Wednesday, April 11, 2018

6B Kebiasaan Orangtua untuk Melahirkan Anak-anak Hebat

kebiasaan baik dari orangtua


Banyak orang mengatakan bahwa tidak ada resep atau rumus untuk melahirkan anak-anak yang hebat.

Hal ini mungkin benar, mengingat anak-anak yang hebat itu tidak muncul dengan seketika. Mereka tidak dilahirkan dengan cara-cara instan.

Tapi kita bisa melihat,

banyak orangtua yang berhasil mencetak generasi-generasi hebat sebagai calon penerus mereka.

Tentu hal ini bukan merupakan suatu kebetulan. Pasti ada langkah-langkah yang telah dilakukan. Dan jika ini bukan sebuah kebetulan, maka berarti ini sudah dipersiapkan.

Apa rahasia para orangtua ini?

Jika boleh kita mengintip keseharian mereka,

ada pola dan perilaku yang sama yang diterapkan para orangtua ini untuk memunculkan anak-anak dengan talenta yang membanggakan.

Para orangtua (yang sebenarnya juga hebat ini) ternyata memiliki kebiasaan-kebiasaan yang oleh orang awam dianggap sebagai hal yang biasa saja dan tidak memiliki pengaruh apa-apa.

Kebiasaan-kebiasaan itu bisa kita rumuskan dengan 6B, yaitu Bicara, Bacakan cerita, Bermain, Batasi tontonan, Bangun bakatnya dan Berpelukan.

Agar lebih jelas, kita bisa membahasnya satu per satu.

Berikut ini adalah kebiasaan-kebiasaan orangtua yang terbukti sukses mengembangkan kecerdasan anak-anak mereka.


1. Bicara dengan mereka


Berbicara dengan anak-anak adalah salah satu kebiasaan yang wajib dilakukan untuk membentuk anak-anak yang cakap.

Hasil penelitian menyatakan bahwa kuantitas percakapan berbanding lurus dengan peningkatan IQ dan perkembangan kemampuan membaca mereka.

Artinya, semakin banyak anak diajak berbicara, maka akan semakin tinggi kemampuan membaca dan intelektual mereka.

Bahkan disebutkan bahwa lebih dari 95% kosa kata yang dimiliki anak-anak yang masih berusia 3 tahun,
didapatkan dari orangtuanya.

Maka mengajak bicara anak-anak semenjak masih bayi harus menjadi kebiasaan para orangtua.

Ajak bicara saat memandikan mereka, saat memakaikan pakaian, saat mereka bermain,

bahkan saat kita sedang sibuk mengerjakan pekerjaan di rumah.

2. Bacakan cerita untuk mereka


Selain mengajak mereka berbicara,

cara lain yang juga efektif untuk meningkatkan kecerdasan anak-anak adalah dengan membacakan mereka cerita atau dongeng.

Selain dapat meningkatkan kemampuan mendengar dan berbicara,

kebiasaan membacakan cerita ini dapat melatih imajinasi, kreatifitas dan nalar anak-anak.

Bahkan anak-anak yang terbiasa dibacakan dongeng atau cerita selama 20 menit perhari menjadi lebih unggul dari anak-anak lainnya di usia remaja,

dalam hal daya ingat dan penyelesaian masalah.

Mereka-mereka ini hampir bisa dipastikan mencapai kesuksesan saat di Sekolah Menengah Atas.

3. Biarkan mereka bermain


Banyak orangtua yang masih salah paham tentang bagaimana membantuk anak-anak yang cerdas.

Menurut mereka,

bermain, adalah sebuah kegiatan yang tidak ada faedahnya. Sia-sia dan tanpa manfaat yang berarti.

Padahal seorang fisikawan terkemuka, pernah mengatakan begini,

“Jika sukses sama dengan A, maka rumusnya adalah A = x + y + z. “x” adalah bekerja, “y” itu bermain, dan “z” tidak banyak bicara.” (Albert Einstein, 1879-1959)

Artinya bahwa bermain memiliki porsi yang sama pentingnya untuk melahirkan kesuksesan.

