingat lagi barangkali ada hal-hal yang kita lakukan yang membuat Sang Pemberi Rezeki tidak ridho dengan kita.

2. Membuat gelisah


Karena berasal dari Dzat yang Maha Suci, maka keberkahan punya korelasi dengan ketenangan.

Kita sudah singgung tadi bahwa berkah-tidaknya sebuah rezeki bisa dirasakan dengan hati kita.

Jika hati kita menjadi semakin gelisah ketika mendapatkan harta tersebut, maka ada kemungkinan apa yang kita peroleh tersebut bukanlah rezeki yang berkah.

Maka coba di-trace kembali, siapa tahu ada jalur yang haram yang dilewati rezeki tersebut untuk sampai kepada kita.

3. Menimbulkan penyakit


Hal ini bukan berarti ketika kita sakit, berarti rezeki kita pasti tidak berkah.

Namun di antara sifat-sifat harta yang haram adalah menimbulkan kerusakan ketika dikonsumsi.

Kata “al-khoba-aits” yang digunakan Al-Qur’an untuk menunjukkan sesuatu yang buruk atau jahat, ternyata juga memiliki arti “busuk” dan “kotor”.

Maka bagaimana seandainya sesuatu yang busuk dan kotor dikonsumsi oleh tubuh???

Ada sebuah catatan bagus, namun saya tidak tahu siapa penulisnya. Catatan itu berbunyi,

“Gen di dalam tubuh manusia telah diatur untuk menyakini sebuah kebenaran hakiki. Jika kebenaran tersebut dilanggar, maka gen itu akan “memberontak”. Dan inilah awal dari kecemasan dan ketakutan.”
(Dave Osborne-Anonymous)

Hal ini menjelaskan bahwa ketika ada sesuatu yang haram masuk ke dalam tubuh kita, maka secara naluriah sel-sel di dalam tubuh akan “menolak” hal tersebut.

Akibatnya tubuh merasa tidak nyaman, apalagi ditambah dengan kegelisahan (seperti yang ditulis pada poin no. 2),

inilah yang menyebabkan timbulnya penyakit-penyakit pada tubuh kita.

4. Menjauh dari hal-hal baik


Keberkahan itu adalah hal yang baik dan membawa pada hal-hal yang baik pula.

Jika keberkahan tidak ada pada harta kita, maka ia akan sulit sekali dipakai untuk hal-hal yang baik. Seandainya bisa pun, maka kebaikan itu tidak akan bermanfaat bagi diri kita.

Maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan doanya?”

Karena itulah, tidak mungkin kita mendidik anak-anak kita menjadi orang-orang baik kalau apa yang kita makan dan apa yang mereka makan berasal dari hal-hal yang tidak baik.

5. Mendorong ke hal-hal buruk


Sebagaimana suatu kebaikan akan membuka pintu-pintu kebaikan yang lain, maka begitu juga dengan keburukan.

Jika harta didapatkan dari jalur yang salah, maka ia akan cenderung dibelanjakan untuk sesuatu yang salah pula.

Maka jangan heran kalau anak-anak kita menjadi anak-anak dengan tipikal pemberontak dan susah diajak kepada kebaikan...

Salah satu sebabnya adalah rezeki yang kita berikan kepada mereka berasal dari jalur yang tidak baik.

***


Lalu sebagai solusinya, bagaimana cara kita mendapatkan rezeki yang berkah ini?

Penyebab rezeki yang tidak berkah salah satunya karena aktifitas yang dilakukan untuk mendapatkan rezeki tersebut adalah termasuk ke dalam hal-hal yang dilarang oleh agama.

Hal-hal yang terlarang ini juga bisa menjadi sebab penghambat rezeki yang baik.

Maka kali ini perlu dijelaskan pula bagaimana cara agar rezeki yang kita dapatkan adalah rezeki yang mengandung keberkahan.

Ust. Widjayanto - atau yang kerap disapa Uwi - dalam sebuah acara di televisi menyebutkan ada 4 hal yang harus kita lakukan agar rezeki yang datang kepada kita adalah rezeki yang berkah.

Keempat hal tersebut mutlak diperlukan dan harus dilakukan dengan benar.

Sebab jika salah satu saja tidak dilakukan, maka rezeki yang kita dapatkan akan menjadi tidak berkah.

Apa saja 4 hal tersebut?


1. NIAT HARUS BENAR


Kita sering mendengar bahwa setiap apa yang kita lakukan tergantung dari niatnya.

Di dalam Islam, perbuatan mubah yang diniatkan untuk beribadah, maka ia akan bernilai ibadah.

Gampangnya, jika niat kita bekerja karena ingin mendapatkan uang,

maka kita akan mendapatkan uang.

Jika kita bekerja karena untuk beribadah dan mendapat ridhonya Allah,

maka kita akan mendapatkan rezeki yang berkah.

Maka niat yang benar inilah pintu pertama untuk mendapatkan rezeki yang berkah.


2. CARA KERJA HARUS BENAR


Ketika niat kita sudah benar, maka kita AKAN mendapatkan hasil tersebut.

Tapi baru ‘akan’ lho ya...

