Wednesday, August 17, 2016

Bahaya Internet untuk Anak dan 10 Langkah Praktis Memproteksi Mereka

Era digital sudah tak terelakkan.

Bahkan kehidupan manusia secara general sudah sangat bergantung kepada sebuah benda kecil yang kita sebut gadget.

parenting,pendidikan anak,pendidikan karakter

Hal-hal yang tadinya cukup lama jika dikerjakan secara manual, sekarang hanya dalam hitungan detik saja.

Pekerjaan yang dulunya harus dilakukan oleh beberapa orang, sekarang cukup satu orang untuk meng-handlenya.

Imbasnya, para orangtua dan guru pendidik pun mau tak mau harus mengikuti “revolusi” ini.

Hal ini terlihat dari beberapa program sekolah atau materi ajar yang menggunakan gadget sebagai alat utamanya.

Satu contoh kecil misalnya meminta anak-anak mengumpulkan gambar bunga-bunga yang ada di Indonesia.

Kalau dulu, anak-anak harus hunting surat kabar bekas dari agen atau distributor di pasar terlebih dahulu.

Setelah ketemu gambar yang dicari, lalu digunting dan ditempelkan pada lembaran kertas.

Bakal makan waktu seharian penuh.

Tapi sekarang, anak-anak bisa lari ke warnet, lalu mengetikkan satu kata kunci dan di-print.

Voilaa! Tugas pun selesai.


Internet: Dua Sisi Mata Uang


Seperti halnya yang kita ketahui, bahwa teknologi selalu membawa dua dampak: positif dan negatif.

“Teknologi” dalam pembahasan ini adalah kemudahan di dalam mengakses internet,

dalam konteks ini adalah bagi anak-anak.

Sebuah survei yang dilakukan oleh Yayasan Kita dan Buah Hati (Elly Risman) tahun 2005 melaporkan bahwa dari responden dengan rentang usia antara 9-12 tahun, 80% telah mengakses pornografi.

25 persen di antaranya mendapatkan akses itu dari ponsel,

20 persennya lagi dari situs-situs di internet,

sedang sisanya dari majalah, VCD, dan media lainnya.

Data dari dunia game online juga tak kalah mencengangkan.

Berdasarkan data di atas - kebebasan anak-anak untuk mengakses dunia maya - tentunya menjadi hal yang sangat mencemaskan.

Apalagi jika hal tersebut dilakukan di warnet, yang notabene terlepas dari pengawasan orangtua. (Meski sudah ada beberapa warnet yang menerapkan aturan ketat untuk hal ini).

Atas kekhawatiran itulah kemudian banyak dari para orangtua yang membekali anak-anak mereka dengan gadget pribadi,

dengan tujuan agar penggunaannya bisa mendapat pengawasan langsung oleh orangtua.

Tapi efektif-kah?

Sebuah pertanyaan menggelitik - yang saya yakini – kita semua bisa menjawabnya.


Bahaya Penggunaan Internet bagi Anak-anak


Kita memang tidak menutup mata akan hal-hal positif yang bisa didapatkan dari internet.

Namun, seperti yang sudah disinggung di atas tadi bahwa tanpa pengawasan yang ketat, penggunaan internet untuk anak-anak justru bisa menjadi bumerang.

Beberapa dampak buruk di bawah ini, seharusnya bisa menjadi pertimbangan bagi para orangtua sebelum mengijinkan anak-anak mereka mengakses internet.

[-]  Kecanduan pornografi dan game online

[-]  Dampak lanjutannya, anak-anak cenderung meniru perilaku buruk yang dilihatnya

[-]  Secara psikologis, anak akan menjadi gampang marah dan emosional

[-]  Dalam bidang pendidikan, hal ini bisa menjadikan anak malas, dan

[-]  Mengurangi kreatifitas mereka

[-]  Dari sisi keuangan keluarga, ini adalah pemborosan

[-]  Durasi yang lama di depan layar dapat mengganggu kesehatan mata anak-anak

[-]  Interaksi dengan dunia nyata akan berkurang

[-]  Kemungkinan terpapar oleh ide-ide yang menyesatkan


Proteksi Anak-anak dari Bahaya Internet


Bagaimanapun juga, sebagai bekal untuk menghadapi era yang “lebih digital” lagi,

setuju atau tidak, pengenalan terhadap dunia internet ini harus dilakukan pada anak-anak kita.

Mereka harus memiliki “senjata” untuk bisa survive di jamannya nanti.

Lalu langkah-alangkah apa yang tepat yang harus dilakukan oleh orangtua untuk mengatasi persoalan ini?

Berikut ini ada 10 langkah praktis yang bisa diterapkan untuk mengajarkan kepada anak-anak tentang dunia internet,

sekaligus melindungi mereka dari dampak buruknya.


1. Jelaskan hal-hal positif tentang gadget dan akses internet yang kita berikan

Ini adalah hal pertama yang harus kita lakukan.

