Friday, August 5, 2016

4 Cara Menarik Rezeki yang Berkah untuk Keluarga

Mungkin di antara anda ada yang bertanya-tanya kalau blog ini adalah blog tentang parenting, kenapa harus membahas soal rezeki?

Apa ada hubungannya?

Jelas, ada.


Ketika kita membahas tentang bagaimana membentuk anak yang berkepribadian baik, maka hal ini tidak akan lepas dari bagaimana karakter atau kepribadian orangtuanya.

Dan ketika kita membahas tentang kepribadian dan sifat seseorang, maka hal ini tidak bisa lepas dari bagaimana pola konsumsi atau makanan yang masuk ke dalam tubuh orang tersebut.

Dr. Alexis Carrrel, seorang ahli transplantasi organ tubuh manusia dalam sebuah studinya mengatakan,

“Pengaruh dari senyawa kimia yang ada di dalam makanan terhadap pikiran manusia belum diketahui secara tepat, karena belum pernah dilakukan penelitian secara memadai.

Namun tidak diragukan lagi bahwa perasaan manusia sangat dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas makanan yang dikonsumsinya.”

Jadi secara kronologis,

makanan akan membangun perasaan seseorang.

Perasaan ini kemudian membentuk cara berpikirnya.

Dan cara berpikir ini akan berpengaruh pada cara dia bertindak.

Dalam hal ini berarti cara dia mendidik anak-anak dan keluarganya.

Sementara dari sisi agama, Rasulullah sudah pernah mengingatkan,

“Dan makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram, dan diberi makan dengan makanan yang haram. Maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan doanya?”
(Diriwayatkan oleh Imam Muslim dengan sanad yang shahih)


Keharaman menghilangkan keberkahan

Secara sederhana, kata “berkah” bisa kita definisikan dengan “sesuatu yang mengandung kebaikan atau manfaat yang banyak”.

Jika dihubungkan dengan dunia parenting,

maka mustahil kita memperoleh anak-anak yang baik dan keluarga yang tenteram-harmonis jika apa yang dikonsumsi oleh keluarga kita tidak mengandung keberkahan,

karena bercampur dengan rezeki yang haram.

Maka sebagai seorang muslim - sekaligus orangtua - yang mendambakan anak-anak yang tumbuh sebagai pribadi yang baik,

hal yang harus dilakukan adalah mengupayakan rezeki yang berkah untuk anak dan keluarga kita.

Ini adalah sesuatu yang wajib diprioritaskan.

Hanya masalahnya,

rezeki yang berkah dan rezeki yang tidak berkah,

ia tidak bisa dilihat secara kasat mata. Ia hanya bisa dirasakan dengan rasa dan hati nurani.

Sehingga bisa saja sifat berkah itu terdapat pada jumlah rezeki yang sedikit. Bisa juga pendapatannya melimpah namun tidak ada nilai manfaat di dalamnya.

Akan tetapi, ini yang perlu dicermati,

meski rezeki yang tidak berkah itu tidak bisa dilihat secara langsung, namun ada beberapa tanda yang bisa kita digunakan untuk mendeteksinya.

Saya mendapatkan setidaknya ada 5 ciri-ciri harta yang tidak berkah.

Tanda rezeki tidak berkah itu di antaranya adalah:


1. Cepat habis


Keberkahan itu berbanding lurus dengan kecukupan.

Jadi ketika suatu harta jauh dari berkah, maka ia akan mudah sekali habis tanpa meninggalkan manfaat yang berarti.

Kita mungkin pernah mengalami situasi dimana gajian baru kemarin tapi tiba-tiba sekarang sudah habis, dan kita tidak sadar digunakan untuk apa saja uang tersebut.

Jika hal seperti sering terjadi, coba ingat-ingat lagi barangkali ada hal-hal yang kita lakukan yang membuat Sang Pemberi Rezeki tidak ridho dengan kita.

2. Membuat gelisah


Karena berasal dari Dzat yang Maha Suci, maka keberkahan punya korelasi dengan ketenangan.

Kita sudah singgung tadi bahwa berkah-tidaknya sebuah rezeki bisa dirasakan dengan hati kita.

Jika hati kita menjadi semakin gelisah ketika mendapatkan harta tersebut, maka ada kemungkinan apa yang kita peroleh tersebut bukanlah rezeki yang berkah.

Maka coba di-trace kembali, siapa tahu ada jalur yang haram yang dilewati rezeki tersebut untuk sampai kepada kita.

3. Menimbulkan penyakit


Hal ini bukan berarti ketika kita sakit, berarti rezeki kita pasti tidak berkah.

Namun di antara sifat-sifat harta yang haram adalah menimbulkan kerusakan ketika dikonsumsi.

Kata “al-khoba-aits” yang digunakan Al-Qur’an untuk menunjukkan sesuatu yang buruk atau jahat, ternyata juga memiliki arti “busuk” dan “kotor”.

Maka bagaimana seandainya sesuatu yang busuk dan kotor dikonsumsi oleh tubuh???

