Friday, September 23, 2016

Inilah 4 Kesalahan Kita Sebagai Seorang Pemimpin!


parenting, pendidikan anak, pendidikan karakter, pemmpin


Setiap kita adalah pemimpin.

Dan setiap pemimpin akan diminta pertanggung-jawabannya atas apa yang dipimpinnya.

Mengutip perkataan Mas Jaya Setiabudi – mentor bisnis sekaligus founder dari yukbisnis.com -

memimpin adalah seni “mengelus” dan “menampar”.

Artinya bahwa seorang pemimpin harus tahu betul kapan saatnya menyayang, mengapresiasi dan memuji,

serta tahu kapan saatnya menegur, menghukum dan bertindak tegas.

Tugas seorang pemimpin itu bukan cuma memerintah dan menyuruh.

Seorang pemimpin yang baik adalah mereka yang tidak hanya meletakkan wewenang di pundak anak buahnya,

namun juga mengajarkan kepada mereka bagaimana bertanggung jawab terhadap wewenang tersebut.

Orangtua,

adalah pemimpin di dalam keluarganya.

Sosok ayah dan ibu secara otomatis menjadi leader bagi anak-anak mereka.

Hal inilah yang mewajibkan mereka untuk memiliki kemampuan memimpin ini.

Seperti kita tahu bahwa di dalam ilmu kepemimpinan, kita mengenal dua hal penting yang menjadi bahan dasarnya,

yaitu PENGHARGAAN dan HUKUMAN.

Kedua hal ini tidak boleh dipisahkan, karena keduanya merupakan satu-kesatuan.

Salah satunya tidak bisa diterapkan tanpa melibatkan yang lainnya.

Sedangkan kedua-duanya juga tidak bisa dihadirkan tanpa ada proses panjang sebelumnya.

Yaitu proses pengajaran tentang nilai-nilai kebaikan dan keburukan.

Jika diibaratkan sebuah pohon, maka kita tidak bisa memetik buahnya sebelum menanamnya.

Kita tidak bisa langsung memuji atau menghukum sebelum anak-anak paham kenapa hal tersebut mereka terima.

Lebih jauh, ada 3 catatan penting terkait dengan kedua hal ini.

Pertama.

Memberikan penghargaan (reward) tidak harus diwujudkan dalam bentuk hadiah materi, sebagaimana hukuman-pun tidak selalu harus ditunjukkan dengan perlakuan yang kasar.

Perhargaan terhadap seorang anak bisa dilakukan dengan pujian yang tulus, perhatian yang penuh dengan kasih sayang, dsb.

Mereka yang diapresiasi dengan cara ini biasanya akan menjadi lebih termotivasi untuk bersikap loyal.

Sedangkan mereka yang selalu mendapat materi atas keberhasilannya, hanya akan menjadi manusia-manusia pengejar materi yang mengabaikan nilai moral dan etika.

Kedua.

Penerapan kedua hal ini tidak bisa di-generalisir pada semua anak.

Artinya bahwa penghargaan atau hukuman yang berhasil diterapkan pada seorang anak,

belum tentu sukses saat diaplikasikan untuk anak yang lain.

Karakteristik yang berbeda pada tiap-tiap anak mengharuskan orangtua untuk memberikan pujian dan teguran dengan cara dan porsi yang tepat.

Ketiga.

Perlu timing yang tepat.

Dalam buku 30 Strategi Mendidik Anak karya Dr. Musthafa Abu Sa’ad, disebutkan bahwa kesalahan umum yang dilakukan oleh para orangtua di dalam penerapan ‘Perhargaan dan Hukuman’ ini adalah ketidak-tepatan dalam penempatan waktunya.

Kenapa timing ini penting?

Karena kita tahu bahwa hal-hal yang sebenarnya baik, namun jika penyampaiannya tidak pada waktu yang tepat,

justru akan menjadi tampak buruk.

Di dalam buku tersebut disebutkan ada 4 kesalahan orangtua di dalam penyampaian ‘penghargaan’ dan ‘hukuman’ yang tidak pada waktu yang tepat.


1. Tidak memberikan penghargaan pada sikap baik anak


Si Ahmad yang berhasil lulus dengan nilai yang cukup baik, segera berlari pulang dan ingin menunjukkan ijazahnya kepada sang ayah.

“Ayah, aku lulus! Lihatlah nilaiku!”

Tetapi si ayah tidak menoleh dan menghentikan aktivitasnya. Si ayah malah berkata,

“Ayah masih sibuk, jangan diganggu. Ganti seragammu. Sesudah itu pergilah bermain.”