Jelaskan manfaat yang bisa mereka dapatkan dari gadget dan internet,

lalu tekankan hal-hal buruk yang bisa diakibatkan olehnya.

Tentu saja hal ini baru bisa kita terapkan pada anak-anak yang sudah dapat membedakan mana hal-hal yang baik dan mana perilaku yang buruk.


2. Berikan gadget sesuai usia anak dan sesuai kebutuhan

Berkaitan dengan poin sebelumnya,

ketika anak masih belum bisa mempertanggung jawabkan perbuatannya, maka pemberian gadget dan akses internet justru hanya akan merusak mereka.

Dan sampai saat ini saya berpendapat bahwa untuk anak-anak usia SD,

pemberian akses internet masih belum diperlukan.

Kalaupun ada tugas sekolah yang mengharuskan mereka menggunakan internet,

maka kita bisa menemani mereka ke warnet atau meminjamkan laptop kita untuk sementara.


3. PC masih lebih relevan

Dibanding smartphone atau tablet, memberikan anak-anak sebuah komputer rumah masih lebih rasional.

Bentuknya yang tidak mobile akan memudahkan kita untuk mengawasi mereka.

Dengan meletakkan komputer di ruang tengah,

kita bisa langsung mengetahui apakah anak-anak sedang menggunakan fasilitas internet atau tidak.


4. Atur penggunaannya

Sebagai orangtua, kitalah yang mengatur anak. Bukan sebaliknya.

Kontrol untuk hal ini sepenuhnya ada di tangan orangtua.

Kapan anak-anak boleh menggunakan gadgetnya,

kapan mereka boleh mengakses internet,

berapa lama durasinya, dsb.

Dan seperti poin no. 3, jika anak-anak menggunakan laptop atau smartphone,

atur agar mereka tidak menggunakannya di kamar pribadi atau secara sembunyi-sembunyi.

Silahkan baca juga cara membuat kesepakatan dengan anak, di sini.


5. Sanksi yang tegas

Setiap peraturan harus memiliki sanksi yang tegas.

Segera terapkan ketika anak-anak melanggarnya.


6. Maksimalkan fasilitas parental control

Setting password wifi agar hanya kita saja yang tahu.

Kita juga bisa menginstal software proteksi,

serta melakukan pengaturan-pengaturan pada browser, ISP, dan menggunakan DNS Nawala untuk memblokir situs-situs terlarang.

Search Engine dan YouTube juga bisa diset untuk memblock konten-konten dewasa.

Selain itu kita juga bisa mengenalkan situs-situs yang bagus dan recommended untuk mereka.

Untuk langkah-langkahnya, kita bisa menggunakan mesin pencari untuk mencarinya.


7. Jadilah sahabat yang menjaga mereka

Sebagai “penjaga”, kita juga perlu melibatkan diri pada dunia mereka.

Kita bisa menjadi teman anak-anak di medsos, sehingga kita mengetahui ruang gerak mereka, siapa teman-temannya dan bagaimana anak-anak kita bersikap di dunia maya.

Kita harus bisa menjadi tempat bertanya dan curhat mereka.

Tekankan bahwa kita tidak melarang mereka ber-internet, tapi dengan batasan-batasan tertentu yang bisa mereka pahami.


8. Etika bergaul dan privasi

Yang juga penting untuk diajarkan kepada anak-anak adalah bagaimana melindungi privasi mereka di dunia online.

Tidak semua info pribadi boleh kita share di sana.

Nomor kontak, alamat rumah atau sekolah, foto-foto pribadi keluarga adalah data-data berharga yang hanya boleh diketahui oleh orang-orang tertentu saja.

Jelaskan juga bagaimana anak-anak harus bersikap pada teman-temannya,

juga pada orang-orang yang baru dikenalnya di media sosial.


9. Berikan teladan

Tentu saja, keteladanan adalah sebuah keharusan di dalam mendidik anak-anak.

Keteladanan juga berarti, kita ikut mematuhi peraturan yang kita terapkan pada anak-anak.


10. Jangan lupakan interaksi dunia nyata

Sebagai kesimpulan dan penutup artikel ini,

kita menyadari kebutuhan anak-anak terhadap gadget dan internet.

Namun bagaimanapun juga, hubungan sosial di kehidupan nyata juga tidak boleh ditinggalkan.

Jika perlu, mungkin ada hari-hari khusus dimana keluarga sama sekali tidak boleh menggunakan gadget dan internet.

Jika dirasa-rasa, poin terakhir ini kelihatannya seru juga ya?

Tuesday, August 16, 2016

Mendidik Anak itu Sulit, Awali dengan 3 Hal ini!

Pohon bambu adalah salah satu jenis pohon yang memiliki pertumbuhan paling cepat di dunia.

The Book of Bamboo, karangan David Farelly (1984) melaporkan bahwa sebuah pohon bambu bisa tumbuh setinggi 1 meter hanya dalam waktu 24 jam saja!