Bermain bukanlah suatu kegiatan yang tidak bermanfaat.

Bahkan ia adalah kegiatan yang membantu perkembangan kemampuan fungsi eksekutif,

yang mana fungsi ini sangat penting untuk membantu bekerjanya fungsi memori, memberi jawaban, penyelesaian masalah termasuk nanti bagaimana anak mengatur dirinya sendiri.

Findlandia, yang disebut-sebut sebagai salah satu negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia, menerapkan metode bermain ini sebagai kurikulum pengajaran mereka.

Hasilnya, anak-anak di sana mampu menyelesaikan soal-soal 15 menit lebih cepat dari waktu normal yang disediakan.

4. Batasi menonton TV


Diakui atau tidak, televisi adalah salah satu sarana yang menunjang kegagalan anak-anak di dalam belajar.

Belum pernah dikabarkan bahwa ada anak-anak yang menjadi cerdas dan berprestasi di sekolah karena rajin menonton TV.

Yang terjadi malah sebaliknya,

“serangan” visual dari televisi justru sangat membebani kinerja otak anak-anak dan menghilangkan kreatifitas.

Menonton televisi lebih dari satu jam bisa menyebabkan masalah pada daya konsentrasi anak. Ini belum termasuk konten tayangan iklan yang jauh dari kesan mendidik.

Inilah sebabnya kenapa anak-anak dengan usia di bawah 2 tahun tidak boleh menonton TV sama sekali.

5. Bangun bakatnya


Membangun bakat anak bisa juga disebut mendukung fitrahnya.

Banyak orangtua yang seringkali secara tak sadar menghancurkan fitrah anak-anak mereka.

Misalnya, orangtua kerap memarahi anak-anak mereka yang dianggap terlalu banyak omongnya. Orangtua juga akan menunjukkan sikap tidak suka jika anak-anak mereka terlalu banyak bertanya dan curiga.

Padahal bisa jadi anak-anak yang banyak omongnya itu nanti akan menjadi seorang orator atau penceramah yang handal.

Bisa jadi anak-anak yang suka curigaan itu akan menjadi seorang detektif yang kuat nalurinya.

Kita tidak pernah tahu akan menjadi apa mereka nantinya. Maka daripada kita berusaha keras untuk membungkam bakat mereka, jauh lebih baik kita beri mereka dukungan sikap dan dukungan doa.

Dengan merasakan banyaknya dukungan dari orangtuanya, anak-anak itu akan tumbuh dengan kepercayaan diri yang kuat.

Semoga dengan kepercayaan dirinya itu mereka saat dewasa nanti bisa menemukan apa yang menjadi passion mereka sebenarnya.

6. Berpelukan sesering mungkin


Yang terakhir ini mungkin semua orangtua sudah mengetahuinya.

Bahwa berpelukan, berpegangan tangan, bermanja-manja, tertawa dan bernyanyi bersama merupakan asupan yang bergizi bagi perkembangan otak anak-anak kita.

Pada dasarnya aktifitas ini adalah merupakan sarana mentransfer emosi dari orangtua kepada anak-anak mereka sehingga perasaan-perasaan yang positif akan menular.

Karakter dan mental mereka pun akan terbangun dengan baik.


Thursday, April 5, 2018

10 Keahlian yang Wajib Dikuasai oleh Setiap Orangtua

cara menjadi orangtua yang baik

Menjadi orangtua tentu merupakan dambaan setiap pasangan. Bahkan segala upaya akan dilakukan ketika pasangan tersebut belum juga dikaruniai momongan.

Namun, jika mau jujur, menjadi orangtua bukanlah sebuah title yang menyenangkan.

Akan ada tanggung jawab yang harus kita emban ketika sebutan tersebut telah melekat pada diri kita.

Tanggung jawab tersebut adalah bagaimana mendidik dan mengajari anak-anak kita sikap-sikap positif untuk pembentukan mental dan karakter mereka.

