Tuesday, July 12, 2016

Bagaimana Mengajari Anak Bertanggung Jawab Terhadap Dirinya?

anak terjatuh, anak menangis, bertanggung jawab
Tanggung jawab

Suatu saat, si kecil yang baru belajar berjalan mulai mencoba untuk berlari. Namun tanpa sengaja kakinya tersandung sebuah batu. Si kecil pun terjatuh.

Dan menangislah ia...

Sang ibu langsung menghampiri dengan tergopoh-gopoh. Sambil memasang raut muka khawatir sang ibu langsung berkata,

“Mana yang nakal?? Oh batu ini ya? Ini sudah ibu pukul batunya. Cup-cup, sekarang diam ya...”

Ajaib...

si anak langsung terdiam.

Sebenarnya apa yang sedang terjadi?

***

Segala hal yang terjadi adalah sebuah pembelajaran.

Setiap respon kita terhadap kejadian tersebut, adalah juga sebuah pembelajaran.

Jika kejadian tersebut melibatkan pihak lain, maka respon kita merupakan pembelajaran bagi pihak lain tersebut.

Agar ia menjadi sebuah pembelajaran yang baik, maka respon kita terhadap hal tersebut haruslah respon yang benar dan tepat.

***

Pada contoh di atas, sebuah pembelajaran bagi anak juga sedang terjadi.

Reaksi kita berupa pemukulan terhadap benda lain yang dianggap sebagai sumber kesalahan adalah pembelajaran bagi anak bahwa bukan dirinya yang bersalah.

Ketika kita menghukum benda lain  karena kejadian yang menimpa buah hati kita, maka pada saat yang sama kita telah mengajarkan kepadanya bahwa yang bersalah dan layak dihukum adalah orang lain.

Bukan dirinya.

Alih-alih mengoreksi kesalahan anak, orangtua lebih memilih untuk menimpakan kesalahan kepada pihak lain.

Secara sepintas perbuatan seperti ini terlihat seperti perbuatan yang lumrah-lumrah saja. 

Tapi sadarkah kita bahwa sebenarnya proses “pengalihan kesalahan” ini lambat-laun akan berubah menjadi sebuah pola berpikir yang kuat di dalam pikiran anak-anak kita.

Ia akan menancapdalam dan turut andil membentuk kepribadiannyasaat ia dewasa.

Selanjutnya setiap kali ia mengalami suatu masalah, maka ia akan mencari siapa orang yang harus dipersalahkan dan yang harus diberi sanksidalam hal tersebut.

Padahal belum tentu kesalahan itu ada pada orang lain.

Sementara ia selalu merasa “bebas” dari salah.

Dengan pola ajar semacam ini, anak akan menjadi tidak memiliki rasa tanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan masalah yang sedang terjadi.

Imam Al-Ghazali pernah mendefinisikan apa itu pengertian pendidikan. Menurut beliau,

“Pendidikan itu adalah sebuah proses untuk menghilangkan karakter yang buruk dengan menanamkan akhlak yang baik,”

Jika memang seperti itu adanya, maka setiap orangtua harus menghentikan pola didik seperti ini. Jangan membiasakan buah hati kita untuk mencari-cari kesalahan pada pihak lain.

Biarkan anak melatih tanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Setidaknya, biarkan ia menyadari kelalaiannya.

Atau, jika ia memang tidak melakukan kesalahan, 

maka jangan melimpahkan kesalahan kepada siapapun (atau apapun).

Ketika ia terjatuh karena sebuah batu, maka hampiri dan katakanlah dengan lemah lembut kepadanya,

“Kenapa? Jatuh ya? Sudah tidak apa-apa. Lain kali jalannya hati-hati ya... Sekarang jalannya pelan-pelan saja dulu.”

Dengan demikian anak akan menyadari kesalahan yang dia lakukan. 

Dan hal itu lebih berpotensi menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap dirinya sendiri sejak dini.


Pri617

Author & Editor

Bukan seorang ayah yang sempurna. Hanya berusaha mewariskan sifat baik dan sikap positif untuk anak-anak kami.

2 komentar:

  1. bener, mas. hal ini biasanya dilakukan orang tua terutama orang tua jaman dahulu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jaman skg juga masih ada sih, mas... makanya harus diubah.

      Delete