See,

Jika anda yang berada pada posisi Ahmad, bagaimana perasaan anda?

Jengkel?

Kecewa?

Marah?

Tentu saja.

Namun dampak yang lebih parah sebenarnya adalah si Ahmad kemungkinan akan kehilangan semangatnya untuk belajar.

Ia akan berpikir percuma saja belajar.

Toh, meski mendapat nilai baguspun tidak ada pengaruhnya apa-apa.

Jika anda pernah membaca Cara Menjadi Pendengar yang Baik Untuk Anak Dalam 4 Langkah!,

maka anda akan tahu betapa pentingnya mendengarkan anak.


2. Memberikan penghargaan untuk sikap buruk anak


Si Adi yang diajak ibunya berbelanja ke sebuah mall tertarik pada sebuah mainan yang tengah dipajang di etalase.

Adi meminta untuk dibelikan mainan tersebut, namun si ibu menolak.

Adi kemudian merengek-rengek dan menangis keras di tengah-tengah pengunjung mall.

Akhirnya, karena tidak tahan menjadi pusat perhatian, si ibu akhirnya mengalah,

“Ya sudah, ibu akan belikan mainan itu. Tapi kamu harus berhenti menangis.”

Apa yang dilakukan oleh si ibu adalah contoh yang salah.

Dengan memberikan apa yang diminta anak pada kondisi seperti di atas akan memberikan pemahaman kepada anak bahwa memang begitulah cara untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Catatan ayahnulis tentang hal ini bisa anda baca pada tulisan yang berjudul Cara Tepat Mengatasi Anak yang Marah di Tempat Umum


3. Memberikan hukuman untuk sikap baik anak


Terdengar agak aneh ya? Tapi silahkan simak contoh berikut.

Saat ibunya sedang berada di luar rumah, Fatimah ingin memberikan sebuah kejutan untuk ibunya.

Ia lalu mengambil sapu dan membersihkan semua bagian rumah dan membuang kotorannya ke luar.

Saat ibunya datang, dengan bangga Fatimah mengatakan bahwa dirinya telah membersihkan rumah.

Namun si ibu justru memarahinya, “Kenapa kotorannya kamu buang di depan? Tuh, depan rumah jadi tampak kotor, kan?”

Fatimah yang mengira akan mendapat pujian harus kecewa karena yang diberikan ibunya justru ‘hukuman’ berupa kemarahan.

Sedangkan si ibu hanya melihat “kesalahan” yang dilakukan putrinya tanpa menimbang motif dibalik itu.

Tidak terburu-buru dalam menvonis anak adalah salah satu dari metode mengoreksi kesalahan anak. catatan selengkapnya bisa anda baca di sini.


4. Tidak memberikan hukuman untuk sikap buruk anak


Dua bersaudara terlibat pertengkaran dan perkelahian.

Meski kemudian terlihat kalau sang kakak meminta maaf pada adiknya, si ibu tetap meminta suaminya untuk memberi pengertian kepada mereka.

Namun si ayah justru tidak bereaksi apa-apa.

“Anak-anak itu memang begitu. Biarkan saja. Toh, nanti akan berbaikan dengan sendirinya.

Karena merasa dibela, jelas, sikap seperti ini akan memotivasi sang kakak untuk terus mengulangi perbuatan buruknya.

Sedangkan bagi sang adik yang merasa tidak pernah dibela justru akan memupuk sikap permusuhannya dengan sang kakak.

Singkatnya, membela dan menyalahkan salah satu,

atau membiarkan mereka begitu saja adalah sebuah langkah yang tidak bijak.

Perbuatan ini juga menjadi salah satu dari 9 alasan kenapa nasehat kita tidak didengarkan anak.

Yang harus dilakukan oleh orangtua adalah memahami penyebab pertengkaran tersebut dan menyikapinya dengan bijaksana dan se-adil mungkin.

Saturday, September 17, 2016

Hipersensitif dan Hiposensitif, Apa itu?

hipersensitif, hiposensitif, parenting, pendidikan anak

Sebagai orangtua yang masih sangat awam dengan dunia parenting,

istilah hipersensitif dan hiposensitif baru saya temukan beberapa hari terakhir ini.

Hal ini tidak lain karena putra pertama kami memiliki kecenderungan ke sana.

Hipersensitif juga dikenal di dunia medis.

Yaitu suatu keadaan dimana kulit balita sangat sensitif terhadap rangsangan dari luar tubuh.