Dan pada beberapa jenis, bambu ini bisa tumbuh hingga mencapai ketinggian 30 meter!

parenting, pendidikan karakter, pendidikan anak

Namun tahukah anda bahwa untuk mencapai “kecepatan” tumbuh seperti itu, sebatang bambu membutuhkan waktu hingga 5 tahun...

Ketika pertama kali ditanam, bambu tidak akan menunjukkan perkembangan yang berarti, meski sudah dipupuk atau disiram setiap hari.

Hal ini terjadi hingga tahun keempatnya.

Namun saat menginjak umur 5 tahun, barulah bambu ini akan tumbuh melesat cepat dan menjulang dengan tingginya!

Alasan kenapa pada tahun-tahun pertamanya bambu tidak mengalami pertumbuhan pada batangnya,

karena ternyata, ia mengalami perkembangan pada akarnya.

Bambu sedang mempersiapkan akar yang kuat, yang akan ia gunakan untuk menopang dan menahan batangnya yang tinggi.

Dari filosofi bambu ini kita bisa ambil setidaknya 2 pesan moralnya.



Satu: Pendidikan anak-anak bukan sesuatu yang instan


Seperti bambu yang butuh waktu untuk persiapan tumbuh, begitu juga dengan anak-anak.

Kita tidak bisa mendidik mereka dengan hanya beberapa kalimat lalu berharap hasilnya bisa terlihat seketika itu juga.

Tentu butuh waktu yang panjang agar kalimat-kalimat itu bisa menancap kuat di dada mereka,

membentuk pola pikir mereka,

dan kemudian menentukan bagaimana mereka bertindak.

Saya sudah pernah menulis tentang tahapan mendidik anak di sini.

Karena itulah sebagai orangtua sekaligus pendidik mereka, kunci utamanya ada dua:

SABAR dan KONSISTEN.

Tanpa kedua hal ini, mustahil pendidikan bisa berhasil.



Dua: Pendidikan anak-anak harus dibangun sejak dini


Sebagaimana membangun sebatang bambu, maka seperti itulah gambaran kita membangun karakter anak-anak.

Mendidik mereka diibaratkan sama seperti mempersiapkan tunas-tunas bambu. (Mungkin karena inilah anak-anak itu disebut sebagai “tunas bangsa”).

Seorang ahli perkembangan dan perilaku anak, Brazelton, mengatakan bahwa tahun-tahun pertama yang dilalui oleh seorang anak akan menentukan pola pikirnya di dalam menghadapi permasalahan-permasalahan yang dihadapinya kelak.

Hal ini menunjukkan betapa pentingnya “pembentukan akar” untuk menghasilkan mental yang kuat pada diri anak-anak.

Lalu pertanyaannya,

jika proses pembentukan ini harus dimulai sedini mungkin, apa yang harus dilakukan oleh orangtua untuk mengawali langkah ini?

Studi dari beberapa psikolog anak menyebutkan bahwa untuk membentuk karakter yang kuat pada diri anak, maka ada 3 hal yang harus dimantapkan terlebih dahulu.

Ada yang menyebut ketiga hal ini dengan istilah “Triangle of Reflections”,

yaitu pemahaman tentang diri sendiri, pemahaman tentang lingkungannya dan pemahaman tentang Tuhan.


MEMAHAMI DIRI SENDIRI

Seperti yang pernah disampaikan pada 9 Tipe Kecerdasan Manusia, bahwa pada beberapa anak memang telah dianugerahi kecerdasan intrapersonal,

yaitu kemampuan untuk menganalisis kelebihan dan kekurangan diri sendiri.

Namun bukan berarti pada anak-anak yang lain kecerdasan ini tidak bisa dirangsang.

Justru jika anak-anak kita bukan termasuk yang memiliki kecerdasan tipe ini, maka kita harus berupaya membantu mereka untuk mengenali dan memahami diri mereka sendiri.

Beberapa langkah yang bisa kita lakukan antara lain:

1. Komunikasi dua arah


Biasanya, orangtua adalah pihak yang paling tahu tentang karakter buah hati mereka.

Maka bantulah mereka dengan sesering mungkin berkomunikasi secara pribadi.

Dorong mereka untuk mengutarakan perasaannya, lalu berikan saran atau motivasi untuk itu.

Hal ini dapat memicu kepercayaan diri mereka, yang dalam konteks ini, menjadikan mereka untuk berpikir secara lebih obyektif tentang kelemahan diri mereka.

2. Tidak terlalu mudah membantu mereka


Salah satu dari salah dua poin agar anak memahami dirinya sendiri adalah dengan mengerti tentang kelemahannya.

Dengan terlalu mudah menjadi dewa penolong di saat mereka kesulitan justru akan menutup pintu bagi mereka untuk memahami diri sendiri. (Silahkan baca 10 kalimat yang menghancurkan harga diri anak)


MEMAHAMI LINGKUNGANNYA

Satu-satunya cara untuk memahami lingkungan adalah dengan terjun langsung untuk bersosialisasi dengan mereka.

