Sunday, October 22, 2017

Anak Perempuan Seharusnya Dekat dengan Siapa?

ayah nulis, pendidikan karakter, parenting


Tulisan ini tidak hanya terpaku pada pembahasan anak perempuan saja.

Jika dipanjangkan, judul dari tulisan ini sebenarnya, “Anak laki-laki seharusnya dekat dengan siapa, dan anak perempuan seharusnya dekat dengan siapa”.

Pada postingan ini akan dijelaskan apa itu fitrah seksualitas,

dan bagaimana membentuknya pada anak-anak kita.

***

Pada artikel tentang membangun karakter buah hati ini, saya pernah menuliskan bahwa seorang anak yang memiliki kedekatan dengan sang ayah, memiliki dampak positif yang lebih besar daripada yang tidak. (Dr. Kyle Pruett, penulis buku tentang parenting).

Kecenderungan memiliki emosi yang stabil bisa didapatkan dengan interaksi yang kuat dengan sosok ayah.

Pernyataan Dr. Kyle Pruett ini sebenarnya tidak ada yang salah.

Hanya saja jika tidak dijelaskan secara lebih detil akan terjadi kesalah-pahaman.

Kita tentu menyadari bahwa anak laki-laki dan anak perempuan memiliki karakter yang berbeda satu sama lain.

Sedangkan di dalam pendidikan anak-anak tidak hanya sosok sang ayah yang “bekerja”.

Figur sang ibu pun diperlukan untuk tumbuh kembang anak-anak.

Karenanya,

akan ada tahapan-tahapan usia yang berbeda bagi anak laki-laki dan anak perempuan untuk lebih dekat kepada siapa.


Fitrah Seksualitas


Menurut Elly Risman, seorang psikolog sekaligus pakar parenting,

fitrah seksualitas adalah tentang bagaimana seorang anak berpikir, merasa dan bersikap sesuai fitrahnya.

Sebagai lelaki sejati, atau sebagai seorang perempuan sejati.

Berbeda dengan pendidikan seks,

pengenalan tentang fitrah seksualitas ini harus dimulai sejak bayi lahir.

Pada prosesnya nanti, pendidikan fitrah seksualitas ini akan banyak bergantung pada kehadiran figur ayah dan figur ibu.

Banyak riset dilakukan berkaitan dengan hal ini,

bahwa anak-anak yang masa kecilnya kehilangan figur orangtuanya bisanya mengalami banyak masalah kejiwaan,

seperti perasaan diasingkan, depresi, masalah sosial hingga seksualitas.

Elly Risman dalam salah satu tulisannya menjelaskan bahwa ada tahapan-tahapan usia yang berbeda dalam hal kedekatan anak dengan orangtuanya.

Tahapan-tahapan usia tersebut bisa dijelaskan sebagai berikut:


Usia 0-2 tahun: Tahap Menyusui


Karena pada dua tahun pertama ini adalah masa-masa menyusui,

maka pada tahap ini anak-anak, baik laki-laki atau perempuan akan lebih dekat kepada ibunya.


Usia 2-7 tahun: Tahap Pengenalan


Pada tahapan kedua ini, baik anak laki-laki ataupun anak perempuan harus dekat dengan ayah dan ibunya.

Tujuannya adalah agar pada diri anak tercipta keseimbangan antara emosional dan rasional.

Pada tahap ini anak-anak harus sudah bisa memastikan identitas seksualnya.

Mereka sudah harus bisa mengatakan, “Saya laki-laki” atau “Saya perempuan”.

Hal ini bisa terjadi dengan kedekatan anak dengan sosok ayah dan ibu secara bersamaan.

Sehingga anak-anak sudah bisa membedakan mana laki-laki dan mana perempuan,

serta menempatkan cara bicara, cara berpakaian, berpikir dan bertindak sesuai dengan identitas seksualnya.

Lebih lanjut, Elly Risman mengatakan bahwa

kegagalan anak-anak dalam memastikan jenis gendernya pada tahap ini,

maka potensi penyimpangan seksual sebenarnya sudah mulai terjadi.


Usia 7-10 tahun: Tahap Tanggung Jawab


Pada masa-masa ini, anak-anak sudah mulai diperkenalkan perintah shalat

dan mulai tumbuh rasa tanggung jawab.

Maka pada tahapan ini sosok ayah harus lebih kuat kedekatannya dengan anak laki-laki.

Dan sosok ibu harus lebih dekat dengan anak perempuan.

Selalu mengajak anak-anak untuk shalat berjama’ah di masjid,

berkomunikasi secara apa adanya dan bermain akrab dengan mereka,

adalah hal-hal yang bisa dilakukan sang ayah untuk pembelajaran dalam bersikap dan bersosial.