Sensitifitas yang tinggi ini akan menyebabkan tanda-tanda fisik (misalnya ruam pada kulit balita, dsb).

Namun di dunia parenting,

istilah hipersensitif digunakan untuk anak-anak yang memiliki perasaan yang sangat peka.

Kepekaan yang berlebih ini tidak jarang menimbulkan masalah di dalam pergaulan mereka.

Saat anak berusia 5 tahun, kepekaan mereka akan meningkat.

Dan ini wajar.

Hal ini terjadi karena pada usia itu anak-anak sudah bisa melihat perbedaan dirinya dengan anak-anak yang lain,

yang membuat mereka menilai dirinya tidak sesempurna teman-temannya.

Namun meski dinilai wajar,

keadaan seperti ini tidak bisa dibiarkan begitu saja karena akan menjadikan anak tumbuh sebagai pribadi yang hipersensitif.

Dan ini bukan hal yang bagus.

Ada yang membagi hipersensitif ini ke dalam 2 macam.

Untuk lebih mudahnya, saya akan menggunakan 2 contoh kejadian di bawah ini.

Contoh 1

Saat melihat temannya terjatuh, anak anda tiba-tiba ikut menangis.

Rupanya ia juga ikut merasakan sakitnya jatuh seperti itu. Padahal mungkin saja, temannya yang jatuh tadi tidak merasakan sakit yang terlalu parah.

Kita bisa menyebut keadaan ini dengan hipersensitif ke luar.

Contoh 2

Saat bermain bersama anak-anak sebayanya, salah satu dari mereka mencoba menggoda anak anda dengan niat untuk bercanda.

Namun anak anda menanggapinya dengan serius, seolah-olah ia sedang diejek dan dilecehkan.

Anak anda marah, lalu terjadilah pertengkaran.

Keadaan ini dinamakan dengan hipersensitif ke dalam.

Di antara keduanya, jenis yang disebut terakhir inilah yang kerap menimbulkan dampak yang buruk.

Anak-anak hipersensitif cenderung memandang sekitarnya dengan negatif sehingga apapun dianggap salah bagi mereka.


Hipersensitif dan Hiposensitif, apa bedanya?


Kedua istilah di atas sebenarnya sama saja,

yaitu penyebutan untuk kondisi anak-anak yang memiliki perasan peka yang terlalu tinggi,

sehingga hal ini memicu reaksi negatif seperti mudah tersinggung, ngambekan, cengeng ataupun marah.

Perbedaannya adalah,

sensitifitas yang dimiliki anak-anak hipersensitif biasanya ditunjukkan secara langsung. Misalnya langsung marah ketika merasa dirinya diejek, dsb.

Sedangkan pada anak-anak dengan kecenderungan hiposensitif, seringkali lebih mampu menutupi perasaannya.

Hanya saja, perasaan yang disembunyikan ini kemudian akan ditumpuk menjadi dendam yang kuat.

Tanggal 6 September kemarin, dengan difasilitasi oleh pihak sekolah, kami – para wali murid - berkesempatan untuk bertemu dan berkonsultasi dengan Bpk. Heru Cahyo, seorang konsultan di bidang pendidikan anak-anak sekaligus konseptor sebuah sekolah swasta di daerah Barata Jaya, Surabaya.

Sedikit cerita saja, pada hari sebelumnya anak-anak kelas 1 diminta untuk menggambar obyek berupa rumah, pohon dan orang pada selembar kertas.

Dimana rumah merepresentasikan sosok ibu, pohon adalah ayah dan orang adalah diri mereka sendiri.

Dari susunan tiga buah obyek yang mereka gambar tadi, akan bisa diketahui bagaimana karakter anak serta bagaimana hubungan mereka dengan orangtua.

Satu hal yang sempat kami tanyakan saat itu adalah apa penyebab anak gampang tersinggung serta bagaimana cara orangtua menanggulanginya.

Dari penjelasan beliau ditambah hasil searching di internet, beberapa hal yang menyebabkan anak-anak mudah tersinggung di antaranya adalah:

1. Kelelahan atau sakit


Meski sepele, namun faktor ini bisa memicu perasaan tersinggung pada anak.

Orang dewasa akan mudah mengatakan dirinya sedang lelah atau sakit, secara verbal. Tapi tidak demikian dengan anak-anak.

Pada saat kurang fit, anak-anak biasanya mengungkapkan kondisi mereka dengan cara rewel atau gampang menangis.