Kalau tidak dikerjakan, mana mungkin menghasilkan?

Karena untuk mendapat rezeki yang baik harus dilakukan dengan cara yang baik pula. Tidak melalui cara menipu, mencuri, mengurangi takaran, riba, dsb.


3. BENDA KERJANYA HARUS BENAR


Selain NIAT dan CARA yang harus benar, hal berikutnya yang harus dipastikan kebenarannya adalah benda kerjanya.

Sebab bisa jadi caranya sudah benar, misalnya melalui jual-beli,

namun yang menjadi obyek jual belinya adalah narkoba, minuman keras atau hal-hal terlarang lainnya.

Cara-cara seperti inilah yang bisa menjadi penyebab terhalangnya rezeki yang baik.


4. PERUNTUKAN HASILNYA HARUS BENAR


Sebagaimana rezeki yang buruk akan cenderung lari ke arah yang buruk dan rezeki yang baik berpotensi menuju ke yang baik,

maka kita bisa menggunakan teknik berpikir terbalik di sini.

Dengan menyalurkan harta kita untuk sesuatu yang baik, maka ia akan “menarik” rezeki-rezeki yang baik untuk datang kepada kita.

Tuesday, August 2, 2016

6 Aturan Penting yang Diabaikan Saat Membuat Kesepakatan dengan Anak

Saya pernah men-share sebuah artikel di blog ini tentang bagaimana mengatasi anak yang marah di tempat umum.

Jika anda belum sempat membacanya, anda bisa baca di sini.

Di dalam artikel tersebut, pada salah satu poinnya disebutkan untuk membuat “kesepakatan” dengan anak sebelum kita berangkat ke tempat tujuan.

Cara ini dianggap cukup ampuh untuk mengantisipasi atau meminimalisir tingkah buruk anak-anak selama dalam perjalanan atau ketika berada di tempat tujuan.

kesepakatan dengan anak, perjanjian dengan anak

Lalu timbul sebuah pemikiran di dalam benak saya,

jika kita bisa meredam perilaku yang tidak menyenangkan dari buah hati kita dengan kesepakatan ini,

maka seharusnya tidak mustahil kita membangun sikap disiplin mereka dengan teknik yang sama.

Dengan membuat kesepakatan bersama,

anak-anak akan memiliki semacam role model untuk diikuti dan aturan-aturan yang akan mengarahkan mereka pada perilaku yang lebih baik.

Dan yang menarik adalah,

pada perjalanannya nanti, kesepakatan yang kita buat bersama anak-anak ini tidak akan lagi mereka anggap sebagai perintah dari kita,

melainkan sudah menjadi pegangan dalam keseharian mereka.

Dengan kata lain, pelaksanaan kesepakatan tersebut akan dilakukan dengan KESADARAN mereka sendiri.

Sehingga meskipun tidak ada kesepakatan tertulis, hal tersebut tidak akan mempengaruhi mereka.

Menurut saya, ini adalah nilai plusnya.

Namun ada sedikit perbedaan pada kesepakatan yang hanya untuk mengantisipasi emosi si kecil di tempat umum dengan kesepakatan yang kita buat untuk menumbuhkan sikap disiplin mereka.

Perbedaan yang paling menonjol adalah, kesepakatan untuk tujuan yang pertama ini hanya bersifat sementara.

Yaitu hanya selama mereka berada di tempat yang dimaksud.

Sedang kesepakatan dengan tujuan yang kedua lebih bersifat jangka panjang.

Karena itu, untuk kesepakatan yang kita tujukan untuk peningkatan kedisiplinan ini ada beberapa aturan-aturan yang perlu diperhatikan.

Aturan-aturan ini perlu dijalankan agar kesepakatan yang dibuat tidak justru melahirkan perasaan terpaksa dan tertekan pada diri anak.

Banyak orangtua yang membuat kesepakatan dengan buah hati mereka namun mengabaikan hal-hal yang sebenarnya sangat penting ini.

Saya mencatat setidaknya ada 6 hal yang perlu diperhatikan orangtua saat akan membuat kesepakatan bersama anak.


1. Keterlibatan semua komponen keluarga


Pada artikel yang ini: Pendidikan Tidak Berhasil, Mungkin Kita Melakukan Kesalahan Ini!

dijelaskan bahwa ketidak-kompakan komponen keluarga akan menyebabkan kegagalan proses pendidikan buah hati kita.

Komponen keluarga, dalam hal ini bisa berarti ayah-ibu, kakek-nenek, saudara, paman dan siapapun yang tinggal bersama atau memiliki ikatan yang erat dengan anak kita,

harus mempunyai langkah yang sama dalam upaya pengembangan karakter anak.

Jika tidak begitu, maka yang terjadi adalah “penggembosan”.

Diibaratkan seperti seseorang yang berjalan dengan salah satu kaki yang diikat beban,

akan terasa berat untuk sampai ke tempat tujuan.

Jadi libatkan semua anggota keluarga, dan pastikan mereka mendukung kesepakatan yang kita buat bersama si kecil.


