Sunday, July 31, 2016

4 Cara Paling Efektif untuk Membentuk Pikiran Positif pada Anak-anak



Ada sebuah cerita singkat yang cukup inspiratif.

Ada seorang raja yang memiliki sebongkah batu permata yang sangat langka.

Namun karena kesalahan salah seorang pengawalnya, bongkahan permata itu tidak sengaja terjatuh dan pecah menjadi serpihan-serpihan yang lebih kecil.

Raja sangat bersedih karena tahu bahwa serpihan-serpihan itu tak mungkin bisa disatukan kembali.

Namun oleh seorang kakek pemahat batu, serpihan-serpihan permata itu berhasil diubah menjadi sebuah kalung dan cincin yang amat indah.

Selesai.

Tamat.

Singkat amat? (Kan sudah saya bilang kalau ini cerita singkat, h-hee...)

Satu lagi ya,

Saya ingat dulu waktu masih nyantri di Bangil, salah seorang guru saya, Ust. Iman Supriono, pernah berkata begini,

bagi banyak orang, gelombang di lautan dan angin yang kencang adalah masalah. Namun tidak begitu bagi seorang nelayan. Ia malahan bisa memanfaatkan hal itu untuk berbagai kepentingannya.

Nah, apa pelajaran yang bisa kita ambil dari 2 ilustrasi di atas?


Kekuatan berpikir positif

Salah satu presiden Amerika, Henry Ford pernah mengatakan,

“Entah kau berpikir ‘kau bisa’ atau kau berpikir ‘kau tidak bisa’, kau selalu benar!”

Ilustrasi di atas – kakek pemahat batu dan nelayan – adalah contoh tokoh yang memiliki cara berpikir yang positif.

Mereka tidak melihat ‘masalah’ sebagai masalah, namun justru melihatnya sebagai peluang dan jalan keluar.

Dari contoh tersebut kita bisa melihat betapa hebatnya kekuatan berpikir positif ini.

Pikiran positif akan menghasilkan tindakan yang hebat dan strategic. Para pebisnis menyebutnya sebagai tindakan yang kreatif atau out of the box.

Bagi anak-anak, kebiasaan berpikir positif akan sangat berpengaruh di dalam perkembangan mental dan karakter mereka.

Anak-anak yang terbiasa menggunakan cara berpikir positif akan lebih mudah untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang dihadapinya.

Mereka tidak kenal pada sikap menyerah dan putus asa.

Sebaliknya, anak-anak yang cenderung berpikir negatif akan memiliki emosi yang labil, sulit berinteraksi dan selalu apatis terhadap hal-hal yang baru.

Ada banyak artikel yang menjelaskan tentang cara membentuk, membangun dan menumbuhkan pikiran-pikiran positif ini.

Beberapa menjelaskan dengan bahasa yang sulit saya cerna. Beberapa lainnya dengan jumlah poin yang benar-benar membuat alis saya berkerut, karena saking banyaknya.

Semua postingan itu tentu tidak salah, hanya saja membuat saya cukup bekerja keras untuk memahaminya.

Ada pula beberapa artikel yang saya anggap cukup bagus, namun jumlahnya cukup banyak.

Di sini saya akan mencoba untuk meringkasnya menjadi beberapa langkah saja.

Anda tetap disarankan untuk membaca artikel-artikel lain yang mungkin bisa digunakan untuk menambah atau bahkan memperbaiki penjelasan dalam tulisan ini.

Berikut ini adalah 4 langkah paling efektif untuk membangun pikiran positif pada anak-anak.


1. Gunakan ungkapan-ungkapan positif


Orang bilang bahwa kata-kata adalah pintu dari pikiran.

Ini berarti untuk mendapatkan pikiran yang positif kita harus melalui pintunya, yaitu kata-kata yang positif.

Kata-kata positif ini – disadari atau tidak – dapat menstimulus anak untuk berbuat positif.

Salah satu contoh misalnya daripada kita mengatakan,

“Ayo cepat mandi, nanti terlambat ke sekolah!”

lebih baik kita menggunakan kalimat,

“Yuk siap-siap sekarang, biar nanti bisa main-main dulu sebelum bel masuk.”

Bagi kita yang beragama, ungkapan-ungkapan positif ini bisa kita combine dengan doa-doa harian yang kita ajarkan kepada mereka.


2. Syukuri semua hal


Sama seperti poin no. 1, ungkapan syukur mampu membangun pikiran-pikiran positif.