2. Suasana yang tidak nyaman


Hal ini biasanya karena anak-anak sedang mendapati “situasi baru” yang belum atau jarang mereka temui.

Misalnya saat pindah ke rumah baru, atau saat anak diajak menghadiri undangan ke sebuah tempat yang hampir semuanya tidak dikenal oleh anak kita.

Suasana yang tidak nyaman bisa juga terjadi saat anak-anak berada di suatu tempat yang panas, sesak atau bising, misalnya di dalam angkutan umum, dsb.

3. Butuh perhatian


Kurangnya perhatian juga bisa menjadi penyebab anak-anak bersikap temperamental.

Orangtua yang tampak pilih kasih dengan kakak atau adiknya, atau kurangnya interaksi anak dengan sang ayah karena ditinggal kerja ke tempat yang jauh bisa menyebabkan anak-anak merasa terbuang.

Hal inilah yang kemudian memicu sikap mudah tersinggung atau gampang marah pada anak.

4. Merasa gagal


Saat anak-anak merasa tidak terpenuhi keinginannya, mereka akan melampiaskan kekesalannya dengan marah-marah atau menangis.

Di artikel yang ini dijelaskan cara-cara yang efektif untuk membuat anak-anak selalu berpikir positif.

5. Terlalu banyak larangan


Orangtua yang terlalu banyak melarang anaknya, bisa membuat anak-anak kesal.

Hal ini juga menjadi sebab kenapa anak-anak tidak mau mendengarkan nasehat orangtua mereka.

6. Tipikal Perfeksionis


Mereka yang memiliki sikap perfeksionis menuntut segalanya untuk sesuai dengan harapan.

Jika kemudian di dalam prosesnya, atau hasilnya ada yang “cacat”,

anak-anak dengan kepribadian seperti ini biasanya akan langsung drop.

Biasanya kalau sudah dalam kondisi begini, anak-anak akan susah untuk diminta melakukan sesuatu atau diajak berkomunikasi.


Lalu bagaimana menangani anak yang mudah tersinggung dengan tepat?


Ada beberapa langkah yang bisa diterapkan oleh para orangtua untuk mengatasi anak-anak yang memiliki kecenderungan hipersensitif.

Namun jika harus diringkas, setidaknya ada 5 cara yang menurut kami paling efektif.

Kelima cara itu adalah:

1. Memberikan godaan ringan


Hal yang harus dilakukan untuk mengatasi anak yang hipersensitif adalah dengan menunjukkan kepada mereka bahwa tidak semua godaan itu bermaksud untuk melecehkan atau menghina.

Cara yang paling mudah untuk diterapkan adalah dengan sesering mungkin untuk menggoda (atau mengusili) anak kita.

Namun cara ini tidak boleh sampai membuat anak menangis atau marah.

Jangan sampai mereka berpikir bahwa kita sama saja dengan teman-teman mereka.

Orangtua harus mengukur level godaan se-ringan mungkin. Baru nanti jika memungkinkan levelnya bisa ditingkatkan lagi.

2. Orangtua sebagai role model


Disadari atau tidak, bagaimana cara kita bersikap terhadap suatu hal, maka begitulah yang akan dicontoh oleh anak-anak kita.

Saat menghadapi suatu permasalahan, orangtua harus menunjukkan sikap percaya diri dan optimis.

Maka sikap yang sama juga akan diterapkan anak-anak saat menanggapi suatu hal.

3. Bersikap lembut dan sabar


Saat anak-anak sedang sensitif, orangtua sebaiknya tidak menanggapinya dengan kekerasan.

Hal ini justru akan memperburuk keadaan mereka.

Sebaliknya, perlakukan mereka dengan lembut dan sabar. Tunjukkan bahwa kita memahami mereka.

4. Benturkan dengan keadaan


Meski kita harus bersikap lembut dan sabar pada anak-anak,

namun ada saatnya dimana mereka harus dibenturkan dengan keadaan yang tidak mereka senangi.

Kita harus mengajarkan bahwa tidak semua harus berjalan sesuai dengan keinginan mereka.

Ada saat dimana mereka yang harus mengalah dan mengikuti aturan yang ada.

5. Jalin komunikasi yang intens


Terhadap anak-anak yang mudah tersinggung,

seringkali kita hanya harus membantu mereka untuk mengungkapkan perasaannya saat itu.

Jauh lebih baik jika mereka mengatakan “Aku tidak suka”, daripada langsung marah karena tersinggung.