2. Kesepakatan untuk hal-hal yang paling penting saja


Aturan yang perlu diperhatikan berikutnya adalah jumlah kesepakatan yang jangan terlalu banyak bagi anak.

Pilih hal-hal yang dianggap paling penting saja.

Lebih baik jika difokuskan pada nila-nilai yang dijunjung di dalam keluarga tersebut, misalnya menepati janji, jujur, dsb.

Namun harus diingat bahwa cara berpikir anak-anak itu tidak seperti cara berpikir kita.

Sehingga kita tidak harus memasukkan semua hal-hal baik di dalam kesepakatan bersama ini.

Kita bisa mensiasatinya dengan memilih beberapa hal terlebih dahulu untuk beberapa minggu. Lalu menambah atau menggantinya pada minggu-minggu berikutnya.


3. Apa yang harus dilakukan, bukan apa yang dilarang


Penekanan tentang apa yang harus dilakukan dan bukan pada apa yang dilarang ini bukannya tanpa sebab.

Jika kesepakatan yang kita buat lebih banyak berisi konten larangan, maka anak akan merasa dikekang.

Tidak boleh begini, dilarang begitu dan jangan seperti ini.

Maka seperti yang sudah saya share pada artikel tentang bagaimana cara kita mengoreksi kesalahan anak tanpa mendapat penolakan (anda bisa baca di sini),

kecenderungan anak untuk mengeksplore informasi yang diterimanya bisa menjelaskan poin ketiga ini.

Pada beberapa tipe anak, mereka akan lebih memilih untuk “menyelidiki” penyebab larangan daripada sekedar bertanya “Kenapa?”

Karena itu fokus pada apa yang seharusnya mereka lakukan lebih berdampak positif daripada list yang cuma berisi larangan-larangan.


4. Tulis di tempat yang bisa dilihat anak


Meletakkan poin-poin kesepakatan bersama di tempat yang bisa dilihat oleh anak ini memiliki keuntungan.

Yaitu mencegah anak dari sikap menghindar atau lari dari tanggung jawab ketika tiba-tiba mereka berubah pikiran tentang kesepakatan yang sudah dibuat.

Kita bisa menempelkan poin-poin kesepakatan ini di pintu kulkas atau lemari pakaiannya.

Dengan cara seperti ini anak akan terlatih untuk mempertanggung jawabkan apa yang sudah diucapkannya.


5. Ada konsekuensi yang harus diterapkan


Dalam tulisan saya yang berjudul 9 Alasan Kenapa Nasehat Orangtua Tidak Didengar Anak,

di situ dijelaskan apa peranan penting dari sebuah sanksi alias hukuman.

Begitu pula dengan kesepakatan yang kita buat bersama si kecil.

Selalu cantumkan apa konsekuensi yang harus dijalani apabila mereka melanggar kesepakatan yang telah dibuat itu.

Namun 2 ada tambahan catatan di sini.

Pertama, jangan berikan hukuman yang akan menyakiti mental dan juga fisik anak-anak kita.

Hal ini sudah pernah dibahas di artikel yang ini.

Kedua, selain adanya hukuman sebagai konsekuensi atas pelanggaran mereka,

unsur pengecualian juga perlu dimasukkan ke dalam draft kesepakatan tersebut.

Satu contoh misalnya ada konsekuensi yang harus diterima si kecil jika mereka terlambat masuk ke sekolah.

Tapi jika keterlambatan itu terjadi karena kita yang terlambat mengantarkan mereka,

maka sanksi tidak boleh berlaku di sini.

Nah, pengecualian seperti inilah yang harus dijelaskan pada anak kita.


6. Review lagi, dan lagi


Sebagai manusia, kita juga tak luput dari salah,

bahkan dalam hal mengatur dan mendidik anak-anak kita.

Umumnya para orangtua karena merasa lebih “senior” dan lebih dahulu merasakan kehidupan,

menganggap apa yang mereka berikan kepada anak-anak mereka adalah sesuatu yang tepat.

Padahal hal ini tidak selamanya benar.

Ada banyak faktor yang menjadikan aturan-aturan tidak tepat jika diterapkan pada anak-anak kita,

meski kita merasa bahwa hal itu tepat diterapkan pada kita.

Cara berpikir dan cara menimbang masalah, kondisi emosi dan mental, situasi atau jaman, dan lingkungan sosial...

adalah sebagian faktor yang mempengaruhi tepat atau tidaknya aturan itu diterapkan.

Solusinya adalah, sebagai orangtua kita tidak boleh malas untuk mereview apa saja yang sudah kita berikan kepada anak-anak kita.

Jika setelah peninjauan ulang tersebut ditemukan poin-poin yang tidak sesuai bagi diri si anak, maka tidak perlu ragu untuk mengubah atau – bahkan - menghapusnya.

Dengan langkah ini diharapkan kita bisa memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita.

Monday, August 1, 2016

9 Tipe Kecerdasan Manusia, Temukan Satu untuk Anak Anda!

manusia cerdas, anak-anak, pendidikan, multiple intelligence

Maret 2016 kemarin, TK dimana anak-anak kami bersekolah mengadakan tes IQ untuk para siswanya.