Dengan membiasakan diri untuk mensyukuri apapun yang kita terima, akan membentuk perasaan bahwa semuanya menyenangkan.

Perasaan bahagia inilah yang kemudian akan mendorong pikiran-pikiran positif lainnya bermunculan.

Sebelum tidur malam, latih anak-anak untuk mensyukuri hal-hal menyenangkan yang dialaminya seharian tadi. Kita bisa membantunya dengan mengingatkan hal-hal menyenangkan tersebut.


3. Apresiasi keberhasilan, diskusikan kegagalan


Siapapun senang dipuji. Tidak terkecuali anak-anak kita.

Ketika anak-anak melakukan hal yang baik, lalu mendapat apresiasi dari orangtua mereka,

maka hal ini akan membuat mereka menjadi lebih percaya diri dan semakin ingin melakukan hal-hal baik lainnya.

Sebaliknya, ketika anak mengalami kegagalan atau kekecewaan, kita bisa mendiskusikannya dan bersama-sama mencari hal baik yang “tersembunyi” dari kejadian yang tidak mengenakkan tersebut.


4. Sikap positif orangtua


Ada yang bilang, anak-anak itu adalah peniru yang ulung.

Dan memang begitu adanya.

Untuk membentuk pikiran positif pada diri anak-anak, terlebih dahulu pemikiran positif ini harus dimiliki atau ditunjukkan oleh orangtua mereka.

Kita tahu bahwa pikiran positif akan membentuk reaksi positif.

Karena pikiran positif ini sulit ditiru anak-anak karena ia tidak terlihat,

maka kita bisa menunjukkan kepada mereka – pikiran positif ini - melalui reaksi positif kita ketika menghadapi suatu kejadian yang tidak mengenakkan.

Berikut ini ada sebuah cerita inspiratif tentang bagaimana bereaksi positif.

Seorang ibu yang baru pulang dari belanja terkejut ketika menyadari uang 50 ribu yang disimpannya di lemari, hilang.

Ibu ini memiliki 2 orang anak. Namun si ibu sangat yakin kalau yang mengambil uang tersebut adalah anak pertamanya.

Maka, ketika makan malam tiba dan kedua anaknya sudah berada di meja makan, ibu ini berkata,

“Ketika ibu belanja tadi, rupanya ada pencuri yang mengambil uang ibu di lemari. Mungkin ketika kalian sedang bermain di luar.

Tapi kalian jangan takut karena besok pagi-pagi sekali ibu akan melaporkan hal ini ke polisi agar pencurinya segera ditemukan.”

Anak pertama yang memang mengambil uang itu menjadi khawatir. Sehingga ketika ibunya tidak memperhatikannya, ia mengendap-endap mengembalikan uang tersebut ke dalam lemari.

Pagi harinya, ketika si ibu menyadari bahwa uangnya sudah “kembali”,

ibu ini lalu mengumpulkan kedua anaknya dan berkata kepada mereka,

“Ternyata ibu salah, tidak ada pencuri yang masuk ke rumah ini.

Uang ibu tidak hilang. Mungkin kemarin ibu yang kurang teliti mencarinya. Maafkan ibu ya sudah membuat kalian takut...”


Lihat,

saat kita bereaksi positif atas suatu peristiwa, maka hal ini akan menular kepada siapapun yang berada di dekat kita.

Anak pertama yang memutuskan untuk mengembalikan uang tersebut bukan karena takut akan ditangkap polisi,

akan tetapi karena ia tidak mau disebut pencuri.

Kedua alasan ini jelas berbeda.

Jika ia hanya takut ditangkap polisi, ia bisa saja menyembunyikan uang tersebut di tempat yang aman dan berpura-pura tidak tahu apa-apa,

toh ia yakin ibunya tidak tahu.

Namun karena ia tidak mau dicap sebagai pencuri, maka apapun yang ia lakukan - selama uang itu masih berada di tangannya - ia adalah pencuri.

Karena itulah ia memilih untuk mengembalikannya.

Inilah yang saya sebut tadi bahwa pikiran positif itu menular.

Jadi berpikirlah positif, dan tularkan itu kepada anak-anak dan orang-orang di sekitar kita.

Dan dalam sekejap, hidup kita akan dikelilingi banyak kebahagiaan.

Friday, July 29, 2016

Ingin Mengajari Anak Menghargai Orang Lain? Gunakan 6 Kata Positif Ini!