Dengan membiasakan anak-anak untuk mengatakan yang dirasakan – bukan meluapkannya – akan membantu mereka untuk meredam emosinya.

Friday, August 26, 2016

Kritik yang Membangun itu Tidak Ada!

parenting, pendidikan karakter, pendidikan anak

Mereka yang berkutat di dunia parenting, tentu amat familiar dengan puisi yang pertama kali ditulis tahun 1954 oleh Dorothy Law Nolte, seorang pendidik dan konseling keluarga, untuk sebuah surat kabar di California ini.

(Untuk versi terjemahannya bisa lihat di sini)

Children Learn What They Live
(Dorothy Law Nolte, Ph.D.)

If children live with criticism, they learn to condemn.
If children live with hostility, they learn to fight.
If children live with fear, they learn to be apprehensive.
If children live with pity, they learn to feel sorry for themselves.
If children live with ridicule, they learn to feel shy.
If children live with jealousy, they learn to feel envy.
If children live with shame, they learn to feel guilty.
If children live with encouragement, they learn confidence.
If children live with tolerance, they learn patience.
If children live with praise, they learn appreciation.
If children live with acceptance, they learn to love.
If children live with approval, they learn to like themselves.
If children live with recognition, they learn it is good to have a goal.
If children live with sharing, they learn generosity.
If children live with honesty, they learn truthfulness.
If children live with fairness, they learn justice.
If children live with kindness and consideration, they learn respect.
If children live with security, they learn to have faith in themselves and in those about them.
If children live with friendliness, they learn the world is a nice place in which to live.

Yang cukup menarik perhatian saya adalah kalimat pertama dari puisi fenomenal yang sudah diterjemahkan ke dalam lebih dari 30 bahasa ini.

Kalimat pertama puisi itu berbunyi,

“Jika anak hidup dengan kritikan, mereka belajar menyalahkan.”


Kenapa saya bilang menarik?

Karena sejak dulu kita mengenal bahwa tidak semua kritikan itu buruk.

Kita diperkenalkan bahwa ada beberapa jenis kritikan yang bagus, malahan kita mengistilahkannya sebagai “kritik yang membangun”.

Tapi di dalam puisi di atas, seolah-olah mengisyaratkan bahwa semua jenis kritik itu, buruk.

Masaru Emoto, seorang doktor pengobatan alternatif berkebangsaan Jepang, pernah melakukan sebuah eksperimen.

Ia meletakkan beberapa butir beras pada dua wadah yang berbeda.

Beras yang ada pada wadah yang pertama, setiap hari diberi kritikan terus menerus.

Bahkan pada wadah tersebut juga ditempel kertas yang berisi kecaman.

Sementara pada beras yang berada pada wadah kedua selalu diberikan pujian, penghargaan dan motivasi setiap hari.

Hasilnya?

Setelah beberapa hari kemudian, didapati bahwa beras yang berada pada wadah pertama telah menghitam dan rusak.

Sedangkan beras yang ada pada wadah kedua tetap putih dan bersih.

Masaru yang dikenal lewat bukunya “The Power of Waters” juga pernah melakukan percobaan yang sama dengan menggunakan media air.

Ia memperdengarkan kepada air tersebut berbagai macam suara, musik, doa-doa, pujian dan cacian.

Gelas berisi air yang mendapat kritik dan kecaman – setelah dilihat menggunakan mikroskop - memiliki bentuk kristal-kristal yang cacat,

sedangkan air yang diberikan pujian dan motivasi justru membentuk kristal-kristal air yang indah.

Apa artinya?

Artinya bahwa TIDAK ADA KRITIKAN YANG MEMBANGUN.

Semua kritikan itu merusak, melemahkan dan menghancurkan.

Dalam Kamus Istilah-istilah Populer, kata “kritik” diartikan sebagai “celaan”.

Sehingga saat kita mengkritik seseorang,

seolah-olah kita ingin menegaskan bahwa kita benar dan orang tersebut salah.

Dari sini kita tahu mengapa anak-anak (dan juga istri) yang selalu dikritik tidak membuat mereka bertambah menjadi lebih baik.

Justru anak-anak yang sering mendapat apresiasi menjadi mudah untuk melakukan hal-hal positif lainnya.

Jika anda seorang suami, anda bisa melakukan tes seperti ini dengan terus mengkritik istri anda setiap hari,

lalu pada beberapa hari hari berikutnya anda terus memuji hasil pekerjaannya.

Anda akan bisa membandingkan perbedaannya.