Pada tahapan ini biarkan anak laki-laki kita memahami figur ke-lelakian dan peran ke-ayahan yang nantinya akan mereka duplikasi dalam kehidupan sosial mereka.

Maka seorang ayah harus menjadi ayah yang super hebat,

sehingga sang ayah akan diingat anak sebagai laki-laki pertama yang menjadi idolanya.

Pada fase ini ayah berkesempatan untuk menjelaskan hal-hal penting pada diri seorang laki-laki.

Misalnya tentang mimpi basah, mandi wajib dan konsekuensi memiliki sperma bagi seorang laki-laki.

Sedangkan kedekatan anak perempuan dengan ibunya akan membentuk jiwa ke-perempuanannya dan ke-ibuannya.

Seorang ibu harus menjelaskan tentang haid, konsekuensi adanya rahim dan indung telur yang siap dibuahi bagi perempuan.

Seorang ibu juga wajib menjadi sosok ibu yang sakti,

Sehingga sang ibu akan dilihat anak sebagai perempuan pertama yang menjadi panutannya.


Usia 10-14 tahun: Tahap Kritikal


Pada tahap ini anak-anak mulai mencapai puncak fitrah seksualitas.

Dengan kata lain, ini adalah masa transisi mereka menuju dewasa.

Ketertarikan – baik secara birahi maupun empati - terhadap lawan jenis akan muncul pada tahapan ini.

Maka Islam memerintahkan untuk memisahkan kamar anak laki-laki dan anak perempuan.

Sedangkan pada pendidikan fitrah seksualitas,

anak laki-laki harus didekatkan kepada ibunya, dan anak perempuan harus didekatkan kepada ayahnya.

Kenapa?

Ketertarikan terhadap lawan jenis secara birahi, harus diimbangi dengan ketertarikan secara empati.

Seorang laki-laki harus bisa memperhatikan, memahami dan memperlakukan sosok perempuan,
dari sudut pandang perempuan.

Bukan dari sudut pandang dirinya.

Maka gurunya haruslah seorang perempuan yang ideal, yang terhebat dan yang terdekat.

Yaitu ibunya.

Dari ibunya, anak laki-laki akan belajar memahami perasaan dan sikap perempuan.

Jika anak laki-laki tidak dekat dengan ibunya pada tahap ini,

maka ia akan menjadi lelaki yang kurang kedewasaannya, suami yang kasar dan egois,

dan sebagainya.

Sedangkan anak perempuan pada fase ini didekatkan dengan sang ayah.

Agar ia memahami bagaimana seorang laki-laki harus diperhatikan, dipahami dan diperlakukan,

dengan kacamata laki-laki.

Jika anak perempuan tidak dekat dengan ayahnya di tahapan ini,

maka ia berpotensi menyerahkan dirinya kepada sosok lain yang dianggapnya bisa menggantikan figur ayah yang hilang.

Pendidikan fitrah seksual yang berhasil

akan membentuk anak laki-laki kita menjadi seorang laki-laki sejati

dan anak perempuan kita menjadi seorang perempuan sejati.

Friday, October 20, 2017

Antara Panah dan Doa

Jika saya ditanya siapa sahabat Rasulullah yang paling cerdas?

Maka saya dengan pasti akan menjawab, Saad bin Abi Waqqash orangnya.

Kenapa?

Saad bin Abi Waqqash memang bukan sahabat yang mengerti tentang sains,

atau menguasai banyak bahasa asing seperti halnya Zaid bin Tsabit.

Saad juga bukan sahabat yang menghafal banyak sabda-sabda dari Nabi seperti Abu Hurairah.

Saad juga tidak memiliki gelar “Pintu Ilmu” seperti Ali bin Abi Thalib.

Saad bin Abi Waqqash hanyalah seorang panglima perang yang memiliki kemampuan memanah yang sangat hebat.

Bidikannya sangat kuat dan selalu tepat sasaran.

Bahkan diceritakan dalam salah satu peperangan, Saad berhasil menewaskan seorang Kafir tepat di lehernya...

... dengan panah yang sudah patah ujungnya!

Namun bukan itu yang membuat saya menganggap Saad sebagai seorang sahabat yang paling cerdas.

Alasannya adalah,

karena Saad bisa menjawab  “tantangan” yang diberikan Rasulullah dengan jawaban yang tepat dan benar-benar di luar ekspektasi kita.

Begini tantangannya.

Suatu ketika,

Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepada Saad seperti ini,


“Wahai Saad, mintalah sesuatu! Nanti aku akan memintakannya kepada Allah.”