Pada masa-masa Golden Age, yaitu sekitar usia 0-7 tahun, anak-anak berada pada masa dimana mereka mudah untuk diajarkan sesuatu.

Maka pembentukan karakter anak harus dilakukan dengan tepat pada fase ini. Salah satu di antara sekian banyak tahapannya adalah mengajarkan anak-anak untuk berkata-kata yang baik.

Ungkapan yang cukup bisa menggambarkan hal ini adalah
“Kamu, adalah apa yang kamu ucapkan”.

Artinya, bagaimana orang lain menilai diri kita adalah tergantung dari bagaimana mereka menilai apa yang kita ucapkan.

Hal yang sama tentu juga berlaku untuk anak-anak kita.

Bagaimana orang lain menilai mereka, adalah dari ucapan-ucapan mereka.

Tetapi jika kita menghubungkannya dengan salah satu judul puisi yang cukup populer yaitu,

“Anakmu mengenalkan siapa dirimu”

maka ini berarti bagaimana orang lain menilai diri kita adalah melalui penilaian mereka terhadap anak-anak kita.

Jika orang lain menganggap anak-anak kita adalah anak-anak yang berperilaku buruk, maka mereka akan menghubung-hubungkan keburukan itu untuk menilai orangtuanya,

yaitu KITA.

Namun ini tidak berarti bahwa tujuan kita mengajari mereka berkata-kata atau berbuat yang baik adalah semata-mata demi “nama baik” kita di tengah-tengah masyarakat,

lebih dari itu adalah bagaimana agar mereka mampu menjadi sosok dengan kepribadian mulia yang bisa diterima di lingkungan yang lebih luas.

Dan pengajaran ini tentu tidak bisa lepas dari faktor kita – sebagai orangtua - yang berperan penting mejadi contoh bagi mereka.

Nah, ketika kita sudah meluruskan niat dalam mendidik buah hati kita dan bersiap untuk menjadi contoh terbaik bagi mereka, maka sejatinya pendidikan karakter ini sudah kita mulai.

Tahapan selanjutnya adalah kita membiasakan diri kita sambil mengajarkan kepada buah hati kita kata-kata positif untuk membangun karakter mereka.

Berikut ini adalah 6 kata penting yang positif yang harus diajarkan dan dibiasakan kepada anak-anak kita.


Mengucap “Assalamu ‘alaikum”


Ucapan salam adalah sapaan yang paling mulia dari model sapaan-sapaan lainnya. Ucapan salam mengajarkan anak untuk mudah mendoakan kebaikan bagi orang lain.

Tidak seperti sapaan-sapaan lain yang mendoakan agar kita tetap hidup, ucapan salam lebih mendoakan kita agar hidup dengan keberkahan.

Di antara manfaat mengucap salam dan kebiasaan menyapa ini adalah menumbuhkan sikap menghargai terhadap sesamanya.

Ketika seorang anak menyapa temannya, lalu temannya membalas dengan senyuman dan sapaan yang hangat, maka anak ini akan merasa “everything is fine”.

Saya tidak ada masalah dengan orang itu. Begitu pun orang itu tidak punya masalah dengan saya. Hal ini berarti saya harus menghindarkan dia dari gangguan saya, begitu juga sebaliknya.

Inilah yang saya maksud dengan tumbuhnya sikap menghargai.

Mengucap “Permisi”


Kata penting berikutnya adalah mengajarkan pada anak untuk membiasakan meminta ijin setiap kali akan meminjam atau menggunakan sesuatu milik orang lain.

Kebiasaan meminta ijin juga harus diajarkan kepada anak setiap kali mereka hendak masuk ke kamar orangtuanya.

Dengan membiasakan anak dengan ucapan ini membuat anak tidak mudah berbuat sesuka hati, misalnya mengambil barang yang bukan miliknya, masuk ke kamar yang bersifat pribadi, dsb.

Kebiasaan ini juga akan bermuara pada tumbuhnya sikap menghargai hak-hak orang lain.

Menjawab “Iya”


Kata yang ketiga ini terlihat sangat sepele. Namun ada pengajaran penting dari kata ini.

Dengan menjawab “iya”, berarti anak telah menyiapkan dirinya – secara psikologis - untuk menerima setiap kali kita berbicara atau meminta sesuatu kepadanya.

Hal ini membuat informasi selanjutnya yang kita berikan kepada anak bisa ditangkap dengan baik.

Dengan penerimaan seperti ini anak akan menghargai setiap kata yang kita ucapkan atau instruksi yang kita berikan.