Metode yang digunakan terbilang baru bagi saya yang gaptek ini.

Mereka menggunakan metode analisa biometrik sidik jari, atau orang-orang menyebutnya dengan pengenalan karakter melalui sidik jari.

Selain karena tidak ada manusia yang memiliki sidik jari yang identik dengan manusia yang lainnya, sidik jari ini juga bersifat permanen.

Dan ia bisa dilihat dan diklasifikasikan.

Sehingga dengan metode ini bisa dideteksi kecenderungan yang dimiliki oleh anak-anak, seperti misalnya,

lebih dominan otak kanan atau kirinya,

tipe kecerdasan yang dimiliki,

gaya belajar yang cocok diterapkan,

termasuk juga potensi bakat dan rekomendasi jurusan kuliah dan pekerjaan yang tepat untuk mereka.


Lebih bagus mana, otak kanan atau kiri?


Kesalahan yang umum terjadi di kalangan orangtua adalah,

mereka lebih suka alias lebih bangga jika anak-anak mereka unggul di bidang akademis, yang “diwakili” oleh otak kiri.

Sehingga timbul kesan menomor duakan anak-anak yang dominan otak kanan.

Hal ini terbukti ketika ibunya Zaki mencoba bertanya kepada wali murid lain tentang hasil tes anak-anak mereka.

Orangtua yang hasil tes anaknya menunjukkan hasil dominan otak kanan, terlihat agak kecewa, minder dan malas menanggapi pertanyaan-pertanyaan lanjutan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa pada sebagian (besar) orangtua, anak-anak dengan kecenderungan otak kiri lebih diinginkan daripada anak-anak yang dominan otak kanan.

Di sini saya tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa otak kanan itu lebih baik daripada otak kiri.

Tuhan tidak mungkin iseng menciptakan otak kanan, sebagaimana Dia juga tidak sia-sia membuat otak kiri.

Keduanya memiliki nilai plus dan minus. Yang salah satunya diharapkan bisa mengimbangi yang lainnya.


9 Kecerdasan Kompleks


Dr. Howard Gardner - seorang tokoh pendidikan sekaligus psikolog - pernah menerbitkan sebuah buku yang berjudul Frames of Mind (1983).

Di dalam buku itu, ia menjelaskan bahwa kita tidak bisa menganggap kecerdasan seseorang hanya dilihat dari kemampuan matematis (nalar) atau linguistis (berbahasa) orang tersebut.

Selanjutnya, ia juga menelurkan sebuah konsep baru yang kemudian kita kenal dengan teori multiple intelligences atau kecerdasan kompleks.

Di dalam teorinya ini, ia menyebutkan ada 8 macam tipe kecerdasan manusia, yang kemudian direvisinya menjadi 9 tipe kecerdasan manusia pada buku terbarunya Intelligence Reframed (1999).

Dengan adanya konsep ini maka tidak ada lagi alasan mengatakan bahwa anak kita adalah anak yang bodoh.

Sebab bisa jadi ia lemah di satu bidang tertentu, namun sangat cemerlang di bidang yang lain.

Dengan memahami kesemua jenis kecerdasan ini diharapkan para orangtua lebih termotivasi untuk mengembangkan potensi yang dimiliki anak-anak mereka,

bukan malah memaksakan keinginan kita kepada mereka.

Berikut ini adalah 9 tipe kecerdasan manusia menurut Howard Gardner >>


1. Kecerdasan Linguistik (bahasa)


Seorang anak bisa disebut memiliki kecerdasan linguistik ketika ia lebih mampu mengatur kata-kata, baik secara tertulis maupun secara terucap. Anak-anak ini lebih peka terhadap arti kata, urutan kata, ejaan dan ritme atau intonasi pengucapan.

Anak-anak dengan kecerdasan ini biasanya suka dengan istilah-istilah baru (atau asing) dan lebih teliti terhadap detil, sehingga pelajaran bahasa Inggris dan Sejarah lebih mudah mereka tangkap daripada Matematika atau Fisika.

Menyukai puisi, membuat karangan, menulis quote-quote dan lebih sering menyampaikan apa yang pernah didengar atau dibacanya,

serta aktif dalam permainan kata-kata seperti Scrabble, Teka-Teki Silang adalah ciri-ciri dari anak-anak yang masuk dalam kelompok ini.

Kita bisa merangsang perkembangan kecerdasan ini dengan cara memintanya bercerita (misalnya tentang apa yang dilakukannya hari ini), lalu meminta ia mendengarkan cerita kita.

Begitu secara bergantian.

Atau kita bisa mengajaknya bermain tebak-tebakan nama binatang atau nama benda – terserah – yang intinya merangsang anak untuk mendengar dan mengucap.

Sedangkan profesi yang cocok untuk anak-anak dengan kecerdasan linguistik misalnya pengacara, marketer, presenter, jurnalis, penulis, penerjemah, editor, guru bahasa, dsb.


2. Kecerdasan Visual (gambar)


Biasa disebut juga dengan kecerdasan spasial (ruang) karena anak-anak dengan tipe kecerdasan ini mampu untuk melihat atau membayangkan sebuah obyek gambar, ruang atau benda nyata dengan sangat akurat.