Sungguh, ini sebuah hal yang sangat besar!

Jika seorang Nabi yang berkata seperti itu, maka sudah pasti permintaan tersebut akan terkabulkan.

Tidak mungkin tidak!

Kalau Anda yang diberi kesempatan semacam ini,

apa permintaan Anda???

Jawaban ini yang akan membedakan Anda dengan Saad bin Abi Waqqash.

ayahnulis, pendidikan karakter, cerita, inspiratif


Siapa itu Saad bin Abi Waqqash?


Saad bin Abi Waqqash nama aslinya adalah Saad bin Malik Az-Zuhri. Cucu dari Uhaib bin Manaf yang merupakan paman dari ibunda Rasulullah.

Ia masuk Islam saat usianya 17 tahun dan termasuk di dalam orang-orang yang terdahulu masuk Islam.

Saad adalah seorang ksatria berkuda yang paling berani.

Ia adalah seorang pemanah yang sangat mahir.

Bahkan disebutkan dalam buku Biografi 60 Sahabat Nabi, karya Khalid Muhammad Khalid,

bahwa Saad adalah orang yang pertama kali melepaskan anak panah di jalan Allah, dan yang pertama kali pula terkena anak panah.

Kita tentu pernah mendengar sebuah hadits yang mengatakan begini,

bahwa pada suatu kesempatan saat berkumpul dengan para sahabatnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba-tiba mengatakan,

“Sebentar lagi akan muncul seorang penduduk surga,”

lalu kemudian masuklah seorang laki-laki yang membuat para sahabat yang lain merasa kagum.

Ya, laki-laki tersebut adalah Saad bin Abi Waqqash.

Dialah sahabat yang tidak pernah menaruh dengki dan memiliki niat jahat terhadap seorang pun di kalangan kaum Muslimin.

Dialah seorang sahabat yang tetap memperlakukan ibunya dengan kasih sayang meski sang ibu mati-matian menentang ke-Islamannya.

Lalu kenapa Saad bin Abi Waqqash saya sebut sebagai sahabat yang paling cerdas?

Saad adalah salah seorang shabat yang sangat cinta kepada Rasulullah.

Pada suatu ketika, Saad melakukan sesuatu yang menyenangkan hati Rasulullah.

Maka beliau kemudian memanggil Saad dan berkata kepadanya,

“Wahai Saad, mintalah sesuatu! Nanti aku akan memintakannya kepada Allah.”

Jika kita yang mendapat kesempatan seperti ini, maka saya yakin jawaban kita akan berbeda dengan jawaban yang diberikan Saad.

Kita mungkin akan meminta harta atau kekayaan.

Kita mungkin akan meminta dijamin masuk Surga.

Kita mungkin juga akan meminta kehidupan yang tenang dan tenteram,

dan lain sebagainya.

Tapi berbeda dengan sahabat yang satu ini.

Saad radhiallahu ‘anhu hanya meminta kepada Rasulullah agar setiap doa yang keluar dari mulutnya didengar dan dikabulkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala...

Nah, kemampuan mana lagi yang lebih hebat daripada doa yang pasti dikabulkan?

Jawaban apa lagi yang lebih cerdas dari jawaban ini?

Maka Rasulullah pun mendoakan Saad,

“Ya Allah, tepatkanlah bidikan panahnya, dan kabulkanlah doanya.”

Maka sejak doa tersebut dipanjatkan Rasulullah,

Saad telah memiliki dua senjata yang paling ampuh,

yaitu panahnya dan doanya.

***
 
Di dalam perang Uhud, saat keadaan Rasulullah begitu terjepit kala itu,

Rasulullah memberikan anak panahnya kepada Saad seraya berkata,

“Panahlah, wahai Saad. Ibu dan ayahku menjadi jaminan bagimu!”

Ucapan Rasulullah ini menjadi motivasi yang sangat besar bagi Saad.

Karena dalam sejarah Islam,

Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah sekalipun menyediakan ayah dan ibunya sebagai jaminan seseorang,

kecuali kepada Saad bin Abi Waqqash.

Sedangkan tentang keampuhan doa Saad ini banyak riwayat yang menceritakannya.

Suatu ketika, Saad mendengar ada seseorang yang memaki-maki sahabat Nab seperti Ali bin Abi Thalib, Thalhah dan Zubair.

Saad kemudian menegur dan melarang orang tersebut untuk melanjutkan caciannya.

Saad juga mengatakan akan mendoakan orang tersebut kepada Allah.

Akan tetapi orang tersebut tidak menghiraukannya dan justru menantangnya,

“Apakah kamu mau menakut-nakuti saya? Memangnya kamu itu Nabi?!”