Meminta tolong, berterimakasih dan meminta maaf


Ketiganya sudah umum dijelaskan oleh banyak penulis dan psikolog anak. Ketiga kata ini cukup jelas untuk merepresentasikan sikap penghargaan terhadap orang lain.

Kebiasaan untuk mengucap “tolong” setiap kita menginginkan sesuatu yang tidak bisa kita lakukan sendiri dan berterima kasih sesudahnya,

mengajarkan anak untuk menghargai setiap bantuan yang telah diberikan.

Begitu pula kebiasaan meminta maaf setiap kali anak melakukan hal yang salah,

mengajari anak untuk bertanggung jawab yang pada akhirnya juga membentuk sikap menghargai terhadap orang lain.

Thursday, July 28, 2016

Bagaimana Cara Mengoreksi Kesalahan Anak Tanpa Ditolak?

Seperti yang sudah disebut di artikel sebelumnya bahwa penyebab seorang anak melakukan kesalahan ada 2 hal.

Pertama, mereka melakukan kesalahan karena ketidak-tahuan mereka.

Kedua, mereka tahu bahwa hal tersebut salah, namun tetap sengaja melakukannya.

Anda bisa membacanya di sini.



Dari kedua sebab ini, para orangtua harus memiliki sikap yang berbeda sehingga koreksi yang kita lakukan bisa tepat sasaran dan efisien.

Berikut ini adalah bagaimana cara kita mengoreksi kesalahan anak-anak karena mereka memang tidak tahu dan bagaimana kita bersikap ketika mereka sengaja melakukan kesalahan tersebut.


1. Mengoreksi kesalahan anak karena mereka memang tidak tahu


Kita tentu paham bahwa masa anak-anak adalah masa-masa berkembang. Mereka banyak belajar dari lingkungan sekitarnya. Apa, siapa dan bagaimana lingkungannya bersikap.

Karena itu wajar jika anak-anak itu melakukan kesalahan.

Yang tidak wajar adalah jika kita sebagai orangtuanya yang melakukan pembiaran.

Kesalahan anak-anak itu wajar. Tapi harus dikoreksi, bukan dipelihara.

Adapun cara mengoreksi kesalahan anak yang seperti ini bisa dilakukan dengan beberapa langkah berikut >>


Menjelaskan alasan kenapa hal tersebut tidak boleh dilakukan


Aturan pertama terhadap anak-anak yang melakukan kesalahan karena ketidak-tahuan mereka adalah memberikan penjelasan kepada mereka.

Ketika kita mengoreksi kesalahan mereka, akan ada pertanyaan di dalam benak mereka, kenapa hal tersebut tidak boleh dilakukan?

Kita bisa menjelaskan dengan dasar hukum negara atau dalil agama, namun tetap dengan menggunakan bahasa mereka.


Menjelaskan akibat dari perbuatannya itu


Ketika buah hati kita dengan seenaknya membuang sampah mainannya ke dalam selokan, mereka mungkin tidak tahu bahwa sampah yang menyumpat di selokan bisa menimbulkan bau yang tidak sedap, menyebabkan banjir, dsb.

Maka dengan memberikan penjelasan akan akibat perbuatan tersebut, anak-anak akan bisa menerima koreksi dari kita.


Menunjukkan contoh yang benar kepada anak


Jika kesalahan berkaitan dengan hal teknis, maka mempraktikkan cara yang benar adalah hal yang harus dilakukan oleh orangtua.

Tentu konyol bila kita hanya menyalahkan si anak tanpa bisa memberikan contoh yang benar.


Solusi alternatif


Salah satu cara agar nasehat dan larangan kita dipatuhi adalah dengan memberikan solusi alternatifnya.

Karena melarang tanpa memberikan solusinya sama seperti kita menutup selokan tanpa mengalirkannya ke tempat lain,

yang suatu saat pasti akan meluber kemana-mana.

Sama seperti ketika agama yang tidak hanya melarang, namun juga memberikan alternatif sebagai solusinya.

Islam melarang riba, namun membolehkan jual-beli. Islam melarang zina, namun memiliki solusi berupa nikah. Seorang muslim dilarang meninggalkan sholat, sehingga agama memberikan alternati-alternatifnya.

Dan banyak contoh lainnya.



2. Mengoreksi kesalahan anak yang sengaja melakukan kesalahan


Bisa jadi anak-anak yang melakukan kesalahan dengan sengaja ini hanya mencari perhatian dari orang-orang terdekatnya saja. Mereka mencari cara agar diperhatikan dan direspon.