Anak-anak yang memiliki kecerdasan visual lebih suka menggambar atau benda-benda yang memiliki banyak gambar. Dalam hal pelajaran, Geometri adalah bab favoritnya.

Permainan yang disukai biasanya permainan yang masuk dalam kategori puzzle atau menyusun gambar. Bermain balok, mencari jejak atau bermain labirin adalah permainan alternatifnya.

Orangtua bisa meningkatkan kemampuan anak dengan membiarkannya berimprovisasi saat menggambar menggunakan krayon, kapur atau cat. Atau kita bisa menambahkan alat gambar dengan benda-benda lain misalnya sikat gigi, kapas, dsb.

Profesi yang tepat untuk anak-anak dengan kecerdasan visual seperti fotografer, seniman, pilot, suveyor, animator atau pekerjaan di bidang tata kota, arsitektur atau desain interior.


3. Kecerdasan Musikal


Pada anak-anak yang memiliki kecerdasan musikal, mereka sangat peka terhadap suara-suara non-verbal (seperti nada atau ritme) yang ada di sekitarnya.

Anak-anak dengan tipe kecerdasan ini bisa menghabiskan banyak waktu untuk mendengarkan musik. Mereka dengan mudah “mencerna” sebuah musik dan menemukan irama yang tidak selaras.

Anak-anak yang cerdas secara musikal biasanya lebih mudah mengingat sesuatu jika dikaitkan dengan musik. Sehingga gaya belajar yang bisa diterapkan pada mereka adalah gaya belajar auditory.

Karena anak-anak dengan kecerdasan musikal senang dan pandai menciptakan sebuah komposisi, kita bisa menfasilitasinya dengan benda-benda di sekitar (seperti gelas, ember, kaleng, dsb) untuk mereka berimprovisasi.

Pekerjaan yang cocok untuk anak-anak seperti ini tentunya pekerjaan yang berkaitan dengan musik seperti DJ, penyanyi, penulis lagu, dirijen, ahli terapi musik atau guru musik.


4. Kecerdasan Matematis (logika)


Kemampuan anak-anak dengan kecerdasan matematis lebih berhubungan dengan pemecahan masalah atau pencarian solusi dengan cara yang rasional dan logis.

Gaya berpikir yang runtut membuat mereka lebih suka mengumpulkan bukti, merumuskan, baru kemudian membuat analisa dan argumen-argumen.

Mereka menyukai angka-angka, pola berurutan dan keteraturan, serta logika. Sehingga soal-soal matematika dan pertanyan-pertanyaan sains seperti “bagaimana jika suatu benda dibeginikan...” atau yang semisalnya,

menjadi sangat menarik bagi mereka.

Mengajak mereka bermain teka-teki atau catur, menghitung benda-benda yang diatur dengan susunan atau pola-pola tertentu bisa meningkatkan kemampuan logika mereka.

Profesi yang berhubungan dengan angka-angka semisal auditor, akuntan, programer, ahli ekonomi, guru IPA sangat cocok untuk mereka yang memiliki kecerdasan matematis.

Teknisi mesin juga bisa dijadikan alternatif karena anak-anak yang memiliki kecerdasan ini juga mampu menganalisa fungsi atau cara kerja sebuah benda.


5. Kecerdasan Kinestetis (gerak tubuh)


Sesuai namanya, anak-anak dengan kecerdasan ini memiliki kemampuan untuk menggunakan anggota tubuhnya secara terampil.

Kemampuan untuk mengkoordinasikan gerakan tubuh, menyeimbangkannya dan kelincahan di dalam bergerak adalah bagian dari kecerdasan ini.

Sehingga anak-anak seperti ini biasanya tidak bisa duduk berdiam dalam waktu yang lama. Lebih menyukai aktifitas outdoor dan lebih memilih learning by doing ketimbang mempelajari sesuatu dengan membaca atau teori saja.

Anak-anak yang memiliki kecerdasan kinestetis biasanya terlihat dari prestasinya di bidang olah raga atau aktifitas olah tubuh seperti menari atau berakrobat.

Anak-anak ini bisa diarahkan untuk nantinya berprofesi sebagai atlit, penari, model, koreografer, pemain film atau stuntman, mekanik, guru olahraga, penjahit, ahli bedah atau terapi fisik.


6. Kecerdasan Naturalis (alam)


Naturalis berarti sesuatu yang berkaitan dengan alam.

Anak-anak yang memiliki kecerdasan naturalis terlihat dari kepekaannya terhadap alam (seperti gunung, pantai, hutan atau cagar alam) dan kegemarannya akan aktifitas outdoor seperti hiking, surfing, diving, dsb.

Anak-anak ini memiliki kemampuan untuk mengenali lalu mengklasifikasikan hal-hal dan kejadian-kejadian yang ditemuinya di alam.

Mereka lebih tertarik untuk mengobservasi lingkungan alam seperti jenis-jenis batuan, lapisan tanah, macam-macam jenis tumbuhan, binatang atau bahkan benda-benda angkasa.