Ada sebuah catatan bagus, namun saya tidak tahu siapa penulisnya. Catatan itu berbunyi,

“Gen di dalam tubuh manusia telah diatur untuk menyakini sebuah kebenaran hakiki. Jika kebenaran tersebut dilanggar, maka gen itu akan “memberontak”. Dan inilah awal dari kecemasan dan ketakutan.”
(Dave Osborne-Anonymous)

Hal ini menjelaskan bahwa ketika ada sesuatu yang haram masuk ke dalam tubuh kita, maka secara naluriah sel-sel di dalam tubuh akan “menolak” hal tersebut.

Akibatnya tubuh merasa tidak nyaman, apalagi ditambah dengan kegelisahan (seperti yang ditulis pada poin no. 2),

inilah yang menyebabkan timbulnya penyakit-penyakit pada tubuh kita.

4. Menjauh dari hal-hal baik


Keberkahan itu adalah hal yang baik dan membawa pada hal-hal yang baik pula.

Jika keberkahan tidak ada pada harta kita, maka ia akan sulit sekali dipakai untuk hal-hal yang baik. Seandainya bisa pun, maka kebaikan itu tidak akan bermanfaat bagi diri kita.

Maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan doanya?”

Karena itulah, tidak mungkin kita mendidik anak-anak kita menjadi orang-orang baik kalau apa yang kita makan dan apa yang mereka makan berasal dari hal-hal yang tidak baik.

5. Mendorong ke hal-hal buruk


Sebagaimana suatu kebaikan akan membuka pintu-pintu kebaikan yang lain, maka begitu juga dengan keburukan.

Jika harta didapatkan dari jalur yang salah, maka ia akan cenderung dibelanjakan untuk sesuatu yang salah pula.

Maka jangan heran kalau anak-anak kita menjadi anak-anak dengan tipikal pemberontak dan susah diajak kepada kebaikan...

Salah satu sebabnya adalah rezeki yang kita berikan kepada mereka berasal dari jalur yang tidak baik.

***


Lalu sebagai solusinya, bagaimana cara kita mendapatkan rezeki yang berkah ini?

Penyebab rezeki yang tidak berkah salah satunya karena aktifitas yang dilakukan untuk mendapatkan rezeki tersebut adalah termasuk ke dalam hal-hal yang dilarang oleh agama.

Hal-hal yang terlarang ini juga bisa menjadi sebab penghambat rezeki yang baik.

Maka kali ini perlu dijelaskan pula bagaimana cara agar rezeki yang kita dapatkan adalah rezeki yang mengandung keberkahan.

Ust. Widjayanto - atau yang kerap disapa Uwi - dalam sebuah acara di televisi menyebutkan ada 4 hal yang harus kita lakukan agar rezeki yang datang kepada kita adalah rezeki yang berkah.

Keempat hal tersebut mutlak diperlukan dan harus dilakukan dengan benar.

Sebab jika salah satu saja tidak dilakukan, maka rezeki yang kita dapatkan akan menjadi tidak berkah.

Apa saja 4 hal tersebut?


1. NIAT HARUS BENAR


Kita sering mendengar bahwa setiap apa yang kita lakukan tergantung dari niatnya.

Di dalam Islam, perbuatan mubah yang diniatkan untuk beribadah, maka ia akan bernilai ibadah.

Gampangnya, jika niat kita bekerja karena ingin mendapatkan uang,

maka kita akan mendapatkan uang.

Jika kita bekerja karena untuk beribadah dan mendapat ridhonya Allah,

maka kita akan mendapatkan rezeki yang berkah.

Maka niat yang benar inilah pintu pertama untuk mendapatkan rezeki yang berkah.


2. CARA KERJA HARUS BENAR


Ketika niat kita sudah benar, maka kita AKAN mendapatkan hasil tersebut.

Tapi baru ‘akan’ lho ya...

Kalau tidak dikerjakan, mana mungkin menghasilkan?

Karena untuk mendapat rezeki yang baik harus dilakukan dengan cara yang baik pula. Tidak melalui cara menipu, mencuri, mengurangi takaran, riba, dsb.


3. BENDA KERJANYA HARUS BENAR


Selain NIAT dan CARA yang harus benar, hal berikutnya yang harus dipastikan kebenarannya adalah benda kerjanya.

Sebab bisa jadi caranya sudah benar, misalnya melalui jual-beli,

namun yang menjadi obyek jual belinya adalah narkoba, minuman keras atau hal-hal terlarang lainnya.

Cara-cara seperti inilah yang bisa menjadi penyebab terhalangnya rezeki yang baik.


4. PERUNTUKAN HASILNYA HARUS BENAR


Sebagaimana rezeki yang buruk akan cenderung lari ke arah yang buruk dan rezeki yang baik berpotensi menuju ke yang baik,

maka kita bisa menggunakan teknik berpikir terbalik di sini.

Dengan menyalurkan harta kita untuk sesuatu yang baik, maka ia akan “menarik” rezeki-rezeki yang baik untuk datang kepada kita.

Pri617

Author & Editor

Bukan seorang ayah yang sempurna. Hanya berusaha mewariskan sifat baik dan sikap positif untuk anak-anak kami.

0 komentar:

Post a Comment