Maka Saad kemudian pergi berwudlu dan menunaikan shalat 2 rakaat.

Lalu ia kemudian mengangkat kedua tangannya dan mulai berdoa,

“Ya Allah, jika menurutMu orang ini telah memaki orang yang telah mendapatkan kebaikan dariMu,
dan hal ini mengundang kemurkaanMu,

maka jadikanlah hal itu sebagai pertanda dan pelajaran.”

Tiba-tiba, tidak lama setelah itu, muncul seekor unta liar yang berontak dan mengamuk.

Unta itu kemudian menerjang pencaci tadi, lalu menginjak-injaknya hingga tewas di tempat.

Versi lain yang tersebut di dalam Al-Mustadrak 3/99, diceritakan bahwa lelaki tersebut terlempar dari kudanya. Lalu kepalanya menghantam sesuatu yang keras hingga pecah, dan lelaki itu pun langsung mati.

Ada cerita yang lain lagi tentang ke-mustajab-an doa Saad bin Abi Waqqash ini.

Saat itu dirinya ditunjuk oleh Khalifah Umar bin Khattab sebagai Gubernur di Kufah.

Seseorang yang bernama Usamah bin Qatadah berkomentar tentang dirinya.

Ia berkata kepada orang-orang bahwa Saad adalah orang yang tidak pernah ikut dalam sariyah (peperangan yang Rasulullah tidak ikut di dalamnya),

tidak pernah membagi sama rata dan tidak menetapkan hukum dengan adil.

Mendengar fitnah ini, Saad sangat marah. Lalu ia mengatakan,

“Demi Allah Azza wa Jalla, sesungguhnya aku berdoa akan 3 hal: Ya Allah, jika orang ini berbohong dan ia mengatakan hal tersebut karena riya’,

Maka panjangkanlah umurnya, panjangkanlah kemiskinannya, dan hadapkanlah ia pada fitnah dan cobaan.”

Hingga kemudian doa Saad ini dikabulkan oleh Allah. Usamah bin Qatadah menjadi seorang yang tua, miskin dan buta.

Ketika kemudian ia ditanya tentang keadaannya, ia hanya bisa mengatakan,

“Aku adalah orang tua yang terkena doanya Saad.”

Tuesday, October 4, 2016

Bisakah Mengubah Mindset yang Sudah Terbentuk pada Anak?

Setelah pada postingan sebelumnya kita membahas tentang pentingnya sebuah Mindset serta bagaimana cara membangun mindset yang positif,

maka sebuah pertanyaan lanjutan pun muncul.

Apakah sebuah mindset yang sudah terlanjur tertanam pada alam bawah sadar anak-anak bisa diubah?


parenting, pendidikan karakter, pendidikan anak


Telah kita ketahui bahwa membentuk mindset yang baik pada anak-anak adalah proses yang cukup panjang, yang telah kita mulai – bahkan – sejak sebelum mereka lahir.

Yang kita sebut sebagai proses yang panjang itu adalah informasi yang kita berikan secara intens sehingga ia mengendap dan tersimpan pada alam bawah sadar,

lalu memegang kendali pada perilaku dan sikap anak-anak kita.

Maka bagaimana mungkin kita bisa mengubah sesuatu yang sudah kadung tertanam kuat pada diri mereka?

Jawabannya, bisa!

Namun sebelum kita berbicara tentang bagaimana mengubah mindset anak-anak kita,

akan lebih baik jika kita menelusuri terlebih dahulu bagaimana cara sebuah mindset itu masuk ke dalam pikiran bawah sadar seseorang.

Seperti yang sempat dijelaskan pada postingan sebelumnya, bahwa otak kita memiliki bagian penting yang disebut critical area.

Sesuai namanya, critical area ini berfungsi untuk mengkritisi, menyaring dan memilih informasi mana yang logis dan informasi mana yang tidak logis.

Biasanya, hal-hal yang tidak masuk akal atau bertentangan dengan logika akan ter”razia” di sini.

Informasi yang terjaring critical area selanjutnya ia akan disimpan di dalam pikiran bawah sadar sebagai MEMORI: bahwa pernah ada informasi seperti itu.

Sedangkan informasi yang diterima oleh critical area, ia akan menetap dan disimpan di dalam pikiran bawah sadar sebagai sebuah keyakinan atau kepercayaan.

Inilah yang kita sebut MINDSET.

Nah, kabar lainnya,

meski terbentuknya mindset ini melalui pemeriksaan critical area, namun ada beberapa informasi – yang seharusnya tertolak – justru lolos dari penyaringan.