Dengan mengajari anak-anak bersosialisasi, berarti kita memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengenali karakter-karakter di luar diri mereka,

yang hal ini tentu saja dibutuhkan untuk penguatan mental mereka.

Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengajari anak-anak mengenali lingkungannya.

1. Beri contoh langsung


Cara paling efektif untuk mengajari anak-anak adalah dengan memberi mereka contoh yang praktis.

Tunjukkan bagaimana kita menyapa tetangga, berbicara dengan teman atau berinteraksi dengan orang lain.

Hal ini dipercaya bisa mendorong mereka untuk bersikap terbuka terhadap lingkungannya.

2. Memiliki komunitas


Bagi siapapun, komunitas adalah sebuah tempat dimana setiap anggotanya lebih mudah untuk saling berinteraksi dan berbagi.

Hal ini karena pada komunitas terdapat kesamaan visi, misi ataupun hobi.

Jadi, tidak ada salahnya membiarkan anak-anak punya kelompoknya sendiri.

Atau kita bisa mengarahkan mereka untuk bergabung dengan tim- tim olahraga, atau sekedar bermain bersama dengan teman-teman di sekitar rumah.

3. Jangan terlalu over


Maksudnya adalah jangan terlalu memaksanya untuk keluar ataupun terlalu menahannya di dalam rumah.

Keduanya tidak baik untuk perkembangan anak-anak.

Persilahkan mereka untuk berekspresi, namun jangan sampai lalai mengawasi.


MEMAHAMI KONSEP KETUHANAN

Saat terbaik untuk mengajarkan sesuatu kepada anak-anak adalah ketika mereka sudah bertanya tentang hal itu.

Sebuah ungkapan mengatakan,

“When the student ask WHY or HOW, that is when they are really ready to learn something.”

Mungkin pernah terucap dari anak-anak kita pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan konsep ketuhanan ini. Misalnya,

“Kok dia bisa mati?”

“Tuhan itu di langit ya?”

“Uang ini dari Tuhan?”

Dan dengan berbagai variasinya.

Maka ketika kita berbicara tentang Tuhan kepada anak-anak, kita harus menggunakan bahasa mereka untuk menjelaskan hal ini.

Penjelasan sederhana seperti misalnya bahwa Tuhan itu tidak bisa dilihat namun bisa dirasakan, atau bahwa Tuhan akan selalu menjaga anak-anak yang baik,

bisa diberikan untuk mengawali penjelasan kita,

lalu secara bertahap sesuai dengan kapasitas usia mereka.

Selain dengan penjelasan-penjelasan sederhana, kita juga bisa mengajarkan kepada anak-anak untuk mengenal Tuhan mereka dengan misalnya,

mengajarkan doa-doa pendek yang dibaca setiap hari,

atau mengenalkan tentang ritual-ritual keagamaan yang memancing rasa ingin tahu mereka,

atau bisa juga dengan mengajak mereka bersedekah atau berbagi dengan anak-anak jalanan dan orang-orang yang kurang mampu.



Wednesday, August 10, 2016

3 Dampak Buruk Membanggakan Anak yang Tidak Disadari Orangtua

Mohon maaf jika beberapa hari ini ayahnulis.blogspot.co.id tidak mengupdate artikel-artikel terbaru,

karena ada beberapa hal yang harus diselesaikan di dunia nyata. H-hee...


Sebelumnya, ada 2 hal yang ingin saya sampaikan tentang anak atau lebih spesifik lagi adalah buah hati kita.


Pertama: Kehadirannya membahagiakan

Tidak bisa dipungkiri bahwa bagi sepasang suami-istri, kehadiran seorang anak adalah hal yang sangat dinantikan di dalam kehidupan mereka.

Berapa banyak pasangan yang sudah bertahun-tahun menikah namun masih belum juga dikaruniai momongan.

Bagi pasangan yang bersangkutan, hal ini bisa memicu efek psikologis, entah diakui atau tidak.

Belum lagi pertanyaan-pertanyaan “tajam” yang dilontarkan oleh orang-orang di lingkarannya.

“Kapan punya anak?”, atau “Sudah berapa anaknya sekarang?”

yang tentu saja semakin menambah beban bagi pasangan tersebut.

Nah, ketika kemudian kita dikaruniai oleh Tuhan seorang anak,

maka inilah suatu hal yang paling membahagiakan, yang mungkin sulit diungkapkan oleh deretan kata-kata.


Kedua: Prestasinya membanggakan

Kalau kehadirannya saja sudah membahagiakan, bagaimana jika seandainya di dalam perkembangannya ia memiliki “nilai lebih” dibandingkan dengan teman-teman sebayanya?

Tentu, sebagai orangtua kita memang pantas bersyukur.

Sebenarnya tidak ada larangan untuk mensyukuri rezeki yang dikaruniakan Tuhan kepada kita.

Malah hal ini sangatlah dianjurkan oleh agama.