Kita bisa mengajak buah hati kita ke alam terbuka atau kita bisa menceritakan kepadanya proses pertumbuhan tanaman, fenomena hujan, dsb.

Anak-anak dengan kecerdasan naturalis biasanya cocok bekerja di bidang astronomi, biologi atau botani. Sebagai ahli konservasi lingkungan atau bekerja di museum dan laboratorium juga cocok untuk anak-anak dengan tipe ini.


7. Kecerdasan Inter-personal (hubungan sosial)


Agak aneh juga ketika mengetahui bahwa kemampuan berinteraksi dengan orang lain ini dimasukkan ke dalam 9 tipe kecerdasan manusia oleh Howard Gardner.

Namun jika kita cermati, tidak semua orang memiliki kemampuan untuk berkomunikasi, memahami dan melihat dari sudut pandang individu lain atau kelompok lain.

Kecerdasan sosial ini juga berarti kemampuan untuk memimpi, mengorganisir serta mengenali dan mendeteksi perasaan, sifat, gaya pemikiran dan harapan orang lain, sekaligus memberikan respon atas hal-hal tersebut secara efektif.

Anak-anak dengan kecerdasan sosial biasanya memiliki koneksi dan sahabat yang banyak,

selain karena kemampuan mereka untuk berempati terhadap sesamanya juga karena kepandaian mereka di dalam mengatasi perselisihan antar teman.

Saya ingat ada sebuah kisah.

Ada seorang ibu yang terus-menerus mengeluh tentang keadaan anaknya yang tidak pernah memiliki prestasi di kelasnya.

Nilai rapornya bahkan cenderung menurun.

Para guru di kelas anak ini pun memiliki pendapat yang sama. Dan berbagai upaya sudah dilakukan untuk mendongkrak prestasi si anak.

Namun hasilnya tidak banyak berubah.

Suatu ketika salah seorang guru mengadakan sebuah survey kecil-kecilan di kelas tersebut.

Guru ini memberikan secarik kertas kepada tiap-tiap murid, lalu meminta mereka menuliskan siapa nama teman terbaiknya di kelas tersebut.

Dan anda tahu,

semua murid menuliskan nama anak ibu itu di kertas mereka.

Ini adalah salah satu contoh bagaimana kecerdasan interpersonal bekerja.

Anak-anak dengan tipe kecerdasan interpersonal lebih senang berada di tengah-tengah orang banyak dan terlibat dalam acara-acara sosial.

Orangtua bisa menstimulus kecerdasan ini dengan membacakan dongeng atau cerita kepada anak lalu menanyakan kepadanya tentang perasaan tokoh di dalam cerita tersebut atau kenapa sang tokoh memiliki perasaan tersebut.

Jenis pekerjaan yang nantinya cocok untuk anak-anak ini misalnya manajer, personalia atau humas, admin, psikolog, sosiolog, politisi, guru, konselor, mediator, atau tim marketing.


8. Kecerdasan Intrapersonal (kesadaran diri)


Jika kecerdasan interpersonal adalah kemampuan anak untuk memahami orang lain, maka kecerdasan intrapersonal adalah kemampuan untuk melihat ke dalam diri sendiri.

Dengan bahasa yang lebih umum, anak-anak dengan kecerdasan ini mampu memahami kelebihan dan kekurangan dirinya.

Namun dari proses memahami “kerumitan” diri sendiri inilah mereka menjadi mampu memahami permasalahan orang lain.

Kebiasaan untuk mengintrospeksi diri, menemukan kekurangan dan berupaya memperbaikinya,

serta kecenderungan untuk memiliki pendapat yang berbeda,

menjadikan anak-anak dalam tipe ini lebih senang terpisah daripada berkumpul bersama teman-temannya.

Namun meski demikian, di dalam “perenungannya”, mereka seringkali dapat menemukan siapa orang yang paling tepat untuk dimintai bantuan.

Beberapa orang memang menganggap mereka sebagai pribadi yang tertutup, namun yang lain menyebut anak-anak ini sebagai tipe yang mandiri.

Profesi yang bisa dijalani oleh anak-anak dengan kecerdasan intrapersonal ini misalnya adalah, ulama atau pemuka agama, filsuf, psikolog, terapis atau entrepreneur.


9. Kecerdasan Eksistensial (keberadaan diri)


Jenis kecerdasan terakhir yang dijelaskan oleh Howard Gardner di dalam Intelligence Reframed adalah kecerdasan eksistensial.

Ada yang mengartikan existential intelligence ini dengan kecerdasan makna,

ada pula yang mendefinisikannya sebagai kecerdasan moral.

Secara umum, anak-anak yang memiliki kecerdasan ini seringkali melihat sesuatu dalam “gambaran besarnya”,

“Mengapa kita hidup?”

“Apa tujuan kita di dunia?”

“Bagaimana keadaanku di dalam masyarakat?”

Anak-anak dengan kecerdasan eksistensial biasanya adalah anak-anak yang patuh, tahu bagaimana menjaga rahasia, mengerti tentang etika dan tata-krama serta bisa mengontrol dirinya untuk tidak melakukan pelanggaran-pelanggaran sosial.