Maka kemudian bukan menjadi “orangtua” yang perlu kita agung-agungkan,

namun bagaimana menjadi “orangtua yang terbaik” bagi anak-anak kita, atau bagaimana menjadi orangtua yang mengerti kebutuhan mereka,

itu yang harus kita upayakan.

Sehingga tentu diperlukan banyak keahlian yang harus dimiliki untuk tujuan tersebut.

Ada setidaknya 10 keahlian yang harus kita kuasai agar bisa menjadi orangtua yang terbaik dan yang mengerti tentang anak-anak kita.

1. Menjadi Pendengar yang Baik


Menjadi pendengar yang baik merupakan keahlian yang teramat penting yang wajib dikuasai oleh setiap orangtua.

Pada postingan tentang bagaimana cara menjadi pendengar yang baik untuk anak,

dituliskan bahwa kegagalan di dalam menjadi pendengar yang baik akan berujung pada kesalah-pahaman.

Kesalah-pahaman ini akan berimbas pada perbedaan visi dan misi antara orangtua dan anak. Sehingga tujuan yang kita harapkan,

akan sulit tercapai.

Maka solusinya adalah,

berikan kepada anak-anak kita kesempatan untuk menceritakan apa yang menjadi permasalahan mereka.

Dan tunjukkan kepada mereka perhatian khusus kita terhadap permasalahan tersebut.

2. Menjadi Pecinta Tanpa Syarat


Keahlian berikutnya yang harus dikuasai oleh setiap orangtua adalah menunjukkan rasa cinta dan sayang kita kepada mereka,

dalam kondisi dan keadaan apapun.

Selain dengan cara memberikan mereka hadiah-hadiah sederhana,

pelukan yang bersahabat dan ungkapan-ungkapan cinta akan menjadikan mereka merasa dihargai dan disayangi.


3. Menjadi Teman Terbaik


Bagi para orangtua yang bekerja, maka poin yang ketiga ini harus diupayakan dengan sungguh-sungguh.

Karena seharian penuh kita fokus kepada pekerjaan kita, maka ketika pulang ciptakan waktu yang berkualitas bersama anak-anak.

Hindari membawa pekerjaan ke rumah. Hindari gadget atau apapun yang bisa memisahkan kita dengan mereka.

Yang sangat dibutuhkan oleh anak-anak itu adalah interaksi dengan orangtua mereka.

Maka kita bisa membuat permainan-permainan yang interaktif,

menceritakan dongeng atau kisah-kisah yang menarik,

atau sekedar berbincang-bincang tentang apapun yang itu bisa memperkuat emotional bonding kita dengan anak-anak.

4. Menjadi Tegas, namun Menyenangkan


Hal yang sangat penting untuk pembentukan karakter anak-anak kita adalah,

penerapan kedisiplinan di rumah.

Orangtua bisa menerapkan aturan-aturan khusus yang bisa membantu membentuk kepribadian baik pada anak-anak.

Namun penting untuk diingat,

bahwa aturan-aturan tersebut haruslah dibuat dengan bahasa yang menyenangkan.

Tanpa ancaman, apalagi kekerasan.


5. Menjadi Adil dan Konsisten


Keahlian yang ke-5 ini sangat erat kaitannya dengan apa yang disebut pada poin sebelumnya.

Jika aturan-aturan yang dibuat tadi bersifat umum,

maka aturan-aturan tersebut harus berlaku untuk semua anggota keluarga,

termasuk untuk orangtua.

Namun orangtua juga bisa membuat aturan yang berbeda-beda untuk setiap anggota keluarga.  Dengan cara ini kita akan mengajari anak-anak untuk bisa menghormati aturan-aturan yang diperuntukkan untuk anggota keluarga yang lain.

Selain itu, penting untuk tidak terlalu sering menggonta-ganti aturan yang sudah disepakati. Karena hal tersebut akan membuat anak-anak berpikir bahwa kita kurang tegas.