Apa yang terjadi pada beras (dan air) mengajarkan kepada kita untuk tidak mengeluarkan kata-kata yang kasar dan bernada hinaan kepada orang lain,

terutama kepada anak-anak kita.

Memang ada beberapa orang yang bisa menggunakan kritikan sebagai sarana untuk meng-upgrade diri.

Tapi yang pasti hal tersebut tidak akan terjadi pada anak-anak.

Seperti yang ditulis Dorothy pada baris lain dalam puisi di atas,

“Jika anak hidup dengan ejekan, mereka belajar menjadi rendah diri.”

Anda tentunya sudah membaca artikel blog ini yang berjudul Pelajaran Nancy Matthew Elliot dan Sang Putra.

Ketika kecaman datang dari pihak sekolah kepada sang ibu,

maka sang ibu bisa mengubah kecaman itu menjadi cambuk pelecut dirinya.

Tapi bisakah kita membayangkan bagaimana seandainya kecaman itu langsung diterima oleh si anak?

Jika hal itu terjadi, mungkin sampai sekarang lampu pijar belum ditemukan dan kita masih hidup dengan kegelapan.

Lalu jika mengkritik bisa menghancurkan anak,

bagaimana cara kita mengingatkan jika mereka salah?

Anda bisa membaca terlebih dahulu 7 Aturan Dasar Mengoreksi Kesalahan Anak dengan Tepat dan Bagaimana Cara Mengoreksi Kesalahan Anak Tanpa Ditolak.

Secara umum, anak-anak lebih suka menerima sesuatu dari seseorang yang dianggapnya teman daripada pemberian seseorang yang tidak mereka sukai.

Jadi daripada kita memakai bahasa kritikan kepada anak-anak, jauh lebih efektif jika kita menggunakan bahasa seorang sahabat, yaitu SARAN.

Saya beberapa blog yang saya sambangi, setidaknya ada 5 langkah bagaimana cara memberi saran yang baik untuk anak-anak

Dan hal ini bisa kita praktekkan juga kepada orang lain (atau sahabat kita), tanpa membuat mereka merasa tersinggung.


1. Bertanyalah


Hal yang cukup penting di dalam pemberian saran adalah jangan pernah merasa kita tahu apa yang anak-anak rasakan.

Daripada kita mengira-ngira, akan lebih baik jika kita bertanya langsung tentang apa yang mereka rasakan atau pertanyaan-pertanyaan yang tidak mereka pikirkan sebelumnya.


2. Dengarkan mereka


Setelah kita bertanya, hal selanjutnya yang harus dilakukan adalah mendengarkan mereka.

Tentang bagaimana cara menjadi pendengar yang baik untuk anak-anak, bisa anda baca di sini.



3. Beri Pilihan


Jika kita ingin menghindari perasaan tersinggung dari anak-anak karena saran kita,

maka kita bisa memberikan saran tersebut secara “tersembunyi”.

Dengan memberikan mereka pilihan beserta hal-hal yang akan menjadi konsekuensinya, anak-anak akan merasa dibantu untuk membuat keputusan,

bukan merasa diatur oleh kita.
 

4. Dukung atau Sedikit Membandingkan


Saat anak-anak kita sudah menentukan pilihannya,

maka jika pilihannya itu sudah tepat menurut kita, dukunglah.

Besarkan kepercayaan diri mereka.

Namun jika pilihan mereka kurang tepat,

maka kita bisa “menggiring” opini mereka ke pilihan yang lebih baik dengan cara membandingkan cerita mereka dengan pengalaman kita dulu atau teman kita atau anak-anak lain.

Namun hal seperti ini jangan dilakukan berlebihan, karena anak-anak akan merasa keputusannya dimonopoli oleh kita.
 

5. Apresiasi-lah


Membuat keputusan itu bukan hal yang mudah bagi anak-anak.

Keterbatasan ber-logika membuat mereka kerap membuat keputusan yang keliru.

Jika langkah no. 4 belum berhasil pada anak, jangan langsung menunjukkan sikap permusuhan kepada mereka.

Hargailah keputusan tersebut.

Barangkali mereka - seperti saya sebut di artikel 7 cara berkomunikasi dengan anak - adalah anak-anak yang harus mendapat “pengalaman” dan belajar dari kesalahannya terlebih dahulu.

Sunday, August 21, 2016

Cara Menjadi Pendengar yang Baik Untuk Anak Dalam 4 Langkah!

Ada satu anekdot kocak yang bisa saya pakai untuk membuka tulisan kali ini.