Tapi bisa juga memang telah tumbuh jiwa pemberontak di dalam hati mereka karena pengaruh lingkungan.

Beberapa aturan di bawah ini bisa kita lakukan untuk menghadapi anak-anak yang melakukan kesalahan karena unsur kesengajaan.


Bersikap tenang


Beberapa anak memang sengaja membuat kesalahan demi memancing reaksi kita terhadap mereka. Mereka akan merasa puas ketika melihat kita menunjukkan respon panik atau marah.

Menghadapi anak-anak seperti ini, kita harus menunjukkan bahwa kita tidak bisa terpancing oleh ulah mereka.

Anda mungkin juga perlu membaca Cara Tepat Mengatasi Anak yang Marah di Tempat Umum.

Tetap tenang bisa diartikan dengan tidak langsung menghardik atau mencerca mereka.


Menampakkan rasa tidak suka dengan perbuatannya itu


Ketika Nabi yang biasanya murah senyum dan gemar menyapa melihat kesalahan yang dilakukan dengan kesengajaan, maka Nabi akan memalingkan muka dan menghilangkan raut senyum itu dari wajah beliau.

Dan dengan respon ini maka tahapan untuk mengoreksi kesalahan sebenarnya sudah dimulai.


Berdialog dan berdiskusi dengannya


Ketika seorang anak berusaha memancing perhatian kita dengan melakukan hal-hal yang tidak kita suka, maka kita tidak akan bisa mengoreksi kesalahan tersebut jika mereka belum merasa diperhatikan.

Maka duduk bersama mereka, berdialog atau berdiskusi adalah cara untuk memberikan perhatian kepada mereka.

Kita bisa mulai menanyakan kenapa mereka melakukan hal itu padahal mereka tahu kalau hal tersebut salah?

Atau kita bisa menanyakan apa yang menjadi keinginan mereka, sehingga memungkinkan untuk dilakukan negosiasi. Kita juga harus paham bahwa anak-anak itu juga memiliki hak terhadap diri kita.


Menakut-nakuti dengan dampak yang akan terjadi


Memberi nasehat dengan cara menakut-nakuti secara terus-menerus adalah salah satu cara untuk mengoreksi kesalahan yang dilakukan dengan sengaja.

Kesalahan yang dilakukan dengan sengaja membuktikan kurangnya ketakutan mereka atau ketidak-tahuan mereka terhadap dampak atau hukuman yang akan menjadi konsekuensi dari perbuatan tersebut.

Maka tugas kita adalah memberikan gambaran tentang akibat yang mungkin terjadi pada diri si anak atas perbuatan yang telah ia lakukan.

Dengan pengulangan secara intens, diharapkan gambaran tersebut akan tertanam kuat di dalam benak si anak yang menyebabkan mereka mulai mengontrol perilaku mereka.


Karena Anda sudah membaca artikel ini sampai selesai,
apakah Anda juga berminat membaginya dengan teman-teman Anda?

Wednesday, July 27, 2016

7 Aturan Dasar Mengoreksi Kesalahan Anak Dengan Tepat


Saat kita berbicara tentang memuji anak, kita belajar bahwa ada beberapa aturan penting yang harus diketahui setiap orangtua sebelum memuji buah hati mereka.

Anda bisa membacanya di sini.

Dan sama halnya dengan pujian, mengoreksi kesalahan anak juga memiliki aturan-aturan penting yang harus diketahui oleh para orangtua agar koreksi tersebut dapat diterima dengan senang hati oleh anak,

sehingga tujuan jangka panjang untuk membangun karakter mereka bisa tercapai.

Baca juga Kritik yang Membangun itu Tidak Ada!

Sedikit catatan untuk artikel selanjutnya >>

Sebelum kita mengoreksi kesalahan anak, terlebih dahulu kita harus memahami apa sebab anak tersebut melakukan kesalahan.

Secara teori, ada 2 sebab dasar kenapa seorang anak melakukan kesalahan.

Pertama, anak-anak yang melakukan kesalahan karena ketidak-tahuan mereka.

Dan kedua, anak-anak yang melakukan kesalahan karena ada unsur kesengajaan.

Karena adanya kemungkinan sebab yang berbeda itulah, maka kita tidak bisa meng-“gebyah-uyah” atau menggeneralisir cara kita mengoreksi kesalahan anak yang satu dengan anak yang lainnya.