6. Menjadi Contoh yang Baik


Dalam setiap pembelajaran tentang parenting atau pembentukan karakter anak-anak,

hal yang selalu pasti disebutkan adalah keteladanan.

Bagaimana orangtua bisa menjadi role model bagi anak-anak mereka.

Tidak berlebihan jika orangtua diibaratkan sebagai lokomotif yang menyeret gerbong-gerbong di belakangnya. Mau sampai dimana gerbong-gerbong itu tergantung sampai dimana lokomotif berhenti.

Orangtua memang bisa mengajar anak-anaknya melalui kata-kata,

namun pemahaman mereka akan jauh lebih kuat dengan melihat apa yang kita lakukan.

7. Menjadi Ahli Mengapresiasi, Bukan Ahli Menghukum


Di dalam tulisan tentang 4 Kesalahan Seorang Pemimpin,

kesalahan yang paling utama dilakukan adalah tidak bisa menempatkan reward (penghargaan) dan punishment (hukuman) pada saat yang tepat.

Kesalahan penerapan ini biasanya terjadi berupa pemberian hadiah untuk sikap buruk yang dilakukan anak dan pemberian hukuman atas niat baik sang anak.

Misalnya saat berada di tempat umum, si anak merengek-rengek minta dibelikan mainan. Namun karena keinginan tersebut tidak dituruti oleh orangtua, maka si anak kemudian menangis dan berteriak-teriak dengan keras.

Orangtua yang tidak tahan dengan situasi tersebut akhirnya memilih mengalah dengan membelikan mainan yang diinginkan.

Ini adalah contoh pemberian hadiah untuk sikap buruk anak-anak.

Contoh lain, misalnya si anak bermaksud memotong rumput yang sudah mulai meninggi di halaman rumah.

Namun karena masih belum terlalu paham, tanaman yang dipelihara oleh orangtuanya ikut terpotong bersama rumput-rumput itu.

Orangtua yang marah segera menghukum si anak.

Ini adalah contoh bagaimana orangtua memberikan hukuman untuk niat baik si anak.

8. Menjadi Diri Anak 


Kelanjutan dari poin 7 tentang apresiasi dan bukan hukuman,

maka agar orangtua bisa memahami maksud dan niat si anak, orangtua perlu untuk menjadi diri si anak.

Maksudnya adalah melihat dari sudut pandang mereka.

Bagaimana caranya?

Cara yang paling mudah adalah dengan cara bertanya dari hati ke hati kepada mereka. Dengan lemah lembut dan tanpa bentakan atau ancaman.

9. Menjadi Pembelajar


Tidak ada manusia (baca: orangtua) yang sempurna.

Bahkan jika anda tahu, penulis artikel inipun sebenarnya jauh dari kata itu di dalam mendidik anak-anaknya.

Namun satu hal yang tetap harus kita upayakan adalah kemauan untuk belajar menjadi orangtua yang tepat bagi mereka.

Selain membaca artikel atau buku-buku tentang parenting,

mengikuti seminar atau pengajian dengan tema pendidikan anak-anak,

membuat catatan-catatan tentang hal tersebut juga bisa kita lakukan (sebagaimana tujuan awal dibuatnya blog ini).

Mempelajari hal-hal yang seperti ini tidak akan membuat wibawa kita sebagai orangtua jatuh. Namun justru akan membuat anak-anak kita respek terhadap apa yang telah kita lakukan.

10. Menjadi Penyabar


Meski ditulis pada urutan yang paling akhir,

bukan berarti keahlian ini paling tidak penting.

Justru menjadi orangtua dengan sikap yang positif seperti ini akan “menular” kepada anak-anak kita.

Sebaliknya, orangtua yang mendidik anak-anaknya dengan sikap yang arogan dan kasar hanya akan menghasilkan preman-preman di masa mendatang.

Anak-anak itu akan tumbuh menjadi anak-anak yang tidak pandai memahami lingkungannya dan berempati terhadap sesamanya.