Namun yang perlu digarisbawahi di sini adalah bahwa “mensyukuri” dan “membanggakan” memiliki definisi arti yang jauh berbeda,

meski di dalam praktek nyatanya justru batasan yang ada amatlah tipis.

Jika mau disandingkan,

biasanya SYUKUR itu bersifat “ke dalam”, sedang BANGGA lebih cenderung “keluar”.

Syukur itu dinikmati di dalam hati, sedang kebanggaan itu diberitakan ke tetangga-tetangga.

Maka ketika kita mencoba bersyukur dengan cara “keluar”, bisa jadi saat itulah kita terjebak ke dalam definisi membanggakan.

Kalau sudah membanggakan, maka tinggal satu klik saja kita sudah masuk ke dalam ketegori MENYOMBONGKAN.

Pernah dengan ibu-ibu yang berkumpul lalu masing-masing menceritakan keunggulan putra-putri mereka?

“Alhamdulillah, bu. Anak saya sudah bisa membaca meski umurnya baru 2 tahunan.”

“Anak saya itu aktif sekali lho, Jeng. Masa’ belum 1 tahun sudah jalan...”

Ini adalah sedikit contoh bagaimana orangtua membanggakan kelebihan anak-anak mereka.

Alih-alih menuai hasil yang positif, sikap bangga atas prestasi anak ini justru akan menimbulkan dampak yang tidak baik.

Berikut ini adalah akibat buruk yang tidak disadari orangtua karena membanggakan anak-anak.


1. Kebiasaan Membandingkan


Saat kita membanggakan kelebihan anak kita, maka yang terjadi sebenarnya adalah kita membandingkannya dengan anak lain (atau anak lawan bicara kita).

Kenapa membandingkan ini menjadi dampak yang buruk?

Ketika kita sudah terbiasa membandingkan anak kita dengan anak orang lain,

maka perhatian kita akan teralihkan.

Kita tidak lagi fokus memperhatikan anak sendiri, melainkan lebih konsentrasi pada anak orang lain.

Inilah yang menyebabkan perhatian kita terhadap anak sendiri menjadi berkurang.

Selain itu, dampak buruk dari kebiasaan membandingkan ini adalah perasaan tidak nyaman dari lawan bicara kita.

Jika kebetulan anak lawan bicara kita “lebih unggul” daripada anak kita, maka bisa jadi ia akan membantah atau mengkritisi pernyataan kita,

yang hal ini sangat mungkin memicu perdebatan dan pertengkaran.

Namun jika anak dari lawan bicara kita ternyata jauh di bawah prestasi anak kita,

maka yang terjadi biasanya adalah mereka akan memaksa atau menuntut agar anak mereka bisa sama seperti anak kita, atau bahkan lebih unggul.

Hal inilah yang menjadi penyebab anak tertekan dan terbebani.


2. Kebiasaan Menggunakan Tolok Ukur Anak Lain


Setiap anak itu memiliki kecerdasannya masing-masing.

Anda bisa baca tentang 9 macam tipe kecerdasan anak di sini.

Karena itu kita tidak bisa menilai kelebihan seorang anak diukur berdasarkan prestasi anak lain.

Jika hal ini yang terjadi maka kita sudah terjebak pada cara pandang bertingkat,

dimana si A dinilai lebih baik daripada si B, hanya karena si B tidak memiliki prestasi seperti si A.


3. Kebiasaan untuk Bersaing


Setelah membandingkan anak yang satu dengan anak yang lain,

lalu menilai mereka dengan tolok ukur yang salah,

maka dampak selanjutnya yang akan muncul dari sikap membanggakan ini adalah kebiasaan untuk bersaing.

Berkompetisi dengan cara yang sehat tentu saja baik untuk perkembangan mental mereka.

Namun jika kebiasaan ini adalah karena “merasa kalah” dan ingin selalu lebih unggul daripada anak lain,

maka ini yang tidak sehat.

Persaingan semacam ini akan membawa “penyakit” baru di dalam dunia mereka, yaitu dendam.

Sehingga kemudian mereka lebih suka bertarung daripada berteman.


Tahan diri dari sikap membanggakan


Sebenarnya, ada satu hal yang bisa kita tanamkan ke dalam diri kita untuk menjaga kita dari sikap membangga-banggakan anak,

yaitu pemahaman bahwa mereka itu masih anak-anak.

Mereka masih dalam proses berkembang dan membentuk.

Karena itulah, masih terlalu dini bagi kita untuk membangga-banggakan mereka sekarang.

Kalau nanti mereka menjadi seperti apa yang kita banggakan, tidak jadi masalah.

Jika tidak? Kita dan mungkin juga mereka akan menjadi bahan ejekan orang lain.

Praise them it’s ok.

Tapi memuji pun jangan sampai merusak harga diri mereka,

dan jangan berlebihan yang membuat mereka menjadi sombong.

Ingatlah bahwa perjalanan mereka masih sangat panjang.

Mereka masih harus melewati banyak rintangan dan permasalahan.