Suatu hari seorang anak yang masih kelas 1 SD bertanya kepada mamanya yang sedang sibuk di dapur.

“Ma, ML itu apa sih?”

Si ibu langsung kaget.

“Hush! Darimana kamu tahu istilah itu?!”

“Ayolah, Ma... Artinya apa?” Rengek si anak.

“Itu urusan orang dewasa. Kamu belum waktunya untuk tahu.”

“Tapi aku kan cuma kepingin tahu artinya...”

Akhirnya, karena tidak betah dengan rengekan si anak, si ibu ini akhirnya menjelaskan,

“Begini,”

“ML itu artinya Making Love, yaitu hubungan antara laki-laki dan perempuan yang hanya boleh dilakukan oleh suami istri. Jika belum menikah, maka kita tidak boleh melakukan hal itu..”

Si anak bengong.

“Nah, sudah mengerti, kan? Sekarang ibu tanya, darimana kamu tahu istilah itu?”

Si anak dengan wajah innocent-nya menunjukkan botol air minum yang sedang dipegang,

“Ini, Ma. Di botol air minum kan sering ada tulisan 1000 ml, 1500 ml...”

Gantian si ibunya bengong... #TepokJidat

H-hee...

Cerita di atas adalah salah satu contoh kecil permasalahan yang timbul ketika orangtua salah memahami maksud si anak.

parenting, pendidikan karakter, pendidikan anak

Anda tentu sudah membaca 9 Alasan Kenapa Nasehat Orangtua Tidak Didengar Anak yang saya tulis beberapa waktu yang lalu.

Di artikel tersebut disebutkan ada 9 perilaku salah dari orangtua yang menyebabkan kenapa nasehat mereka tidak sampai ke anak-anak.

Yang ingin saya sampaikan, ada satu poin lagi sebenarnya yang belum saya unkap pada tulisan itu,

karena saya memang berencana untuk membuat satu tulisan tersendiri tentang poin tersebut.

Manusia,

di dalam hubungan sosialnya dengan orang lain memiliki 4 sarana komunikasi.

Keempat sarana komunikasi itu adalah berbicara, menulis, membaca dan mendengar.

Di antara keempat sarana komunikasi di atas,

“mendengar” adalah hal yang seringkali terabaikan.

Padahal, kita bisa memahami orang-orang yang ada di sekitar kita,

dan mengetahui keinginan mereka,

hanya ketika kita mau mendengarkan perkataan mereka.

Kalau kita salah paham terhadap maksud anak, ya seperti cerita di atas contohnya.

Akan tetapi sedikit berbeda dengan istilah “mendengar” yang mengkonotasikan perbuatan fisik (yaitu telinga),

kata “mendengarkan” pada pembahasan ini lebih mengarah kepada perbuatan hati.

Mendengarkan adalah suatu kemampuan yang tidak semua orangtua memilikinya.

Banyak dari kita yang bisa mendengar, namun sedikit sekali yang mampu mendengarkan anak-anak mereka.

Filosofi 2 telinga dan 1 mulut adalah agar kita lebih banyak mendengarkan daripada memerintah.


Kenapa MENDENGARKAN ini harus menjadi satu pokok bahasan tersendiri?

Dalam buku “Istraatijiyah at-Tarbiyah Al-Ijaabiyyah” yang ditulis oleh Dr. Musthafa Abu Sa’ad

(tenaaang... judulnya memang bahasa Arab, tapi saya punya versi terjemahnya, 30 Strategi Mendidik Anak),

di sana ditulis begini,

“Menjadi pendengar yang baik bagi sang anak berarti memperhatikan apa yang ingin diungkapkan oleh sang anak,
sekaligus menjadi media penyampaian pesan positif kepada sang anak dengan baik pula.”

Frasa terakhir inilah yang penting.

Bahwa – menurut penulis - kunci keberhasilan menjadi pendengar yang baik terletak pada “pesan tersembunyi” yang dihasilkan dari komunikasi non-verbal yang disampaikan orangtua kepada anak.

Komunikasi non-verbal itu bisa berupa senyuman, mimik wajah ataupun bahasa tubuh yang menyatakan perasaan sayang dan cinta kita kepada mereka.

Mendengarkan perasaan anak dengan penuh perhatian dapat membangun kepercayaan diri anak-anak dan meningkatkan harga diri mereka.

Ketika anak menyadari perhatian dan kasih sayang kita kepada mereka,

maka semangat dan motivasinya terhadap hal-hal yang baik lainnya akan terpupuk.