Pendidikan yang ditempuh melalui jalur kesabaran diibaratkan seperti pohon bambu yang butuh waktu sangat lama untuk tumbuh,

namun kemudian ia akan tumbuh dengan sangat tinggi dan sangat kuat.

Sunday, March 25, 2018

Daffa, dan Sedikit Cerita Tentang GBS

Apa itu GBS?


Bersamaan dengan merebaknya kasus difteri, ada satu jenis penyakit lagi yang penting untuk mendapat perhatian khusus...

Anak kami adalah salah satu penderitanya yang - dengan takdir Allah - mengalami kesembuhan jauh lebih cepat dari perkiraan.

Mudah-mudahan apa yang kami tulis ini bermanfaat bagi pembaca sekalian.

***

Tahun 2018 ini agaknya akan menjadi tahun yang istimewa bagi saya dan keluarga. Karena memasuki awal tahun ini Allah berkehendak memberi kami sebuah “kado spesial”.

Daffa, anak kedua kami yang sudah berusia 6 tahun, secara mendadak tiba-tiba tidak bisa berjalan...

Kedua kakinya sangat lemah sehingga tidak bisa menahan berat tubuhnya sendiri. Begitu pula dengan kedua tangannya yang - bahkan - tidak sanggup mengangkat cangkir minumannya.


KRONOLOGISNYA


Sebenarnya, sejak awal Januari ini saya sudah merasa ada yang tidak beres dengan anak kami.

Pandangan matanya sayu dan di bagian bawah matanya agak sedikit menghitam. Tingkahnya juga lesu seperti orang yang malas atau kecapekan. Saat ditanya, Daffa mengaku tidak sakit,

tidak pusing,

dan tidak habis jatuh.

Setelah itu, setiap kali saya ajak ke masjid ia terus-terusan berpegangan pada tangan saya, bahkan saat sholat.

Saya yang merasa anak kami hanya kecapekan, tidak terlalu memperdulikan hal tersebut. Namun mungkin di situlah kesalahan saya.

Puncaknya, tanggal 4 Januari 2018, Daffa yang terbiasa berangkat dan pulang sekolah dengan berjalan kaki (karena jarak sekolah yang hanya terpisah beberapa blok), terjatuh.

Saat itu salah seorang wali murid yang melihatnya lantas membantunya berdiri. Namun setelah berdiri, Daffa kembali jatuh. Karena khawatir dengan keadaannya, wali murid tersebut akhirnya mengantar Daffa pulang dengan motornya.

Ketika kami menanyainya, ia menjawab bahwa pada bagian belakang lutut kanannya sakit.

Keesokan harinya kedua bagian belakang lututnya sakit. Dan selanjutnya kedua lengan hingga ketiaknya yang terasa sakit.

Sejak itu Daffa tidak bisa bangun maupun berdiri...


TANDA TANYA?


Namun ada satu hal yang menjadi tanda tanya bagi kami, termasuk oleh dokter sendiri pada awal-awal sakitnya. Tanda tanya tersebut adalah bahwa sakitnya Daffa ini tanpa diiringi dengan gejala-gejala lain seperti pada penyakit umumnya.

Daffa tidak panas atau demam, tidak mual dan muntah serta tidak diare. Pusing hanya sesekali saja, karena mungkin sehari-harinya dihabiskan lebih banyak dengan tidur-tiduran.

Untuk makan dan bersenda gurau dengan kakak atau adiknya juga seperti biasanya. Tidak ada yang berbeda.

Satu-satunya hal yang menunjukkan bahwa dia sakit hanyalah tubuhnya yang lemas. Dan ada beberapa persendian yang sakit bila ditekan atau ditarik.

Sehari-harinya Daffa hanya bisa berbaring saja. Bahkan untuk duduk harus dibantu dan untuk ke kamar kecil harus digendong.