Dengan beberapa tindakan khusus, hal-hal yang tidak masuk akal bisa dipaksa masuk atau lolos dari filter critical area,

untuk kemudian menjadi mindset di dalam diri seseorang.

Tindakan khusus tersebut bisa dirinci menjadi 4 cara:

1. Pengulangan informasi secara intens


Di antara tindakan-tindakan khusus untuk meloloskan sebuah informasi dari critical area adalah dengan cara memasukkan informasi tersebut secara terus menerus.

Hal-hal yang secara kontinyu diulang-ulang lambat laun akan diterima oleh pikiran seseorang sebagai mindset.

Seorang pendidik, misalnya, tidak sekali-dua kali mengingatkan murid-muridnya agar selalu datang tepat waktu ke sekolah.

Ini adalah salah satu upaya untuk menanamkan mindset positif.

Akibatnya kita menjadi malu saat terlambat datang ke sekolah. Pemikiran bahwa terlambat adalah suatu hal yang salah dan memalukan telah menjadi mindset dalam diri kita.

Sehingga kita selalu berupaya agar tidak datang terlambat.

Alam bawah sadar kita merespon seperti itu karena kalimat-kalimat tersebut terus diulang-ulang oleh pendidik setiap hari.

Begitu puladengan seorang khatib yang selalu menyampaikan perintah-perintah agama di setiap ceramahnya.

Akibat pengulangan kalimat-kalimat positif itulah kita menjadi tergerak untuk berlaku positif juga.

Hal yang sama juga berlaku untuk informasi-informasi yang negatif.

Saat kecil, kita sebenarnya tidak punya rasa takut. Rasa penasaran-lah yang lebih besar.

Namun cerita hantu-hantu yang menyeramkan mulai membuat kita takut saat informasi itu terus menerus diputar di benak kita.

2. Sumber yang kita percaya


Anak-anak kita lebih cenderung percaya dengan ucapan kita - sebagai orangtuanya - daripada ucapan orang lain, meski kita sedang berbohong atau bercanda.

Pendapat dari orangtua, guru ataupun orang lain yang menjadi idola kita lebih mudah diterima dan lebih mudah masuk ke dalam diri kita sebagai mindset.

Hal ini terjadi karena kita menganggap semua ucapan orang-orang yang kita percaya adalah BENAR.

3. Hipnosis


Jika pada poin pertama dijelaskan bahwa proses pembentukan mindset dilakukan dengan “memaksakan” sebuah informasi masuk melalui critical area dengan cara mengulang-ulang informasi tersebut,

maka pada poin kedua dan ketiga ini cara yang dilakukan sebenarnya adalah memasukkan informasi tanpa melalui filter critical area.

Hipnosis didefinisikan sebagai sebuah keadaan dimana alam sadar seseorang dalam kondisi tidak aktif. Pada kondisi ini critical area juga dalam keadaan tidak aktif.

Artinya, ia tidak lagi bisa membedakan mana informasi yang logis dan mana yang tidak.

Akibatnya, semua informasi yang masuk – dalam kondisi ini – mengendap di alam bawah sadar dan menjadi mindset.

Kondisi yang sama juga terjadi pada seorang pasien operasi yang berada di bawah pengaruh obat bius.

Ucapan dokter atau perawat yang berada di dekatnya bisa menjadi sugesti yang membentuk mindsetnya.

4. Kejadian tragis dan luar biasa


Saat kita melihat sebuah kejadian yang tragis, yang menghentak emosi kita,

maka otak akan langsung mengambil sebuah kesimpulan dan menyimpannya di alam bawah sadar kita sehingga terbentuklah mindset.

Misalnya seorang gadis yang dikhianati teman laki-lakinya, bisa jadi terbentuk mindset bahwa semua laki-laki adalah pengkhianat, atau berhubungan dengan sesama perempuan lebih baik daripada dengan seorang laki-laki.

Ini adalah beberapa proses bagaimana sebuah sistem kepercayaan atau mindset terbentuk.

Setelah kita memahami proses-proses tersebut,

maka cara untuk mengubah mindset pada diri seseorang bisa dilakukan dengan menggunakan (atau menggabungkan) prinsip-prinsip di atas.

Afirmasi


Afirmasi berarti peng-ikrar-an. Yaitu tindakan mengikrarkan sebuah kalimat positif dengan tujuan untuk membentuk mindset positif.

Saya jadi teringat sebuah film animasi besutan Disney-Pixar, CARS.

Di dalam film tersebut, tokoh utama yang digambarkan sebagai mobil balap, setiap kali akan memulai perlombaannya, selalu mengikrarkan kalimat-kalimat pendek yang positif.

“Aku hebat...”, “Aku secepat kilat...”, “Aku pemenang!”