Jadi daripada membangga-banggakan mereka, bukankah lebih baik kita fokus pada setiap tahap perkembangan mental mereka?


Cerita 1

Ada seorang ibu-ibu yang senang sekali menceritakan prestasi anaknya.

Bagaimana tidak, anaknya ini sudah hafal 3 juz Al-Qur’an meski usianya belum sampai 5 tahun.

Awalnya dia berpendapat prestasi itu perlu diceritakan agar menjadi motivasi bagi orangtua yang lain.

Namun beberapa waktu kemudian, anaknya ini tiba-tiba tidak mau lagi melanjutkan hafalannya. Meski si ibu sudah membujuknya dengan berbagai cara.

Ada semacam tekanan orangtua yang tidak bisa dihadapi oleh si anak.


Cerita 2

Ada seorang bapak yang seringkali membangga-banggakan anaknya di depan teman si bapak tersebut.

Tentang anaknya yang langganan juara, lalu mendapat bea siswa untuk masuk di universitas terkemuka, dan bla bla bla...

Namun bertahun kemudian, nasib bergeser.

Anak si bapak tadi sekarang hanya punya usaha kecil-kecilan di rumah, sedangkan anak temannya sering mendapat undangan ke berbagai negara untuk seminar atau mengajarkan ilmunya.

***

Sebenarnya jika kita mau membuka mata dan telinga, ada banyak cerita di sekitar kita yang bisa dijadikan contoh.

Tahanlah diri dari berbangga, karena sombong adalah teman dekatnya.

Syukuri dalam hati, nikmati di dalam sunyi.

Doakan mereka agar menjadi lebih baik,

dengan mengajarkan dan mencontohkan hal-hal yang baik.



Sunday, August 7, 2016

Anak Juga Punya Harga Diri, 10 Kalimat Ini Akan Menghancurkannya!

Harga diri - atau yang biasa diterjemahkan sebagai penilaian terhadap diri sendiri – adalah suatu komponen yang harus ada pada diri setiap anak.

Harga diri biasanya tumbuh seiring dengan kepercayaan diri.


Pada beberapa kondisi,

mereka merasa diri mereka tidak berharga sehingga membutuhkan penghargaan dari lingkungan sekitarnya.

Hal inilah yang kemudian melahirkan permasalahan lanjutan, yaitu menurunnya rasa percaya diri.

Ternyata Disiplin Juga Bisa Merusak Anak! yang sempat saya share beberapa minggu yang lalu menjelaskan dampak-dampak yang timbul

apabila perasaan tidak dihargai ini terlanjur melekat pada diri mereka.

Kita – para orangtua – tentu berharap agar anak-anak kita memiliki rasa percaya diri yang bagus dan kemampuan untuk menghargai diri mereka sendiri.

Namun sayangnya, tidak semua respon kita berkontribusi ke arah sana.

Yang seringkali terjadi malah sebaliknya,

respon kita terhadap apa yang mereka lakukan – tanpa kita sadari - justru dapat mengikis harga diri mereka.

Riset dari beberapa orang yang concern terhadap dunia parenting, merumuskan ada 10 kalimat yang bisa menghancurkan harga diri anak-anak.


1. Kalimat “Kamu memang hebat...”


Banyak dari kita yang beranggapan bahwa pujian terhadap anak bisa menumbuhkan rasa percaya diri mereka.

Hal ini bisa jadi benar, bisa jadi tidak.

Untuk lebih jelasnya, anda bisa membaca kembali 7 aturan tentang memuji anak di sini.

Salah satu poinnya adalah memuji apa yang dilakukan, bukan memuji siapa yang melakukan.

“Kamu penari yang hebat...”

“Kakak pandai ya... bisa ranking 1 lagi!”

Adalah contoh-contoh pujian yang ditujukan untuk pelakunya.

Hal ini tidak akan menambah rasa percaya diri atau membentuk harga dirinya.

Bagaimanapun kita perlu menekankan pentingnya sebuah proses bagi mereka.

Karena jika mereka tidak tahu pentingnya sebuah proses (artinya mereka hanya terpacu kepada hasil),

maka anak-anak itu akan berpikir bahwa pujian itu hanyalah karena hasil yang telah mereka capai dan mereka tidak pernah merasa ada apresiasi untuk kerja keras yang telah dilakukan.

Maka yang jauh lebih membangun adalah pujian atas usaha mereka, misalnya,

“Tarian yang tadi sangat indah sekali, Sayang. Kamu pasti berlatih keras untuk itu. Ibu suka.”

“Itulah kalau kakak rajin belajar, hasilnya... kakak bisa menjawab semua soalnya dengan mudah!”

Dengan gaya memuji yang seperti ini, maka di dalam hati anak-anak itu akan ada respon seperti ini,

“Aku telah berlatih dan berusaha keras. Dan orangtuaku ternyata menghargaiku usahaku itu.”

Lihat,

dari sinilah harga diri itu tumbuh.