UPAYA PENGOBATAN


Selama hari-hari itu kami sudah mengupayakan pengobatan ke banyak tempat. Mulai bidan, dokter praktek, dokter spesialis, bahkan rukyah. Akan tetapi sampai sejauh ini Allah masih belum membuka penyebab sakitnya Daffa.

Hasil cek lab dari RS juga tidak menunjukkan adanya indikasi yang perlu diwaspadai. Memang ada sedikit gejala tipes, namun kemudian hilang pada pemeriksaan berikutnya.

Sedikit hal yang bisa kami lakukan adalah mengupayakan perbaikan imun Daffa dengan memberinya asupan buah pisang dan air kelapa muda. Alhamdulillah, meski kecil, upaya ini ada hasilnya.

Tanggal 22 Januari, atas saran dan bantuan dari para tetangga dan jamaah di masjid, kami membawa Daffa ke RSUD Sidoarjo.

Dari dokter yang bertugas di Poli Anak, kami diarahkan untuk cek lab (lagi) dan melakukan pemeriksaan sistem syaraf.

Hasil lab yang kami terima juga menunjukkan tanda-tanda normal. Hanya saja ketika harus melakukan pemeriksaan syaraf, dokter yang bertugas menyatakan bahwa alat mereka mengalami gangguan. Sehingga kami disarankan untuk melakukan pemeriksaan tersebut di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya.


GBS SYNDROME


GBS atau Guillain-Barre Syndrome adalah keadaan ketika sistem kekebalan tubuh menyerang system syaraf.

Tanda yang paling terlihat adalah pelemasan otot dimulai dari tubuh bagian bawah (mirip kelumpuhan) lalu bergerak ke atas, dan biasanya diiringi gatal tubuh bagian atas dan pelemasan otot pernafasan alias sesak nafas.

Hasil pemeriksaan EMG dinyatakan Daffa terkena sindrom GBS ini.

Namun karena saat dibawa ke RSUD Dr. Soetomo keadaan Daffa sudah jauh lebih baik dari hari-hari sebelumnya (sudah bisa duduk sendiri dan merangkak), maka dokter mempertimbangkan untuk tidak dilakukan rawat inap.

Sehingga keesokan harinya kami sudah diperbolehkan pulang dengan catatan tetap dilatih fisioterapinya di rumah seperti latihan menapak, menendang, memukul, jongkok-berdiri, naik-turun tangga, dan sebagainya.

FYI, menurut penjelasan Dr. Immanuel dari Poli Syaraf Anak mengatakan bahwa jaringan otot dibagi menjadi dua bagian. Jaringan otot dari leher ke atas atau yang disebut UMN (Up Muscle Neuron) dan; jaringan otot dari leher ke bawah yang disebut LMN (Low Muscle Neuron).

Qadarullah, pada kasus Daffa yang diserang “hanyalah” jaringan otot bawah sehingga in sya Allah tidak ada hubungannya dengan otak.

Inilah yang mungkin membedakan Daffa dengan pasien-pasien lainnya.

Pasien lainnya harus diinfus (karena tidak bisa makan dengan baik) dan harus dipasang selang oksigen (karena sesak nafas berkelanjutan).

Bahkan jika kondisinya semakin parah, maka dokter akan memberikan cairan (saya lupa namanya) yang harga perbotolnya persis gaji saya sebulan!

Dan itu harus diberikan setiap hari...

Allahumma rabban-naasi, adzhibil ba'sa wasfihi, wa anta syafii. Laa syifa'a illa syifa'uka. Syifa'an laa yughadiru saqama.

“Ya Allah, Rabb-nya manusia, hilangkanlah kesusahan dan berilah dia kesembuhan, Engkau Dzat Yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit lain.”

Saya mendoakan ini untuk pasien-pasien lain yang bernasib jauh lebih parah dari anak kami.

***

Alhamdulillah, kondisi anak kami saat ini sudah jauh lebih baik.