Hal ini tentu akan sangat berperan bagi pertumbuhan karakter dan mental mereka.

Di dalam buku yang sama, penulis bahkan meletakkan proses mendengarkan ini setara dengan mengajak anak-anak membeli kebutuhan mereka, merawat kesehatan dan kebersihan mereka, dsb.

Artinya perlu ada waktu tersendiri dan komunikasi yang bersifat personal.

Dalam satu hari kita bersama anak-anak, sediakan – setidaknya – 5 menit untuk mendengarkan perkataan dan perasaan mereka.

Dengan memanfaatkan waktu yang sebentar untuk mendengarkan anak-anak,

ini lebih baik daripada waktu yang akan kita habiskan untuk menyelesaikan masalah yang diakibatkan karena kurangnya kita mendengarkan mereka.

Dan seperti kemampuan-kemampuan lainnya yang perlu terus diasah,

kemampuan untuk mendengarkan ini pun perlu dilatih dengan baik.

Sebab jika kita gagal, maka anak-anak ini akan merasa diabaikan dan tidak dihargai.

Dampak selanjutnya adalah anak-anak yang suka membangkang perintah orangtuanya.

Berikut ini adalah bagaimana cara orangtua bisa menjadi pendengar yang baik untuk anak-anaknya.


1. Bahasa tubuh yang tepat


Orangtua harus membuat bahasa tubuh yang tepat.

Kita harus menunjukkan bahwa kita akan serius mendengarkan setiap kata-katanya.

Jadi jangan mendengarkan sambil melakukan aktifitas yang lain,

dan jangan mencoba untuk berpura-pura mendengarkan, karena anak-anak pasti akan menyadarinya.

Pusatkan perhatian kita kepadanya.

Bisa dengan cara menatap kedua matanya dengan pandangan sayang,

atau kita juga bisa menambahkan sentuhan, pelukan atau genggaman tangan untuk memperkuat komunikasi non-verbal kita.

Karena itulah tadi dikatakan proses ini memerlukan waktu tersendiri.

Sediakan, meski tidak lama.


2. Beri respon, bukan bantahan


Agar anak merasa perkataannya diperhatikan, orangtua perlu memberi respon setiap kali anak berbicara.

Respon di sini bisa berupa ucapan “ohh,” atau “begitu, ya” atau ucapan-ucapan yang sejenis.

Atau bisa juga dengan sekedar anggukan kepala yang menunjukkan persetujuan atau kita memahami apa yang mereka ungkapkan.

Jangan buru-buru membantah jika kita tidak setuju, apalagi sampai memotong ucapannya.

Meski kita sudah punya jawabannya, tahanlah, sampai anak-anak benar-benar menyelesaikan perkataannya.

Selain karena bisa menyebabkan anak merasa tidak dihargai, terburu-buru memberikan jawaban juga rentan memicu salah paham jika kita salah mengartikan maksud anak.


3. Ringkas ucapannya


Setelah anak-anak selesai, maka coba ringkas kembali apa yang bisa anda simpulkan dari perkataan mereka.

“Jadi, yang dimaksud kakak itu seperti ini, ya...?”

Jika anak-anak menjawab “iya”, maka kita bisa mulai berbicara kepada mereka.

Sebaliknya, jika mereka menjawab “tidak”, maka mintalah kepada mereka untuk menjelaskan kembali.

Hal ini lebih baik daripada kita salah memahami maksud mereka.

Dengan cara seperti ini anak-anak akan belajar bagaimana cara meringkas dan menjelaskan perasaan mereka

atau ketelitian dalam mengungkapkan sesuatu.


4. Berpikir dari sudut pandang anak


Lihatlah dari sudut pandang mereka.

Kita bisa mencoba untuk menjadi diri mereka, yang dengan cara ini kita menjadi lebih mudah untuk memahami jalan pikirannya.

Jika mereka sedang dalam kondisi marah,

jangan menghardiknya untuk membuatnya berhenti.

Tapi kita harus berusaha untuk tetap tenang mendengarkan perkataannya.

Pada kondisi emosional (marah, sedih, dsb), anak-anak cenderung butuh tempat untuk mengungkapkan perasaannya.

Sehingga kita harus menempatkan diri berada di posisi mereka,

sehingga anak-anak tidak merasa sedang “dilawan” oleh orangtuanya.

Nah, inilah 4 langkah cara menjadi pendengar yang baik untuk anak-anak.

Jika anak-anak merasa mereka didengarkan, maka mereka akan mau mendengarkan perkataan kita.