2. Kalimat “Kamu membuat ibu marah!”


Biasanya orangtua mengucapkan kalimat ini dengan tujuan untuk membuat anak menyadari dan mengubah perilaku buruknya.

Namun, kalimat-kalimat yang senada dengan ini justru akan membuat anak merasa bersalah, takut dan rendah diri.

Ketika sedang marah, hindarilah mengucapkan kalimat-kalimat seperti ini.

Lebih baik ajaklah anak berdiskusi tentang apa yang dilakukannya. Bantu anak memahami apa yang sedang terjadi.


3. Kalimat “Gitu aja gak bisa...”


Masing-masing anak terlahir dengan kemampuan yang berbeda-beda.

Bisa jadi sebuah tugas yang sama menjadi mudah dilakukan oleh anak yang satu, namun sangat sulit dikerjakan oleh anak-anak yang lainnya.

Orangtua harus bisa memahami hal ini.

Mengatakan “Begitu saja tidak bisa...” atau “Ini lho gampang. Seharusnya kamu mampu...”

sebenarnya justru akan mengecilkan kepercayaan diri anak-anak dan membuat mereka mudah putus asa.

Tanpa disadari pemikiran yang akan muncul pada pada diri anak adalah,

“Berarti ada yang salah dengan diriku. Mungkin aku memang anak yang bodoh...”

Sebaliknya, jika kita katakan bahwa hal tersebut mungkin adalah hal yang sulit,

dan terus mendorong mereka untuk berusaha dan tetap berpikir positif,

maka jika ternyata mereka bisa melakukannya, kepercayaan diri mereka akan langsung meningkat.

Akan tetapi jika mereka gagal, paling tidak mereka tahu bahwa hal tersebut memang sulit sehingga anak-anak tidak merasa minder.


4. Kalimat “Kamu tidak akan mampu melakukannya”


Mungkin anda akan bertanya, apakah ada orangtua yang mengatakan hal seperti itu kepada anak mereka?

Jika yang dimaksud adalah perkataan secara verbal, mungkin tidak ada.

Namun yang menjadi poin di sini adalah bahasa tubuh orangtua yang menunjukkan hal itu.

Kapan bahasa tubuh kita mengatakan hal itu?

Saat anak kesulitan mengikat tali sepatunya, lalu kita membantu mengikatkannya.

Saat anak kerepotan memakai baju seragamnya, lalu kita memakaikannya.

Intinya adalah membuat segalanya terlalu mudah bagi anak.

Hal ini akan menghilangkan kesempatan mereka untuk belajar mandiri.

Tidak terlalu mudah memberikan bantuan kepada anak juga melatih mereka untuk bertanggung jawab terhadap diri mereka sendiri.


5. Kalimat “Jangan lakukan itu, nanti kamu...”


Atau kalimat lainnya yang menyiratkan ketakutan kalau anak-anak kita akan melakukan kegagalan.

Kegagalan,

bagaimanapun juga - jika disikapi dengan pikiran positif – bisa memiliki dampak yang baik.

Kegagalan anak-anak sebenarnya adalah kesempatan mereka untuk bersikap kesatria dengan mengakuinya, lalu bangkit kembali untuk memperbaikinya.

Setiap kita juga pernah gagal. Hal itu jugalah yang membentuk diri kita yang sekarang, bukan?

Kita, pada akhirnya belajar dari kegagalan tersebut.

Sebagai orangtua, kita mungkin merasa harus mencegah mereka dari kegagalan. Namun, sikap ini tidak membantu untuk membentuk kepercayaan diri mereka.

Karena jika dicermati,

yang membuat kita merasa memiliki harga diri bukan karena kita tidak pernah gagal,

namun bagaimana cara kita menanggapi serta mengatasi kegagalan tersebut.

Maka cara bertindak terhadap sebuah kegagalan inilah yang seharusnya kita ajarkan kepada mereka.


6. Kalimat “Nanti saja, ya...”


Anak-anak kita adalah bagian dari hidup kita. Maka semestinya mereka juga punya hak atas waktu kita.

Sebagai bagian dari tugas orangtua untuk membiayai kehidupan dan pendidikan mereka, kita mungkin harus bekerja keras untuk memenuhinya.

Namun menyediakan waktu kita untuk mereka telah menjadi bagian dari tugas kita juga.

Artikel yang berjudul Punya Perasaan Bersalah Terhadap Anak-anak? Hati-hati! bisa memperjelas bagian ini.

Ketika anak-anak kita mengajak bermain di saat kita sedang sibuk, lalu kita menunda-nunda waktunya atau mengalihkannya untuk bermain dengan orang lain,

sebenarnya kita telah mengikis harga diri mereka,

karena anak akan mulai merasa bahwa kita “menghindari” mereka, sehingga muncul perasaan bahwa diri mereka tidak diinginkan di dalam keluarga.

Duduk bersama dan mengobrol ringan tentang kegiatan mereka di rumah,

pergi ke masjid atau ke pasar dengan berjalan kaki,

atau meminta mereka membantu pekerjaan kita di rumah,

adalah cara-cara sederhana dan tidak meminta waktu banyak untuk membuat anak merasa dihargai.