Daffa sudah bisa berjalan dan beraktifitas seperti biasanya. Meski kami masih harus membatasi durasinya,

karena jika ia kelelahan, malam harinya suhu tubuhnya akan naik.

Dan saya harus mengakui jika gerakan-gerakan sholat merupakan terapi yang sangat baik untuk kesembuhan Daffa.

Saat ini Daffa masih belum bisa rukuk dengan sempurna, karena masih terasa ada otot yang tertarik (katanya).

Memang belum bisa dikatakan sembuh total, namun keadaan ini sudah sangat kami syukuri mengingat pada kasus GBS jangka waktu kesembuhan diperkirakan antara 6-12 bulan, bahkan pada beberapa kasus yang parah bisa sampai 4 tahun!

Catatan: Saat saya memposting tulisan ini, saya baru saja mendapat informasi bahwa di RSUD Sidoarjo mulai berdatangan pasien suspect GBS.

Semoga ini adalah akhir catatan Daffa dengan GBS-nya.

Dan semoga anda dan keluarga juga dikaruniai kesehatan yang berkah. Aamiin.


Long Distance Parenting, Mungkinkah Berhasil?

Pendidikan jarak jauh


Pada sebagian orang, menjadi orangtua di masa-masa seperti sekarang ini sungguh merupakan keadaan yang berat.

Harga-harga kebutuhan yang terus meninggi, biaya pendidikan di lembaga-lembaga yang bagus yang hampir-hampir tidak terjangkau,

adalah hal-hal utama yang menjadi permasalahan setiap orangtua yang berada di level ini.

Untuk itulah para orangtua harus rela bekerja “lebih” demi anak-anak mereka. Bekerja lebih lama, lebih berat, atau bahkan lebih jauh untuk mendapatkan penghasilan yang lebih baik.

Pada keadaan inilah anak-anak biasanya merasa jauh dari orangtua,

baik jauh secara fisik maupun jauh secara emosional.

Jika hal ini tidak segera disadari oleh orangtua, maka hasilnya nanti bisa jadi lebih buruk lagi...

Perlu ada cara bagi para orangtua yang terpisah jauh dari anak-anaknya, agar kedekatan secara emosional tetap bisa terjalin dengan baik.

Ada sebuah kisah di dalam Al-Qur’an yang bisa dijadikan contoh bahwa kedekatan secara emosional antara orangtua dan anak bisa dilakukan meski keduanya terpisah jarak yang jauh.

***

Di dalam kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam diceritakan bahwa ketika Nabi Ibrahim bersama istrinya dan putranya, si bayi Ismail berada di sebuah tempat yang tandus dan gersang,

datanglah perintah Allah kepada beliau untuk meninggalkan istri dan putranya di tempat tersebut.

Meski dengan berat hati, Nabi Ibrahim pun berpisah dengan keluarganya demi ketaatannya kepada Tuhannya.

Singkatnya,

setelah bertahun-tahun kemudian, Nabi Ibrahim kembali untuk bertemu dengan keluarganya. Saat itu Ismail mulai beranjak dewasa.

Akan tetapi belum sempat keduanya membangun hubungan, datanglah ujian ketaatan lagi dari Allah untuk Nabi Ibrahim berupa perintah untuk menyembelih putranya tersebut.

Bimbang dan ragu sempat menyelimuti hati sang ayah...

Kita semua tentu sudah tahu bagaimana kelanjutannya. Namun yang menarik di dalam kisah ini adalah,

sebelum Nabi Ibrahim benar-benar melaksanakan perintah Allah tersebut, terjadilah dialog antara kedua ayah dan anak ini.

Saat itu Nabi Ibrahim bertanya, “Sesungguhnya aku telah mendapatkan perintah untuk menyembelihmu. Maka bagaimana pendapatmu?”

Maka jawab Ismail, “Wahai ayahanda-ku, laksanakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu. Insyaallah, engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”

***

Sekarang, 

yang menjadi pertanyaan adalah,

bagaimana bisa seorang anak yang telah bertahun-tahun tidak pernah bertemu dengan ayahnya,

bisa menjadi sedemikian patuhnya kepada sosok yang baru kali ini ditemuinya?