Ini adalah salah satu bentuk afirmasi.

Kalimat-kalimat positif tersebut harus diucapkan dengan penuh penekanan.Tujuannya agar ia tertanam ke dalam pikiran bawah sadar sebagai mindset,

yang kemudian mampu mengontrol gerak fisik dan tindakan kita.

Pada anak-anak kita, kita bisa merubah kalimatnya menjadi,

“Kakak adalah anak yang penuh semangat...”, “Kamu adalah anak yang percaya diri...”, “Saat bangun nanti, kamu akan ceria sekali...”, dan sebagainya.

Dengan kita melakukannya berulang-ulang – setiap hari - maka lambat laun kalimat-kalimat tersebut akan menjadi sebuah keyakinan pada diri anak.

Dan karena kita adalah sosok orangtua yang dipercaya dan menjadi idola anak-anak kita, maka tanpa sadar kita sudah menggabungkan dua metode pembentukan mindset yang telah ditulis di atas,

yaitu Pengulangan dan Sumber yang dipercaya.

Lalu jika kemudian kita melakukannya pada anak di waktu-waktu yang tepat (biasanya saat anak-anak menjelang terlelap atau sesaat setelah bangun pagi),

kita mungkin telah menggabungkan ketiga metode sekaligus: Pengulangan, Sumber yang dipercaya dan Hipnosis.

Hal ini terjadi karena pada waktu-waktu tersebut otak manusia berada pada gelombang alfa,

yaitu keadaan dimana seseorang berada dalam kondisi antara sadar dan tidak.

Pada kondisi inilahsebuah mindset lebih mudah masuk ke dalam pikiran bawah sadar.

(Barangkali inilah sebabnya kenapa beberapa pengajian agama dimulai sekitar pukul 9 atau 10 malam. Hal ini dimaksudkan agar materi lebih mudah masuk dan tersimpan sebagai mindset karena pada jam-jam tersebut biasanya orang sudah mulai mengantuk.)

Lalu bagaimana kalimat yang baik untuk ber-afirmasi?


Karena tujuannya adalah untuk membentuk cara berpikir positif, maka kalimat-kalimat yang ditekankan adalah kalimat-kalimat positif juga.

Sebaiknya kita menghindari menggunakan kalimat-kalimat yang mengandung kata “tidak”, “jangan”, dst.

Jika kita seorang muslim, maka doa-doa harian itulah sesungguhnya kalimat afirmasi yang paling ampuh.

Terakhir, sebagai penutup postingan kali ini,

selain dengan ucapan-ucapan positif, afirmasi bisa dilakukan dengan cara mengubah ucapan-ucapan positif tersebut menjadi sebuahgambar.

Metode afirmasi dengan membayangkan ini juga memiliki aturan yang sama dengan afirmasi dengan pengucapan,

yaitu penggambaran yang dilakukan haruslah diupayakan se-rinci dan se-detil mungkin. Seperti mimik wajah, gerakan tangan, emosi yang terlibat di dalamnya, dan sebagainya.

Wednesday, September 28, 2016

Bagaimana Mindset Mengubah Kehidupan Anak-anak Kita?

parenting, pendidikan karakter, pendidikan anak


Saya masih ingat ketika 15 tahun yang lalu salah seorang ustadz kami mengutip sebuah quote yang berbunyi begini,

“Cara anda berpikir mempengaruhi cara anda berbuat. Dan cara anda berbuat mempengaruhi bagaimana orang lain menilai anda.”

Maksud dari kalimat di atas adalah bahwa cara berpikir yang kita bangun memiliki pengaruh besar terhadap hubungan kita dengan orang lain.

Dan jika cara berpikir ini mempengaruhi cara kita berperilaku,

maka tentu saja, hal ini juga akan berpengaruh pada kehidupan kita, secara pribadi.

Jadi inti dari kalimat di atas adalah,

membentuk cara berpikir alias mindset adalah hal pertama yang harus kita tempa pada diri anak-anak kita, sebelum kita menyiapkan hal-hal lainnya untuk kehidupan mereka nanti.

Bahkan di dalam sebuah bisnis, mindset ini ternyata memegang peranan yang sangat penting.

Ia bisa menjadi penyebab bisnis tersebut akan pesat berkembang atau tumbang terjengkang.

Mindset beda, hasil beda!


Ada sebuah cerita lama yang cukup inspiratif, yang mungkin anda sudah pernah membacanya.

Cerita ini menggambarkan bagaimana mindset yang berbeda bisa membuat perbedaan besar di dalam kehidupan seseorang.

Ada 2 orang bersaudara yang merupakan anak dari seorang pengusaha besar.