Karena itulah anak-anak seperti ini dianggap memiliki tingkat spiritual quotient yang tinggi.

***


Sebuah pesan grup di whatsapp saya menceritakan tentang seorang anak yang harus menjalani rehabilitasi di sebuah rumah sakit jiwa karena mengalami tekanan yang cukup berat.

Ketika ditelusuri, penyebabnya adalah orangtuanya yang terlalu menuntutnya untuk belajar dengan keras.

Belajarnya tidak hanya di kelas dan di rumah, namun juga harus mengikuti kursus dan bimbel dengan waktu yang sangat padat.

Saya tidak mengatakan bahwa anak-anak tidak perlu belajar.

Namun yang perlu disadari adalah bahwa dunia mereka adalah dunia bermain.

Maka dari pintu permainan pula-lah kita seharusnya masuk untuk membimbing dan mendidik mereka.

Karena jika anak dipaksa untuk berpikir secara dewasa, akibatnya bisa dua hal,

jika tidak mengalami stres berat,

maka anak-anak bisa tumbuh menjadi pribadi-pribadi pemberontak.

Saya pernah menulis tentang bagaimana mendidik anak dengan tepat untuk tiap-tiap tahap perkembangannya. Anda bisa membacanya di sini.

Akhirnya, ketika kita – sebagai orangtua – mampu melihat dimana potensi kecerdasan yang dimiliki oleh anak-anak kita,

maka kita akan bisa memahami cara berpikir mereka,

untuk kemudian menyayanginya dan mensyukuri semua yang dianugerahkan kepadanya.

Sunday, July 31, 2016

4 Cara Paling Efektif untuk Membentuk Pikiran Positif pada Anak-anak



Ada sebuah cerita singkat yang cukup inspiratif.

Ada seorang raja yang memiliki sebongkah batu permata yang sangat langka.

Namun karena kesalahan salah seorang pengawalnya, bongkahan permata itu tidak sengaja terjatuh dan pecah menjadi serpihan-serpihan yang lebih kecil.

Raja sangat bersedih karena tahu bahwa serpihan-serpihan itu tak mungkin bisa disatukan kembali.

Namun oleh seorang kakek pemahat batu, serpihan-serpihan permata itu berhasil diubah menjadi sebuah kalung dan cincin yang amat indah.

Selesai.

Tamat.

Singkat amat? (Kan sudah saya bilang kalau ini cerita singkat, h-hee...)

Satu lagi ya,

Saya ingat dulu waktu masih nyantri di Bangil, salah seorang guru saya, Ust. Iman Supriono, pernah berkata begini,

bagi banyak orang, gelombang di lautan dan angin yang kencang adalah masalah. Namun tidak begitu bagi seorang nelayan. Ia malahan bisa memanfaatkan hal itu untuk berbagai kepentingannya.

Nah, apa pelajaran yang bisa kita ambil dari 2 ilustrasi di atas?


Kekuatan berpikir positif

Salah satu presiden Amerika, Henry Ford pernah mengatakan,

“Entah kau berpikir ‘kau bisa’ atau kau berpikir ‘kau tidak bisa’, kau selalu benar!”

Ilustrasi di atas – kakek pemahat batu dan nelayan – adalah contoh tokoh yang memiliki cara berpikir yang positif.

Mereka tidak melihat ‘masalah’ sebagai masalah, namun justru melihatnya sebagai peluang dan jalan keluar.

Dari contoh tersebut kita bisa melihat betapa hebatnya kekuatan berpikir positif ini.

Pikiran positif akan menghasilkan tindakan yang hebat dan strategic. Para pebisnis menyebutnya sebagai tindakan yang kreatif atau out of the box.

Bagi anak-anak, kebiasaan berpikir positif akan sangat berpengaruh di dalam perkembangan mental dan karakter mereka.

Anak-anak yang terbiasa menggunakan cara berpikir positif akan lebih mudah untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang dihadapinya.

Mereka tidak kenal pada sikap menyerah dan putus asa.

Sebaliknya, anak-anak yang cenderung berpikir negatif akan memiliki emosi yang labil, sulit berinteraksi dan selalu apatis terhadap hal-hal yang baru.

Ada banyak artikel yang menjelaskan tentang cara membentuk, membangun dan menumbuhkan pikiran-pikiran positif ini.

Beberapa menjelaskan dengan bahasa yang sulit saya cerna. Beberapa lainnya dengan jumlah poin yang benar-benar membuat alis saya berkerut, karena saking banyaknya.

Semua postingan itu tentu tidak salah, hanya saja membuat saya cukup bekerja keras untuk memahaminya.

Ada pula beberapa artikel yang saya anggap cukup bagus, namun jumlahnya cukup banyak.

Di sini saya akan mencoba untuk meringkasnya menjadi beberapa langkah saja.

Anda tetap disarankan untuk membaca artikel-artikel lain yang mungkin bisa digunakan untuk menambah atau bahkan memperbaiki penjelasan dalam tulisan ini.

Berikut ini adalah 4 langkah paling efektif untuk membangun pikiran positif pada anak-anak.