Atau jika kasus ini diterapkan di dalam dunia parenting,

bagaimana cara orangtua mendidik anak-anaknya agar mereka menjadi anak-anak yang berbakti kepada orangtuanya...

... meskipun terpisah oleh jarak yang jauh?

Mungkinkah karakter dan mental anak-anak bisa dibangun dari jarak yang jauh?


Long Distance Parenting, Mungkinkah Berhasil?


Long Distance Parenting atau LDP adalah sebuah istilah yang merujuk kepada upaya pembentukan karakter dan mental anak-anak dengan ayah atau ibu yang tidak berada di dekat mereka.

Hal ini bisa terjadi karena ayah atau ibu yang bekerja di tempat yang jauh atau memiliki tugas tertentu sehingga tidak bisa setiap saat bertemu.

Kisah Nabi Ibrahim mengajarkan kepada kita Long Distance Parenting bisa dilakukan dan memiliki tingkat keberhasilan yang sama dengan pendidikan jarak pendek yang umum dilakukan.

Mencontoh pada kisah Nabi Ibrahim,

setidaknya ada dua hal penting yang menjadi faktor utama dari keberhasilan LDP ini.


Pertama, doa sang Ayah


Kita paham bahwa Allah-lah yang maha mengatur. Segala sesuatu terjadi pada kita dan pada keluarga kita adalah atas kehendak-Nya. Termasuk dalam hal ini adalah kondisi yang mengharuskan kita jauh dari keluarga.

Karena itulah kita membutuhkan kemaha-kuasaan Allah untuk membuat segalanya menjadi lebih baik.

Nabi Ibrahim telah mencontohkan bagaimana cara beliau berdoa:

Beliau menitipkan keluarganya hanya kepada Allah yang maha melindungi.

Beliau juga tidak meminta anak yang kaya atau tampan. Yang beliau minta adalah anak-anak yang shalih, yang tetap mengerjakan sholatnya.

Maka sebagai jawaban dari doa-doa tersebut, Allah menjadikan Ismail sebagai anak yang ikhlas dan sabar.


Kedua, figur sang Ibu


Ibu yang menemani Ismail saat ketiadaan sang ayah adalah seorang ibu yang tangguh.

Bukan saja tangguh secara fisik, namun juga secara emosional.

Pada setiap kesempatan sang Ibu senantiasa menceritakan bagaimana sifat-sifat dan kebiasaan sang Ayah dengan baik. Sehingga sang anak merasa tahu lebih banyak tentang ayahnya.

Meski Ibrahim tidak berada di dekat mereka,

namun sang Ibu berhasil membangun profil sang ayah dengan sangat kuat sehingga sang anak merasa begitu mengenal sosok ayahnya,

seolah-olah sang Ayah memang hadir di tengah-tengah mereka.


Ketiga (sebagai tambahan saja), komunikasi yang intens


Di era digital seperti sekarang ini, jarak yang jauh sudah tidak lagi menjadi halangan untuk tetap terhubung. Banyak cara berkomunikasi yang bisa kita lakukan dengan bantuan ponsel.

Komunikasi yang intens bukan berarti komunikasi yang teratur, yang terjadwal dan yang membosankan,

namun sebuah komunikasi yang mampu melibatkan emosi dengan baik.

Komunikasi yang intens menjadikan seolah-olah keduanya hadir, berbicara di dalam satu ruangan yang sama, berhadap-hadapan.

Orangtua tidak harus memilliki hari atau jam tertentu untuk menghubungi anak-anak mereka. Namun sesering mungkin, kita bisa mencoba menelpon pada waktu-waktu yang tidak biasa untuk sekedar memberitahukan bahwa kita sedang ingin tahu keadaan mereka.

Atau, kita juga bisa menanyakan tentang permasalahan yang sedang mereka hadapi untuk didiskusikan bersama.