7. Kalimat “Kamu ini memang nakal...”


Ucapan kepada anak “Kamu kok nakal sih?”, “Kamu ini bodoh sekali...”, “Dasar tidak tahu diri!”, dan ucapan sejenis yang mengisyaratkan pelabelan pada anak menjadikan mereka cenderung meng-iyakan sebutan itu.

Dengan melabeli anak-anak dengan label yang buruk sebenarnya orangtua telah mendoakan mereka untuk menjadi seperti label tersebut.

3 Macam Cara Orangtua Mendoakan Keburukan untuk Anaknya boleh anda baca terlebih dahulu.

Saat anak-anak dipanggil dengan sebutan yang buruk, maka yang akan subur adalah perasaan rendah dan minder pada diri mereka.

Karena itu ketika kita sedang marah, tahanlah diri untuk tidak menyebut mereka dengan sebutan yang buruk.


8. Kalimat “Kalau kamu tidak mau menuruti ibu, ibu akan...”


Sebut saja kalimat mengancam.

Contoh yang senada sudah pernah saya pakai pada artikel yang berjudul Anak Tidak Menurut, Mungkin Kita Melakukan Kebiasaan “Kecil” Ini, namun dengan maksud yang berbeda.

Para orangtua biasanya menggunakan cara yang dianggap ampuh untuk membuat anak menuruti kemauan mereka.

Yaitu dengan metode ancaman.

Dengan cara ini kita berharap agar anak-anak mau melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak ingin mereka lakukan.

Pada akhirnya, mungkin mereka akan melakukannya.

Namun tanpa kita sadari metode seperti ini justru akan menanamkan pada diri anak-anak bahwa untuk mendapatkan penghargaan orang lain,

mereka harus melakukan sesuatu yang diminta oleh orang tersebut.

Pakar parenting anak menyebut bahwa anak-anak yang tumbuh dewasa dengan cara ini cenderung menjadi korban kekerasan seksual ataupun KDRT.


9. Kalimat “Sudah, tidak apa-apa...” atau “Sudah, lupakan saja...”


Ucapan-ucapan semisal ini sepintas terlihat baik untuk mereda kekecewaan atau kemarahan anak,

namun dengan kalimat seperti itu anak akan merasa bahwa orangtua mereka tidak menghargai apa yang sedang mereka rasakan.

Seolah-olah mereka berkata, “Aku ini kecewa, aku ini sakit hati. Kenapa ayah bilang tidak apa-apa?”

Ketika setiap mereka mendapat masalah kita selalu menekankan “Sudah, tidak apa-apa”,

maka mereka akan terdoktrin untuk mentoleransi semua keadaan.

Masalahnya adalah,

kita tidak pernah bisa menjamin bahwa apa yang akan dialami anak-anak kita adalah sesuatu yang baik untuk tumbuh-kembang mereka.

Pada perjalanan mereka nanti, pasti akan ada keadaan dimana mereka tidak boleh membiarkannya.

Maka yang perlu kita ajarkan kepada mereka bukan sikap mentoleransi semua keadaan,

namun bagaimana mereka bersikap atas keadaan tersebut.

Saat mereka terjatuh, jangan katakan “tidak apa-apa”.

Namun ajari mereka untuk berhati-hati memilih jalan yang tidak licin.

Saat mereka diganggu teman-teman sekelasnya, jangan katakan “lupakan saja”.

Namun ajari mereka bagaimana merespon kondisi tersebut.

Cara-cara inilah yang lebih menumbuhkan harga diri mereka.


10. Kalimat “Terserah!!!”


Sebenarnya saya cukup kesulitan mencari judul yang tepat untuk poin terakhir ini, karena kalimat yang akan saya contohkan menggunakan bahasa Jawa.

Namun saat ditranslate ke dalam bahasa Indonesia hasilnya kurang bisa menunjukkan maksud yang sebenarnya.

Karena alasan itulah saya harus menggunakan 3 buah tanda seru agar maksudnya bisa ditangkap.

Contoh-contoh kalimat lainnya misalnya, “Semaumu!!!”, “Kalau tidak bisa, ya sudah!!!”,

atau kalimat-kalimat lain yang mengindikasikan sikap pesimis dan menyerah ketika merasa gagal saat melakukan sesuatu.

Bagaimana kalimat-kalimat semacam ini bisa menurunkan harga diri anak?

Jawabannya sederhana. Like father like son atau Buah apel jatuh tidak jauh dari pohonnya.

Anak-anak kita selalu melihat dan mendengar kita. dari situlah mereka belajar.

Ketika yang sering mereka dengar adalah ungkapan-ungkapan pesimistis, maka seperti itulah mereka merespon masalah yang mereka hadapi.

Jadi ketika kita berharap anak-anak kita menjadi pribadi yang percaya diri,

maka bentuklah diri kita menjadi sosok orangtua yang optimis.