1. Gunakan ungkapan-ungkapan positif


Orang bilang bahwa kata-kata adalah pintu dari pikiran.

Ini berarti untuk mendapatkan pikiran yang positif kita harus melalui pintunya, yaitu kata-kata yang positif.

Kata-kata positif ini – disadari atau tidak – dapat menstimulus anak untuk berbuat positif.

Salah satu contoh misalnya daripada kita mengatakan,

“Ayo cepat mandi, nanti terlambat ke sekolah!”

lebih baik kita menggunakan kalimat,

“Yuk siap-siap sekarang, biar nanti bisa main-main dulu sebelum bel masuk.”

Bagi kita yang beragama, ungkapan-ungkapan positif ini bisa kita combine dengan doa-doa harian yang kita ajarkan kepada mereka.


2. Syukuri semua hal


Sama seperti poin no. 1, ungkapan syukur mampu membangun pikiran-pikiran positif.

Dengan membiasakan diri untuk mensyukuri apapun yang kita terima, akan membentuk perasaan bahwa semuanya menyenangkan.

Perasaan bahagia inilah yang kemudian akan mendorong pikiran-pikiran positif lainnya bermunculan.

Sebelum tidur malam, latih anak-anak untuk mensyukuri hal-hal menyenangkan yang dialaminya seharian tadi. Kita bisa membantunya dengan mengingatkan hal-hal menyenangkan tersebut.


3. Apresiasi keberhasilan, diskusikan kegagalan


Siapapun senang dipuji. Tidak terkecuali anak-anak kita.

Ketika anak-anak melakukan hal yang baik, lalu mendapat apresiasi dari orangtua mereka,

maka hal ini akan membuat mereka menjadi lebih percaya diri dan semakin ingin melakukan hal-hal baik lainnya.

Sebaliknya, ketika anak mengalami kegagalan atau kekecewaan, kita bisa mendiskusikannya dan bersama-sama mencari hal baik yang “tersembunyi” dari kejadian yang tidak mengenakkan tersebut.


4. Sikap positif orangtua


Ada yang bilang, anak-anak itu adalah peniru yang ulung.

Dan memang begitu adanya.

Untuk membentuk pikiran positif pada diri anak-anak, terlebih dahulu pemikiran positif ini harus dimiliki atau ditunjukkan oleh orangtua mereka.

Kita tahu bahwa pikiran positif akan membentuk reaksi positif.

Karena pikiran positif ini sulit ditiru anak-anak karena ia tidak terlihat,

maka kita bisa menunjukkan kepada mereka – pikiran positif ini - melalui reaksi positif kita ketika menghadapi suatu kejadian yang tidak mengenakkan.

Berikut ini ada sebuah cerita inspiratif tentang bagaimana bereaksi positif.

Seorang ibu yang baru pulang dari belanja terkejut ketika menyadari uang 50 ribu yang disimpannya di lemari, hilang.

Ibu ini memiliki 2 orang anak. Namun si ibu sangat yakin kalau yang mengambil uang tersebut adalah anak pertamanya.

Maka, ketika makan malam tiba dan kedua anaknya sudah berada di meja makan, ibu ini berkata,

“Ketika ibu belanja tadi, rupanya ada pencuri yang mengambil uang ibu di lemari. Mungkin ketika kalian sedang bermain di luar.

Tapi kalian jangan takut karena besok pagi-pagi sekali ibu akan melaporkan hal ini ke polisi agar pencurinya segera ditemukan.”

Anak pertama yang memang mengambil uang itu menjadi khawatir. Sehingga ketika ibunya tidak memperhatikannya, ia mengendap-endap mengembalikan uang tersebut ke dalam lemari.

Pagi harinya, ketika si ibu menyadari bahwa uangnya sudah “kembali”,

ibu ini lalu mengumpulkan kedua anaknya dan berkata kepada mereka,

“Ternyata ibu salah, tidak ada pencuri yang masuk ke rumah ini.

Uang ibu tidak hilang. Mungkin kemarin ibu yang kurang teliti mencarinya. Maafkan ibu ya sudah membuat kalian takut...”


Lihat,

saat kita bereaksi positif atas suatu peristiwa, maka hal ini akan menular kepada siapapun yang berada di dekat kita.

Anak pertama yang memutuskan untuk mengembalikan uang tersebut bukan karena takut akan ditangkap polisi,

akan tetapi karena ia tidak mau disebut pencuri.

Kedua alasan ini jelas berbeda.

Jika ia hanya takut ditangkap polisi, ia bisa saja menyembunyikan uang tersebut di tempat yang aman dan berpura-pura tidak tahu apa-apa,

toh ia yakin ibunya tidak tahu.

Namun karena ia tidak mau dicap sebagai pencuri, maka apapun yang ia lakukan - selama uang itu masih berada di tangannya - ia adalah pencuri.

Karena itulah ia memilih untuk mengembalikannya.

Inilah yang saya sebut tadi bahwa pikiran positif itu menular.

Jadi berpikirlah positif, dan tularkan itu kepada anak-anak dan orang-orang di sekitar kita.

Dan dalam sekejap, hidup kita akan dikelilingi banyak kebahagiaan.