Namun jika kita bisa mengetahui penyebab dasar kenapa mereka melakukan kesalahan, maka kita bisa mengoreksi kesalahan tersebut dengan cara yang tepat.


Pada kesempatan ini akan dijelaskan terlebih dahulu 7 aturan dasar cara mengoreksi kesalahan anak secara umum tanpa membedakan sebab-sebabnya.


1. Segera mengoreksinya tanpa menunggu nanti

 

Respon yang cepat akan jauh lebih diingat daripada jika sudah berselang agak lama.

Dengan koreksi yang segera, anak akan merasa bahwa apa yang dilakukannya adalah sesuatu yang sangat penting (atau sangat salah) sehingga orangtuanya langsung menegurnya seketika itu juga.


2. Mengoreksi dengan dasar kasih sayang dan sikap yang santun


Mengoreksi atau meluruskan kesalahan pada anak haruslah dilakukan dengan sikap yang santun dan atas dasar kasih sayang. Bukan karena kita benci dan ingin memarahi mereka, akan tetapi karena kita ingin mereka menjadi seorang anak dengan kepribadian yang baik.

Ketika kita meluruskan kesalahan seorang anak dengan bahasa yang kasar, maka akan timbul sakit hati dan kebenciannya terhadap kita. kalau sudah begitu, nasehat sebaik apapun yang keluar dari mulut kita tidak akan pernah sampai ke dalam hati mereka.


3. Tidak mengoreksi kesalahan mereka di depan umum


Sama halnya dengan memuji, mengoreksi kesalahan juga pantang untuk dilakukan di depan umum.

Hanya bedanya,

jika memuji di depan umum yang kita khawatirkan adalah munculnya perasaan sombong di hati mereka, maka mengoreksi kesalahan yang kita lakukan di depan khalayak berpotensi untuk membuat anak malu dan merasa tidak dihargai.

Sama seperti aturan dasar sebelumnya, perasaan ini juga bisa membuat kata-kata kita menjadi tidak bermakna bagi mereka.


4. Menggunakan sapaan langsung


Penyebutan nama secara langsung bisa membuat mereka merasa bahwa apa yang akan diucapkan oleh orangtua mereka adalah sesuatu yang penting sehingga mereka berusaha fokus untuk mendengarkannya.


5. Dilakukan oleh seluruh anggota keluarga


Para anggota keluarga yang lebih senior harus memiliki tujuan yang sama di dalam mendidik anggota keluarga mereka.


Misalnya, ayah mengoreksi kesalahan si anak dan berusaha menjelaskan alasannya. Namun si ibu justru membela si anak dengan mengatakan, “Sudahlah tidak apa-apa, namanya juga masih kecil.”

Dengan cara seperti ini, anak akan merasa melakukan kesalahan tidak apa-apa karena masih kecil. Tapi selanjutnya pemikiran ini akan terus terbawa hingga mereka dewasa.


6. Doakan anak


Sebagai seorang yang beragama, kita yakin bahwa tuhan memiliki kuasa penuh atas makhluk-makhlukNya.

Maka libatkanlah Dia di dalam semua urusan. Termasuk juga ketika mendidik buah hati kita.


7. Tidak langsung memvonis


Saat si kecil melakukan sesuatu yang menurut kita keliru, maka sebelum mengambil tindakan lebih lanjut sangat penting untuk mengetahui kenapa mereka melakukan hal tersebut.


Karena bisa saja mereka bermaksud melakukan hal yang benar namun kita menggunakan sudut pandang yang keliru.

Misalnya kita melihat si kecil menyimpan bungkus makanan yang sudah kotor ke dalam saku celananya. Mungkin kita akan langsung memarahinya.

Tapi bagaimana jika mereka melakukan hal itu karena bermaksud membuangnya di tempat sampah yang kebetulan agak jauh dari tempat itu?

Jika di awal tadi saya menyebut agar kita merespon dengan cepat kesalahan si kecil, maka yang kita maksud dengan hal itu adalah respon cepat yang tidak gegabah.


***

Nah, pada artikel selanjutnya kita akan mengoreksi kesalahan anak berdasarkan sebabnya.

Apakah mereka melakukan hal itu karena memang benar-benar tidak tahu?

Ataukah sebenarnya mereka tahu namun tetap sengaja melakukannya?

Perbedaan sebab dasar ini tentunya harus disikapi dengan cara yang berbeda pula.


Karena Anda sudah membaca artikel ini sampai selesai,
apakah Anda juga berminat membaginya dengan teman-teman Anda?