Karena usia yang sudah cukup matang, kedua bersaudara ini ingin membuka usaha mereka sendiri.

Keduanya lalu menemui sang ayah untuk meminta persetujuan atas keinginan mereka tersebut.

Sang ayah rupanya sangat setuju dengan keinginan kedua putranya. Bahkan sang ayah memberikan pesan kepada mereka. Sebuah pesan yang sama, namun akan memberikan dampak berbeda bagi keduanya.

Pesan dari sang ayah berisi 2 hal yang cukup singkat,

yaitu “jangan pernah menagih hutang” dan “jangan sampai terkena sinar matahari”.

Maka dengan berbekal dua hal ini, keduanya pun memulai perjalanan mereka sebagai seorang pengusaha.

Singkat cerita, beberapa tahun kemudian mulailah tampak perbedaan diantara bisnis keduanya.

Bisnis yang dirintis oleh saudara yang satu menjadi lebih maju, lebih besar dan berkembang dengan sangat bagus.

Sedangkan usaha yang dimiliki oleh saudara yang satunya lagi terus mengalami penurunan, bahkan sudah diambang kebangkrutan.

Karena penasaran, maka saudara yang bangkrut ini pun menemui saudaranya dengan maksud mempertanyakan kenapa usahanya gagal padahal ia telah mengikuti pesan sang ayah?

Akhirnya diketahui bahwa penyebab kegagalan bisnis yang satu dan keberhasilan usaha yang lain adalah karena perbedaan keduanya di dalam mengartikan pesan tersebut.

Pesan “jangan pernah menagih hutang”, diartikan oleh saudara yang satu agar sama sekali tidak menagih hutang kepada orang yang berhutang kepadanya.

Sehingga meski orang tersebut lupa atau memang sengaja tidak membayar hutangnya, saudara yang satu ini tidak pernah mempersoalkannya.

Sedangkan saudara yang satunya lagi mengartikan pesan tersebut dengan cara menerapkan penjualan hanya secara cash, sehingga tidak ada transakasi hutang-piutang.

Perputaran uang lancar. Modal pun aman.

Sedang pada bisnis yang satunya, jelas, karena piutangnya ada di mana-mana, cash flow tersendat. Modal pun sedkit demi sedikit terkikis.

Sedangkan pesan “jangan terkena sinar matahari”diartikan saudara yang satunya agar menjaga kulitnya dari terkena sinar matahari.

Maka sejak awal ia sudah membeli sebuah mobil baru agar saat berangkat dan pulang dari kantornya ia tidak terkena sinar matahari.

Ada pengeluaran besar saat belum ada profit. Aliran uang yang tidak lancar ditambah beban perawatan untuk kendaraan menyebabkan usahanya gulung tikar.

Tapi tidak bagi saudara yang satunya lagi.

Karena hanya berbekal motor yang ia punya, maka ia pun berangkat lebih pagi – sebelum matahari terbit - dan pulang lebih malam, setelah matahari terbenam.

Dengan jam kerja yang jauh lebih lama, maka produktifitas usahanya pun jauh lebih baik.

Nah, ini adalah salah satu ilustrasi betapa pentingnya “cara kerja” mindset ini.

Mindset tidak bisa dijiplak!


Masih contoh dari dunia bisnis,

ada sebuah metode sederhana yang bisa kita terapkan saat akan memulai sebuah usaha.

Metode tersebut oleh teman-teman entrepreneur biasa disingkat dengan ATM. Yaitu Amati, Tiru dan Modifikasi.

Dengan mengamati usaha orang lain, kita akan punya gambaran besar tentang usaha yang akan kita jalankan.

Kita bisa punya gambaran detil tentang hal-hal apa saja yang dibutuhkan, kelebihan dan kelemahannya, termasuk juga kalkulasi modal yang dibutuhkan.

Selanjutnya kita tinggal menerapkan (baca: meniru) hal-hal tersebut pada usaha yang kita jalankan.

Dan dengan beberapa modifikasi yang kreatif, usaha kita bisa menjadi lebih baik daripada usaha orang lain tersebut.

Sepintas cara ini sangat efektif untuk mendongkrak omset bisnis kita.

Secara logika, usaha yang kita jalankan jelas lebih baik daripada usaha orang yang kita tiru.

Namun, tahukah kita bahwa hal ini tidak pernah menjamin bahwa bisnis kita akan lebih berhasil daripada usaha orang lain.

Masalahnya adalah, yang bisa kita contek hanyalah hal-hal yang bersifat fisik dan bisa dipelajari.

Misalnya teknik pembuatan produk, mencari tempat kulakan, strategi pemasaran, cara kerja tim, cara berkomunikasi dengan customer, dan hal-hal lainnya yang kita sebut “bersifat fisik”.

Namun ada satu hal lagi - yang sangat penting - yang tidak bisa dicontek secara langsung.

Yaitu MINDSET.

Bahkan ada yang mengatakan bahwa mindset tidak bisa dipelajari, karena ia terbentuk di alam bawah sadar kita.

Inilah yang menjadikan bagaimana dua orang yang melakukan hal yang sama bisa mendapatkan hasil yang berbeda.

Sejalan dengan kutipan di atas, maka “Beda mindset berarti beda pengelolaan. Beda pengelolaan berarti berbeda pula yang akan dihasilkan”.

Akan tetapi, meski tadi disebutkan bahwa mindset tidak bisa dipelajari (karena sudah kadung terbentuk pada alam bawah sadar kita),

namun ada cara-cara tertentu yang bisa dilakukan untuk mengubah mindset tersebut.

Mengubah dari cara berpikir lama ke sistem pola pikir yang baru.


Bangun mindset anak kita!


Mindset adalah bagaimana kita berpikir dan bagaimana kita bertindak.

Mindset adalah penggabungan dari sekumpulan harapan, pendapat, kebiasaan, keputusan dan keyakinan.

Mindset itu adalah Thomas Alva Edison ketika berusaha menciptakan sebuah lampu pijar.

Artinya, mindset bukanlah sesuatu yang tiba-tiba ada. Ia terbentuk pada diri seseorang semenjak kecil.

Bahkan, sejak sebelum orang tersebut lahir.

Lalu bagaimana cara membentuk mindset ini?

Ada tahapan-tahapan pembentukan pola pikir pada diri anak, berdasarkan usia mereka.

Secara garis besarnya, ada 3 tahap yang akan dilalui.

1. Pembentukan pada masa kehamilan


Dikatakan bahwa memori janin telah terbentuk utuh saat usia kandungan telah mencapai 3 bulan.

Maka tahapan pembentukan pola pikir yang bisa dilakukan pada masa ini adalah menjaga emosi sang ibu agar tetap stabil.

Banyak kasus-kasus yangtidak diinginkan terjadi disebabkan karena gangguan emosi sang ibu, yang hal tersebut akan berdampak langsung terhadap janin.

Selain itu, hal lainnya yang bisa dilakukan adalah memberikan rangsangan pendidikan.

Bisa dengan cara memperdengarkan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an, hafalan surat-surat pendek, dasar-dasar bahasa, sentuhan fisik, dan sebagainya.

2. Pembentukan pada masa bayi


Pada masa ini pikiran sadar pada bayi belum terbentuk, sehingga rangsangan dari luar tidak terlalu berpengaruh.

Akan tetapi semua rangsangan-rangsangan tersebut akan disimpan di alam pikiran bawah sadar.

Dalam hal ini yang akan terbentuk pada pikiran sang bayi adalah KEPERCAYAAN.

Maka dengan menerima anak apa adanya dan tidak menuntut berlebihan kepadanya, serta tetap menjalin komunikasi yang hangat dan tetap mendoakannya adalah hal-hal yang bisa dilakukan untuk membentuk mindset positifnya.

3. Pembentukan pada masa kanak-kanak


Para psikolog menyebut masa ini adalah masa tanam.

Pada masa ini transfer pola pikir positif dari orangtua ke anak biasanya mulai mendapat penolakan. Hal ini terjadi karena pada masa anak-anak mulai terbentuk filter mental mereka.

Sebagaimana diketahui ada salah satu bagian otak yang kita sebut critical area.

Setiap informasi yang masuk akan disaring di bagian ini. Jika informasi dianggap tidak masuk akal, maka critical area akan menolaknya.

Meski tertolak, informasi ini akan tetap tersimpan di alam bawah sadar. Bukan sebagai mindset, akan tetapi hanya sekedar memori bawah sadar.

Namun pada beberapa perlakuan, informasi yang seharusnya difilter oleh critical area bisa saja “lolos” dan menetap pada alam bawah sadar menjadi mindset.

Hal ini bisa terjadi pada kasus hipnotis, trauma, atau pada suatu hal yang diulang terus menerus.

Untuk meminimalisir penolakan-penolakan tersebut, maka penanaman cara berpikir yang positif ini harus dilakukan dalam keadaan yang menyenangkan.

Bisa melalui hobi dan kesukaan mereka, cerita-cerita imajinatif yang menginspirasi serta diskusi-diskusi ringan di dalam keluarga.

Rewarding and punisment (hadiah dan hukuman) juga mulai bisa diterapkan dalam kadar ringan untuk membentuk kebiasaan baik dalam keluarga.